BI Jajaki QRIS Antarnegara dengan India, Arab Saudi, dan Hong Kong
Bank Indonesia (BI) terus melakukan langkah strategis dalam memperluas jangkauan sistem pembayaran digital melalui standar Quick Response Code Indonesian
Bank Indonesia Perkuat Kerja Sama Pembayaran Lintas Batas Melalui QRIS
Wartanaya.com – Bank Indonesia (BI) terus melakukan langkah strategis dalam memperluas jangkauan sistem pembayaran digital melalui standar Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Upaya ini merupakan bagian dari komitmen BI untuk meningkatkan konektivitas keuangan regional. BI Jajaki QRIS Antarnegara dengan India, Arab Saudi, dan Hong Kong sebagai langkah konkret dalam mewujudkan ekosistem pembayaran yang lebih terintegrasi di tingkat global.
Menurut Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, proses negosiasi dengan ketiga negara tersebut masih berlangsung aktif. Setiap tahap implementasi akan disesuaikan dengan tingkat kesiapan masing-masing mitra kerja sama. Hal ini penting untuk memastikan bahwa sistem yang diterapkan dapat berjalan optimal tanpa hambatan signifikan.
“BI saat ini terus melanjutkan diskusi dengan India untuk kerja sama pembayaran lintas negara. Selain itu, BI sudah memulai diskusi secara lebih mendalam dengan Arab Saudi dan Hong Kong,” kata Filianingsih dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring, Rabu.
Realisasi kerja sama ini tidak hanya bergantung pada kesepakatan politik, tetapi juga mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan regulasi. Kesiapan regulasi, infrastruktur teknologi, perkembangan industri, serta koordinasi dengan otoritas moneter di masing-masing negara menjadi faktor kunci yang harus dipenuhi sebelum implementasi penuh dilakukan.
“Mudah-mudahan ini bisa segera direalisasikan, karena implementasinya tentu harus memperhatikan kesiapan dari masing-masing negara, baik kesiapan regulasi, infrastruktur, industri, maupun koordinasi dengan otoritasnya,” ujarnya.
Jejak Langkah QRIS di Pasar Internasional
Saat ini, implementasi QRIS antarnegara telah berjalan dengan beberapa negara, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Kerja sama ini memungkinkan pengguna dari negara-negara itu melakukan pembayaran lintas-negara menggunakan QR code secara langsung. Dengan adanya perluasan ke India, Arab Saudi, dan Hong Kong, cakupan QRIS antarnegara akan semakin meluas.
Di tengah rencana perluasan kerja sama tersebut, kinerja QRIS antarnegara juga menunjukkan pertumbuhan positif yang signifikan. Pada triwulan II 2026, transaksi inbound atau transaksi pengguna luar negeri di Indonesia mencapai Rp 1,85 triliun, sedangkan transaksi outbound atau transaksi pengguna Indonesia di luar negeri Rp 330 miliar. Dengan demikian, QRIS antarnegara mencatatkan net inbound Rp 1,52 triliun.
“Kondisi ini mencerminkan bahwa QRIS antarnegara memang mempermudah transaksi pembayaran lintas-negara,” kata Filianingsih.
Ia mengatakan capaian itu menunjukkan QRIS antarnegara dimanfaatkan oleh residen dari negara lain yang berkunjung ke Indonesia. Menurutnya, penggunaan QRIS antarnegara juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor lainnya. Potensi ini semakin terbuka dengan adanya negosiasi baru bersama India, Arab Saudi, dan Hong Kong.
Performa Sistem Pembayaran Digital Nasional
Secara keseluruhan, BI mencatat transaksi ekonomi dan keuangan digital tetap tumbuh pada triwulan II 2026, didukung sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Pertumbuhan ini sejalan dengan upaya BI dalam memperkuat infrastruktur keuangan nasional.
Volume transaksi pembayaran digital melalui aplikasi mobile dan internet mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88% secara tahunan atau year on year (yoy). Volume transaksi melalui internet tumbuh 16,88%, sedangkan transaksi melalui aplikasi mobile meningkat 31,39%. Angka-angka ini menunjukkan adopsi masyarakat terhadap pembayaran digital yang semakin masif.
Sementara itu, transaksi QRIS tumbuh 100,12% pada triwulan II 2026. BI menyebut pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant. Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1.529 juta transaksi atau tumbuh 38,09%, dengan nilai transaksi Rp 3.777 triliun.
Volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS mencapai 2,63 juta transaksi atau tumbuh 13,03%. Nilai transaksi BI-RTGS juga meningkat 12,66% menjadi Rp 53.492 triliun pada triwulan II 2026. Di sisi pengelolaan uang rupiah, uang kartal yang diedarkan (UYD) tumbuh 14,03% menjadi Rp 1.315 triliun pada triwulan II 2026.
