Skip to content
Nasional

BGN Suspend SPPG di Semarang usai 707 Orang Diduga Keracunan MBG

Patricia Miller - wartanaya.com 3 mins read

Badan Gizi Nasional (BGN) resmi melakukan suspend terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Semarang setelah menerima laporan mengenai ratusan kasus

BGN Suspend SPPG di Semarang usai 707 Orang Diduga Keracunan MBG

BGN Suspend SPPG di Semarang Usai 707 Orang Terindikasi Keracunan MBG

Wartanaya.com – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi melakukan suspend terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Semarang setelah menerima laporan mengenai ratusan kasus keracunan. Keputusan suspend ini diambil menyusul temuan bahwa sebanyak 707 orang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden besar ini terjadi pada Jumat (31/7) ketika program MBG dibagikan secara serentak di berbagai sekolah di Kota Semarang. BGN Suspend SPPG di Semarang menjadi langkah preventif untuk memastikan keamanan pangan sebelum program berjalan kembali.

Kepala BGN, Sudaryono, segera melakukan kunjungan langsung ke para korban pada Sabtu (1/8) di Kota Semarang. Dari total 707 orang yang terdampak, sebanyak 693 orang merupakan siswa dan 14 orang adalah guru. Sebagian besar korban melaporkan keluhan berupa pusing, mual, hingga muntah setelah memakan hidangan MBG. Beberapa korban dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut, sementara yang lain mendapatkan penanganan medis sesuai tingkat keparahan kondisi masing-masing.

Proses Investigasi Mendalam Dimulai

Sudaryono menjelaskan bahwa tim investigasi masih terus bekerja keras untuk menggali akar masalah dari kejadian ini. Langkah ini diambil guna memastikan sumber permasalahan sekaligus mencegah kemunculan kasus serupa di masa depan. Tim investigasi terdiri dari berbagai pihak terkait termasuk petugas kesehatan dan ahli keamanan pangan.

“Tim investigasi masih bekerja untuk mendalami kasus ini. Kami ingin memastikan penyebabnya berdasarkan hasil pemeriksaan yang komprehensif,” ujar Sudaryono dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (2/8).

Sejauh ini, penyebab pasti masih menunggu hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi. Pemerintah bersama instansi terkait terus melakukan penanganan terhadap para korban sekaligus mengusut penyebab insiden tersebut agar Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan dengan mengutamakan aspek keamanan pangan. BGN Suspend SPPG di Semarang merupakan bagian dari upaya transparansi dan akuntabilitas program.

Kebijakan Zero Tolerance untuk Keamanan Pangan

Ia menegaskan bahwa BGN tidak akan mentoleransi adanya kelalaian dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Jika hasil investigasi menemukan adanya pelanggaran atau kelalaian dari SPPG, maka tindakan tegas akan segera diambil. Kebijakan ini menunjukkan komitmen kuat BGN terhadap kualitas layanan gizi nasional.

“Kami akan lakukan suspend terhadap SPPG yang terkait sambil menunggu hasil evaluasi dan tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Sudaryono juga menegaskan komitmennya untuk menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap insiden keamanan pangan maupun praktik penyimpangan dalam pelaksanaan MBG. Seluruh SPPG wajib mematuhi standar operasional prosedur (SOP) secara ketat guna mencegah terulangnya insiden keamanan pangan dalam pelaksanaan program. Langkah ini juga mencakup peningkatan pengawasan dan audit rutin.

“Saya sebagai Kepala Badan Gizi yang baru ini memastikan itu, zero tolerance terhadap keracunan, zero tolerance terhadap tindak pidana korupsi dan hanky panky, nitip-nitip duit itu nggak boleh lagi,” ujarnya.

Menurut Sudaryono, kepatuhan terhadap SOP dan sistem pengelolaan dapur merupakan kunci untuk menjamin keamanan makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat. Ia menekankan bahwa kepala dapur memiliki tanggung jawab penuh dalam memastikan seluruh prosedur dijalankan dengan disiplin. Hal ini termasuk pengawasan terhadap seluruh rantai pasok makanan dari procurement hingga penyajian.

“Saya paham Anda punya chef, Anda punya pengawas gizi, Anda punya orang-orang yang kerja di situ, barangkali mungkin ada 1-2 yang ada yang ngeyel-lah. Ya harus ada leadership di situ,” ucapnya.

Sudaryono mengatakan, kepala SPPG harus bertindak tegas terhadap petugas yang tidak mematuhi prosedur kebersihan dan keamanan pangan, seperti tidak mencuci tangan, tidak menggunakan sarung tangan, atau tidak mengenakan masker saat mengolah makanan. Tindakan disipliner akan diberikan kepada petugas yang melanggar prosedur secara berulang.

“Kalau misalnya ada di antara pegawai di dapur itu yang barangkali mungkin susah dikasih tahu untuk cuci tangan-lah, atau memakai SOP harus pakai sarung tangan, pakai masker, ya harus dikeluarkan, harus tegas ini! Karena nyawa, kesehatan dan nyawa seseorang itu sangat berarti. Nggak boleh lagi,” tegas Mas Dar.

Dengan suspend yang dilakukan, BGN berharap dapat memberikan waktu bagi SPPG Semarang untuk melakukan perbaikan menyeluruh. Program MBG diharapkan dapat kembali berjalan dengan aman dan efektif setelah semua perbaikan dilakukan sesuai rekomendasi tim investigasi.

Join the discussion