Skip to content
Keuangan

BI Tawarkan Insentif untuk Genjot Penyaluran Kredit Bank

Matthew Smith - wartanaya.com 3 mins read

Upaya Bank Indonesia (BI) dalam mendorong perbankan agar lebih agresif menyalurkan kredit semakin kuat dengan kehadiran insentif Kelonggaran Likuiditas

BI Tawarkan Insentif untuk Genjot Penyaluran Kredit Bank

Bank Indonesia Perkenalkan Skema Baru Insentif untuk Mempercepat Penyaluran Kredit

Wartanaya.com – Upaya Bank Indonesia (BI) dalam mendorong perbankan agar lebih agresif menyalurkan kredit semakin kuat dengan kehadiran insentif Kelonggaran Likuiditas Moneter (KLM). Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan mendukung laju pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga mengembalikan peran fundamental perbankan sebagai lembaga intermediasi yang efektif.

Destry Damayanti, Pejabat Gubernur Sementara (PGS) BI, menjelaskan bahwa melalui berbagai kebijakan makroprudensial, bank sentral terus mendorong institusi perbankan untuk meningkatkan volume penyaluran kredit kepada masyarakat. Salah satu instrumen utamanya adalah pengurangan ketentuan penempatan Giro Wajib Minimum (GWM).

“Kami mengurangi ketentuan penempatan Giro Wajib Minimum (GWM) kepada perbankan yang menyalurkan pendanaan kepada sektor-sektor ekonomi prioritas dan usaha mikro kecil menengah (UMKM),” ujar Destry dalam sambutannya di pertemuan dengan redaktur media massa di Parapat, Sumatra Utara, Jumat (31/7).

Lebih lanjut, BI menginstruksikan perbankan untuk mengurangi penempatan dana di surat-surat berharga. Bank seharusnya berfungsi sebagai lembaga intermediasi, bukan sekadar menimbun likuiditas. Dana pihak ketiga yang dikumpulkan harus dialirkan menjadi kredit. Insentif ini resmi berlaku mulai 1 September 2026.

Proses Mudah Mendapatkan Insentif

Hosiana E. Situmorang, ekonom PT Bank Danamon Tbk, menilai bahwa perbankan yang gencar menyalurkan kredit dengan mudah bisa mendapatkan insentif KLM dari BI tanpa proses yang rumit.

“Itu otomatis. bank tinggal report (melapor) saja ke BI bahwa mereka sudah menyalurkan kredit untuk bisa mendapatkan KLM itu,” kata Hosiana di Parapat, Sumatra Utara, Jumat (31/7).

Data Pertumbuhan Kredit Hingga Mei 2026

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit perbankan hingga Mei 2026 tumbuh sebesar 11,51% secara tahunan (year on year atau yoy) menjadi sebesar Rp 8.918 triliun. Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 21,95% diikuti oleh Kredit Modal Kerja yang naik 8,09%, sedangkan kredit konsumsi naik 5,89% yoy.

Jika dilihat berdasarkan kategori debitur, kredit dengan pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh kredit korporasi sebesar 18,39% yoy. Penyaluran kredit UMKM perbankan naik tipis sebesar 0,60% yoy.

Skema Baru untuk Menjaga Suku Bunga Terkendali

Sebelumnya, BI menyatakan tengah menyiapkan skema baru insentif bagi perbankan untuk menjaga suku bunga kredit tetap terkendali, terutama ketika suku bunga acuan BI Rate mengalami kenaikan.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Dhaha P. Kuantan mengatakan langkah ini dilakukan agar transmisi kebijakan moneter terhadap sektor kredit tetap berjalan dan tidak menekan pertumbuhan pembiayaan.

Menurutnya rata-rata suku bunga kredit perbankan sejauh ini masih melanjutkan tren penurunan. Berdasarkan data BI, suku bunga kredit turun dari 9,03% pada Maret menjadi 8,95% pada April 2026.

“Masih melanjutkan tren penurunan sesuai dengan transmisi BI Rate,” di Makassar, Sulawesi Selatan, dikutip Minggu (24/5). Penurunan bunga kredit ini terjadi karena adanya efek jeda atau lag effect dari kebijakan moneter terhadap sektor perbankan.

BI sebelumnya merancang kebijakan KLM untuk mempercepat transmisi penurunan BI Rate ke suku bunga kredit. Namun, ke depan mekanisme tersebut akan diubah dengan pendekatan baru yang menghitung insentif berdasarkan selisih antara BI Rate dan bunga kredit bank. Dengan skema tersebut, bank yang tidak menaikkan bunga kredit secara berlebihan saat BI Rate naik akan memperoleh insentif dari BI.

Join the discussion