Latest Program: BI: Pelemahan Rupiah Tak Cerminkan Fundamental Ekonomi Indonesia
Latest Program: BI Mengklaim Pelemahan Rupiah Tidak Mencerminkan Fundamental Ekonomi Indonesia Latest Program - Dalam rangka menegaskan stabilitas ekonomi
Latest Program: BI Mengklaim Pelemahan Rupiah Tidak Mencerminkan Fundamental Ekonomi Indonesia
Latest Program – Dalam rangka menegaskan stabilitas ekonomi, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini lebih dipengaruhi oleh faktor global, bukan oleh kondisi ekonomi dalam negeri yang lemah. Dalam wawancara terbaru, Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, menyatakan bahwa “Latest Program” yang dijalankan pihaknya telah membantu memperkuat fondasi ekonomi Indonesia, meski tekanan dari pasar masih terasa.
Peringkat Kredit S&P Global Ratings
Keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada kategori BBB dengan prospek stabil menjadi bukti bahwa ekonomi nasional tetap sehat. Destry menegaskan bahwa “Latest Program” Bank Indonesia telah berdampak positif pada kepercayaan investor, yang sekarang lebih optimis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Fundamental ekonomi kita sebenarnya baik. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, sejumlah besar negara masih mampu tumbuh di atas 5% sambil menjaga inflasi yang terkendali,”
katanya dalam forum investasi CMBC, Rabu (15/7). Selain itu, BI juga menekankan bahwa peringkat tersebut mencerminkan konsistensi kebijakan moneter yang dipandu oleh “Latest Program” mereka, yang fokus pada pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Kondisi Ekonomi Domestik
Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus mencatatkan angka di atas 5% sepanjang tahun ini, dengan inflasi yang terjaga dalam kisaran terkendali. Destry menjelaskan bahwa kondisi ini mengindikasikan bahwa ekonomi dalam negeri tidak sedang mengalami perlambatan, dan cadangan devisa mencapai 5,8 hingga 5,9 bulan impor, jauh di atas standar internasional.
Hasil tersebut didukung oleh “Latest Program” BI dalam menjaga likuiditas pasar dan menstabilkan nilai tukar. Dengan pengaturan suku bunga serta kebijakan makroprudensial yang akomodatif, BI berhasil memperkuat struktur perekonomian nasional, sehingga tidak terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar.
Penyebab Tekanan Terhadap Rupiah
Meski rupiah mengalami tekanan akibat permintaan aset dolar AS yang meningkat, Destry menjelaskan bahwa penyebab utamanya adalah ketidakpastian global, bukan pelemahan ekonomi Indonesia sendiri. “Latest Program” BI diklaim tidak menyebabkan ketidakstabilan ekonomi, karena kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan.
“Fundamental kita sebenarnya tidak terlalu sejalan dengan tekanan yang terjadi. Yang lebih berpengaruh adalah persepsi, kepercayaan, dan kenyamanan pasar yang dipengaruhi oleh situasi global. Saat indeks dolar menguat, investor cenderung memegang dolar atau aset lain di luar negeri,”
ujarnya. Destry menambahkan bahwa “Latest Program” BI juga memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia terhadap gangguan eksternal.
Langkah Kebijakan BI untuk Stabilitas Nilai Tukar
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 100 basis poin sejak Mei hingga Juni, sehingga tingkat suku bunga saat ini mencapai 5,75%. Kebijakan ini merupakan bagian dari “Latest Program” BI untuk mengurangi volatilitas rupiah dan menciptakan stabilitas, yang menjadi syarat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Mandat kami adalah menjaga stabilitas, khususnya nilai tukar. Jika volatilitas rupiah bisa dikelola dengan baik, dampaknya akan positif terhadap perekonomian secara keseluruhan,”
ujarnya. Selain itu, BI juga melanjutkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga, sekaligus memperkuat “Latest Program” dalam mendukung sektor-sektor prioritas.
Peran Mata Uang Lokal dalam Transaksi Ekspor-Impor
BI terus memperluas penggunaan Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Destry menyoroti bahwa transaksi menggunakan mata uang lokal dengan mitra dagang, khususnya Tiongkok dan Jepang, semakin meningkat, yang menjadi bagian dari “Latest Program” untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang.
Pada Mei 2026, nilai transaksi dengan Tiongkok melalui skema LCT telah mencapai sekitar US$ 9 miliar. Selain itu, BI juga menyediakan fasilitas transaksi spot yuan dan yen terhadap rupiah di pasar domestik, sehingga pelaku usaha tidak perlu bergantung pada dolar AS untuk keperluan valuta asing.
“Kalau itu bisa dioptimalkan dengan menggunakan mekanisme transaksi mata uang lokal, tentu permintaan dolar akan berkurang,”
ujarnya. Dengan “Latest Program” yang berfokus pada penggunaan mata uang lokal, BI optimis bahwa rupiah dapat stabil tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
