Skip to content
Internasional

Historic Moment: Dari Piala Dunia ke Medan Perang: Mengapa Inggris-Argentina Berebut Malvinas?

Elizabeth Anderson - wartanaya.com 3 mins read

Inggris dan Argentina Berebut Malvinas Historic Moment - Dalam Historic Moment yang mengejutkan, ketegangan antara Inggris dan Argentina kembali memanas

Historic Moment: Dari Piala Dunia ke Medan Perang: Mengapa Inggris-Argentina Berebut Malvinas?

Historic Moment: Inggris dan Argentina Berebut Malvinas

Historic Moment – Dalam Historic Moment yang mengejutkan, ketegangan antara Inggris dan Argentina kembali memanas setelah pertandingan semifinal Piala Dunia 2026. Aksi pemain Argentina yang menampilkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” (Malvinas milik Argentina) usai mengalahkan Inggris dengan skor 2-1 memicu reaksi dari pihak pemerintah Inggris. Insiden ini tidak hanya menjadi perhatian dalam dunia olahraga, tetapi juga mengulangi sengketa politik yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Sejarah Sengketa Malvinas dan Dampaknya pada Hubungan Inggris-Argentina

Kepulauan Malvinas, juga dikenal sebagai Kepulauan Falkland, adalah wilayah yang sejak abad ke-19 menjadi sumber perdebatan antara Inggris dan Argentina. Wilayah ini berada di Samudra Atlantik Selatan, sekitar 500 kilometer dari pesisir Argentina, dan telah dikuasai Inggris sejak 1833. Namun, Argentina berargumen bahwa Malvinas adalah bagian dari wilayah bekas kolonial Spanyol yang diperoleh setelah kemerdekaannya pada 1816.

Pertandingan di Piala Dunia 2026 menjadi Historic Moment yang menyedot perhatian global. Kebanggaan Argentina terhadap klaim wilayahnya dipertunjukkan melalui spanduk yang ditampilkan oleh pemain sepanjang pertandingan. Sebaliknya, Inggris memandang ini sebagai bentuk pengaruh politik yang di bawa ke dalam dunia olahraga. Pernyataan dari pihak pemerintah Inggris menegaskan bahwa mereka tidak ingin kepentingan nasional mereka diabaikan dalam konteks internasional.

Perang Falklands: Konflik yang Berdampak Global

Pada 2 April 1982, perang terbuka di Kepulauan Falkland dimulai ketika junta militer Argentina, dipimpin oleh Presiden Jenderal Leopoldo Galtieri, melakukan invasi. Perang ini dianggap sebagai Historic Moment dalam sejarah hubungan Inggris-Argentina, karena memicu krisis diplomatik yang berkepanjangan. Pemerintahan Inggris, yang dipimpin Margaret Thatcher, segera merespons dengan mengirimkan armada laut dan pasukan ekspedisi.

Pertempuran berlangsung selama 74 hari, melibatkan perang laut, udara, dan daratan. Perang ini berakhir dengan penyerbuan kembali Port Stanley, ibu kota Kepulauan Falkland, pada 14 Juni 1982. Selama konflik, beberapa peristiwa penting terjadi, seperti penyelamatan kapal selam Inggris HMS Conqueror yang menghancurkan kapal penjelajah Argentina ARA General Belgrano, serta serangan rudal Exocet yang merusak kapal perusak HMS Sheffield.

Konflik ini menewaskan sekitar 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, dan tiga warga sipil Falkland. Perang Falklands menjadi salah satu dari perang paling mematikan di Amerika Selatan sepanjang era Perang Dingin. Meski perang berakhir dengan kemenangan Inggris, dampaknya terus dirasakan hingga kini, terutama dalam hubungan bilateral antara dua negara.

Pasca perang, hubungan diplomatik antara Inggris dan Argentina mulai membaik pada September 2016. Kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi dan keamanan. Sebulan setelah perbaikan hubungan, Inggris dan Argentina menandatangani mandat yang memberi wewenang kepada Komite Palang Merah Internasional (ICRC) untuk mengidentifikasi 123 tentara Argentina yang gugur selama Perang Falklands 1982, serta dimakamkan tanpa identitas di Darwin Cemetery.

“Hasil referendum ini memberi pesan jelas bahwa tuntutan Buenos Aires untuk menguasai Kepulauan Falkland bertentangan dengan keinginan penduduk setempat dan tidak sejalan dengan prinsip demokrasi modern,” kata Menteri Luar Negeri Inggris William Hague.

Pada Maret 2013, referendum di Kepulauan Falkland dilakukan, dengan 1.513 dari 1.653 pemilih memilih ‘setuju’ untuk mempertahankan status British Overseas Territory. Hasil referendum ini memperkuat posisi Inggris, tetapi Argentina tetap menolaknya, menyebutnya sebagai ‘parodi’ dan mengibaratkan seperti suara kelompok penghuni liar yang menentukan nasib wilayah secara ilegal.

Kebangkitan kesadaran politik di Malvinas terus berlanjut, terutama setelah Historic Moment di Piala Dunia 2026. Aksi para pemain Argentina tidak hanya mengingatkan dunia tentang sejarah sengketa ini, tetapi juga menunjukkan bagaimana olahraga dapat menjadi alat diplomatik yang kuat. Dengan menyebarkan pesan klaim wilayah, Argentina mencoba memperkuat posisi mereka di kancah internasional, sementara Inggris berusaha menegaskan dominasi mereka melalui media dan publikasi.

Join the discussion