Skip to content
Bursa

Manuver PGEO Kejar Target Kapasitas 1 GW pada 2028, Laba Naik 15,4% Semester I

Patricia Thomas - wartanaya.com 4 mins read

Manuver PGEO Kejar Target Kapasitas 1 GW menjadi fokus utama strategi jangka panjang PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. Perusahaan energi panas bumi ini

Manuver PGEO Kejar Target Kapasitas 1 GW pada 2028, Laba Naik 15,4% Semester I

Manuver PGEO Kejar Target Kapasitas 1 GW pada 2028

Wartanaya.com – Manuver PGEO Kejar Target Kapasitas 1 GW menjadi fokus utama strategi jangka panjang PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. Perusahaan energi panas bumi ini menargetkan pencapaian kapasitas pembangkit sebesar 1 gigawatt (GW) pada tahun 2028. Langkah ini merupakan fondasi awal menuju ambisi lebih besar, yaitu mencapai kapasitas terpasang melebihi 3 GW, yang selaras dengan potensi sumber daya geotermal yang dimilikinya.

Dari sisi kinerja keuangan, PGEO mencatatkan pendapatan sebesar US$ 235,03 juta atau setara Rp 4,2 triliun selama semester pertama. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 14,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 204,8 juta. Sebagian besar pendapatan tersebut bersumber dari penjualan listrik dan uap kepada PT PLN Indonesia Power serta PT PLN (Persero) di berbagai wilayah operasi.

Komposisi pendapatan per plant menunjukkan Kamojang sebagai penyumbang terbesar dengan nilai US$ 44,15 juta. Disusul oleh Lumut Balai sebesar US$ 41,11 juta, Ulubelu US$ 36,31 juta, serta Kamojang untuk penjualan uap US$ 34,72 juta. Lahendong menyumbang US$ 22,16 juta untuk listrik dan US$ 18,46 juta untuk uap, sementara Karaha memberikan kontribusi US$ 5,92 juta. Selain itu, PGEO juga menerima production allowances senilai US$ 9,3 juta.

Seiring dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih perseroan juga mengalami peningkatan. PGEO membukukan laba bersih US$ 79,62 juta, naik 15,47% dari US$ 68,95 juta pada tahun sebelumnya.

Visi Jangka Panjang dan Target Produksi

Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menyatakan bahwa capaian semester pertama menjadi landasan kuat bagi perusahaan untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya. Ia menekankan bahwa PGEO memiliki sumber daya panas bumi lebih dari 3 GW, menjadikannya salah satu portofolio terbesar di dunia saat ini.

“Prioritas kami adalah mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas pembangkit yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Ahmad Yani dalam keterangan resmi, Rabu (5/8).

Menurutnya, roadmap PGEO mencakup target kapasitas terpasang 1 GW pada 2028, kemudian meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033. Tujuan akhir adalah menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kapasitas panas bumi terbesar di dunia.

Untuk tahun 2026, PGEO menargetkan produksi listrik dan uap terkonsolidasi sebesar 5.255 gigawatt hour (GWh), yang berarti pertumbuhan sekitar 3,14% dari tahun sebelumnya. Target ini berpotensi menjadi rekor produksi tertinggi perusahaan, didukung oleh kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 serta berbagai program peningkatan keandalan pembangkit.

Produksi listrik PGEO pada paruh pertama 2026 mencapai 2.745 GWh, tumbuh 13,62% dibandingkan 2.416 GWh pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini ditopang oleh hampir seluruh wilayah operasi, termasuk Kamojang, Ulubelu, Lahendong, dan Karaha, serta kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juni 2025.

Indikator Operasional dan Ekspansi Masa Depan

PGEO mencatatkan availability factor sebesar 99,71%, capacity factor 90,42%, serta unplanned outage rate yang rendah di level 0,11%. Tingkat capacity factor tersebut jauh di atas rata-rata perusahaan panas bumi global yang umumnya berada di kisaran 75% hingga 80%.

Produksi Lumut Balai Unit 1 dan 2 bahkan melonjak 108,2% secara tahunan berkat beroperasinya Unit 2 secara penuh dan meningkatnya permintaan listrik. Saat ini, PGEO mengelola 15 wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang 1.932 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, 727 MW dioperasikan langsung oleh PGEO, sedangkan 1.205 MW dikelola melalui skema kontrak operasi bersama.

Peluang ekspansi semakin terbuka setelah pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit panas bumi sebesar 5,2 GW. Sejalan dengan itu, tiga proyek strategis PGEO, yakni PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta Lahendong Unit 7 dan 8 (50 MW) telah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas sehingga berpeluang memperoleh akses pendanaan internasional.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, menjelaskan bahwa fokus perseroan saat ini adalah memastikan seluruh proyek memiliki kesiapan dari sisi komersial, teknis, pendanaan hingga eksekusi. “Dengan portofolio sumber daya yang besar, pipeline proyek yang matang, dan eksekusi yang disiplin, PGE optimistis mencapai target pertumbuhan kapasitas,” ujar dia.

Frequently Asked Questions

Berapa target kapasitas PGEO pada tahun 2028? PGEO menargetkan pencapaian kapasitas pembangkit sebesar 1 gigawatt (GW) pada tahun 2028 sebagai bagian dari Manuver PGEO Kejar Target Kapasitas 1 GW.

Berapa pertumbuhan laba bersih PGEO di semester pertama? Laba bersih PGEO tumbuh 15,47% menjadi US$ 79,62 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 68,95 juta.

Bagaimana dengan target kapasitas jangka panjang PGEO? Setelah mencapai 1 GW pada 2028, PGEO menargetkan peningkatan menjadi 1,8 GW pada 2033 dengan potensi sumber daya lebih dari 3 GW.

Proyek apa saja yang masuk Green Book 2026? Tiga proyek strategis PGEO masuk Green Book 2026, yaitu PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), Lumut Balai Unit 4 (55 MW), dan Lahendong Unit 7 dan 8 (50 MW).

Join the discussion