Skip to content
Ekonomi Sirkular

Riset ICCT: Emisi Transportasi Darat di Indonesia Renggut 1 Nyawa Tiap 12 Menit

Lisa Davis - wartanaya.com 3 mins read

Riset ICCT terbaru mengungkap fakta mengejutkan tentang dampak polusi udara dari transportasi darat di Indonesia. The International Council on Clean

Riset ICCT: Emisi Transportasi Darat di Indonesia Renggut 1 Nyawa Tiap 12 Menit

Riset ICCT: Emisi Transportasi Darat Indonesia Renggut 1 Nyawa/12 Menit

Wartanaya.com – Riset ICCT terbaru mengungkap fakta mengejutkan tentang dampak polusi udara dari transportasi darat di Indonesia. The International Council on Clean Transportation (ICCT) dalam studinya yang berjudul “Health benefits of zero-emission transport through 2050” mencatat bahwa setiap 12 menit, satu nyawa melayang akibat emisi kendaraan bermotor. Selain itu, satu kasus asma baru pada anak juga tercatat setiap 26 menit. Angka-angka ini menunjukkan betapa seriusnya masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh polusi transportasi.

Jumlah total kematian dini yang diprediksi terjadi pada tahun 2024 mencapai 44.700 orang. Sementara itu, angka kasus asma anak baru mencapai 19.800 kasus. Josh Miller, Direktur Senior ICCT dan penulis utama studi tersebut, menjelaskan bahwa tekanan terhadap kesehatan semakin meningkat. Faktor-faktor seperti pertumbuhan populasi, penuaan penduduk, dan penambahan armada kendaraan menjadi penyebab utamanya. Kondisi ini semakin diperparah oleh urbanisasi yang cepat di berbagai kota besar Indonesia.

Polutan Utama dan Sumber Emisi Kendaraan

Dampak kesehatan tersebut ditimbulkan oleh tiga jenis polutan utama, yaitu ozon (O3), nitrogen dioksida (NOx), dan partikel udara ultra-halus PM2.5. Transportasi darat secara global telah menyumbang paparan PM2.5 sebesar 2,4µg/m³. Angka ini hampir mendekati setengah dari batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia, yakni 5µg/m³. Ketika ketiga polutan tersebut masuk ke dalam tubuh manusia, risiko penyakit dan gangguan pernapasan akan meningkat secara signifikan.

Menariknya, kendaraan berat menjadi kontributor emisi terbesar. Meskipun hanya mewakili sekitar 2% dari seluruh armada transportasi darat di Indonesia, kendaraan berat menyumbang lebih dari separuh total emisi NOx dan PM2.5. Sebaliknya, kendaraan ringan lebih dominan dalam menghasilkan emisi karbon monoksida (CO) serta senyawa organik yang mudah menguap (VOC). Kendaraan diesel, khususnya truk dan bus, menjadi penyumbang utama polusi di perkotaan.

Proyeksi Masa Depan dengan Elektrifikasi

Lingzhi Jin, peneliti ICCT dan penulis studi, menekankan perlunya kebijakan yang tepat untuk mendorong adopsi kendaraan nol emisi. Ia menyebutkan bahwa dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, Indonesia dapat mengurangi 150.000 kasus asma anak dan 800.000 kematian dini pada tahun 2050. Secara global, angka pengurangan kematian dini bisa mencapai lebih dari 8 juta orang. Langkah ini memerlukan investasi besar dalam infrastruktur pengisian daya dan produksi kendaraan listrik.

Skenario ambisius ini mensyaratkan kendaraan nol emisi mencakup 100% penjualan kendaraan pada tahun 2045. Pendekatan ini dinilai mampu menurunkan beban kesehatan secara signifikan di berbagai negara, terlepas dari tingkat pendapatan mereka. Pemerintah perlu memberikan insentif fiskal dan non-fiskal untuk mempercepat transisi menuju transportasi berkelanjutan.

Namun, proyeksi berbeda terlihat jika mengikuti kebijakan saat ini. Negara berpenghasilan tinggi diperkirakan mengalami penurunan 48% kematian dini akibat emisi transportasi darat pada 2050. Sebaliknya, negara berpenghasilan menengah ke atas masih menghadapi peningkatan kematian dini lebih dari 50%. Sementara itu, negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah berpotensi mengalami lonjakan lebih dari 200%.

“Pengendalian emisi perlu dilakukan secara terpadu melalui kebijakan transportasi, energi, dan pemantauan kualitas udara,” ujar Budi Haryanto, akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Budi Haryanto menambahkan bahwa polusi udara tetap menjadi faktor risiko utama bagi peningkatan beban penyakit, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mewujudkan kualitas udara yang lebih baik di masa depan. Indonesia perlu memperkuat regulasi emisi kendaraan untuk mencapai target kesehatan masyarakat yang lebih baik.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Riset ICCT

Apa itu Riset ICCT? Riset ICCT adalah penelitian dari The International Council on Clean Transportation yang menganalisis dampak emisi transportasi terhadap kesehatan masyarakat global, termasuk Indonesia.

Berapa banyak kematian dini akibat emisi transportasi di Indonesia? Menurut riset ICCT, terdapat 44.700 kematian dini yang diprediksi terjadi pada tahun 2024 di Indonesia akibat emisi kendaraan bermotor.

Bagaimana elektrifikasi kendaraan dapat membantu? Dengan elektrifikasi yang ambisius, Indonesia dapat mengurangi 150.000 kasus asma anak dan 800.000 kematian dini pada tahun 2050.

Apa polutan utama dari transportasi darat? Tiga polutan utama adalah ozon (O3), nitrogen dioksida (NOx), dan partikel udara ultra-halus PM2.5 yang berbahaya bagi kesehatan pernapasan.

Kapan target kendaraan nol emisi di Indonesia? Skenario ambisius mensyaratkan kendaraan nol emisi mencakup 100% penjualan kendaraan pada tahun 2045 untuk mencapai manfaat kesehatan maksimal.

Join the discussion