AS Hentikan Serangan Baru ke Iran, Diduga Khawatir Stok Amunisi Menipis
Pada hari Minggu tanggal 26 Juli, Amerika Serikat memutuskan untuk menghentikan sementara serangan udara yang dilancarkan terhadap Iran. Keputusan ini
AS Hentikan Serangan Baru ke Iran: Kekhawatiran Stok Amunisi Menipis Jadi Alasan Utama Penundaan Operasi Militer
Wartanaya.com – Pada hari Minggu tanggal 26 Juli, Amerika Serikat memutuskan untuk menghentikan sementara serangan udara yang dilancarkan terhadap Iran. Keputusan ini menghentikan operasi militer yang telah berlangsung selama hampir lima bulan lamanya. Jeda dalam serangan tersebut membuka peluang baru bagi pemulihan jalur perundingan diplomatik antara Washington dan Teheran. Langkah ini menunjukkan adanya perubahan strategi dalam menangani ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Faktor Logistik dan Kekhawatiran Pasokan Senjata
Sebelum penghentian ini, AS telah melakukan serangan udara setiap malam selama hampir dua pekan penuh. Namun, berbagai laporan dari media Amerika Serikat mengindikasikan bahwa keputusan jeda juga dipengaruhi oleh kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan rudal pencegat Patriot serta sistem pertahanan lainnya. Kekurangan amunisi menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penundaan operasi.
The New York Times melaporkan bahwa rencana peningkatan operasi militer ditunda, salah satunya karena berkurangnya persediaan amunisi. Laporan tersebut mengutip dua sumber yang mengetahui pembahasan internal pemerintahan AS mengenai hal ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa aspek logistik menjadi faktor krusial dalam pengambilan keputusan strategis.
Status Operasi Militer Saat Ini
Mengutip sumber di Pentagon yang tidak disebutkan namanya, CNN melaporkan bahwa operasi militer AS terhadap Iran kini sedang dalam mode “ditahan” (on hold). Padahal, Presiden AS Donald Trump pada hari Jumat kemarin masih mengancam akan meningkatkan intensitas serangan ke tingkat yang jauh lebih tinggi terhadap republik Islam tersebut. Namun, situasi berubah setelah adanya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasokan.
“Kami masih terus bernegosiasi dengan mereka (Iran). Menurut saya, sekarang mereka mulai semakin sungguh-sungguh untuk mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada para wartawan.
Kekhawatiran Eskalasi dan Dampak Ekonomi
Selain persoalan logistik militer, Trump juga disebut mempertimbangkan risiko meluasnya perang di Timur Tengah serta dampaknya terhadap perekonomian global apabila konflik terus meningkat. Ketegangan yang berkepanjangan dapat mempengaruhi harga minyak dan stabilitas pasar internasional.
CNN juga melaporkan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Jenderal Dan Caine, menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi eskalasi dalam pertemuan di Gedung Putih pada hari Jumat. Menurut laporan tersebut, Jenderal Caine mengatakan militer AS mampu menjalankan berbagai opsi yang tersedia, tetapi mengingatkan Trump mengenai konsekuensi yang mungkin timbul apabila operasi diperluas.
Posisi Iran dan Prospek Perundingan
Trump sendiri menyatakan belum memutuskan apakah akan kembali melancarkan operasi militer berskala penuh terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa Iran kini dihadapkan pada dua pilihan, yakni mencapai kesepakatan dengan Washington atau menghadapi serangan dengan tingkat yang jauh lebih tinggi dari Amerika. Kedua belah pihak tampaknya sedang mencari jalan keluar melalui diplomasi.
Sebelumnya, upaya diplomasi antara kedua negara sempat terhenti setelah pertempuran di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia. Konflik kemudian meluas hingga mencakup serangan terhadap pangkalan militer AS, kapal-kapal di kawasan, serta sekutu Washington di Teluk. Situasi ini menciptakan tekanan tambahan bagi para negosiator.
Blokade Laut dan Operasi Militer Lainnya
Di sisi lain, Komando Pusat Militer AS (Centcom) menegaskan blokade laut terhadap Iran masih diberlakukan sepenuhnya. Dalam pernyataannya di platform X, Centcom menyebut hingga Sabtu (25/7) pihaknya telah mengalihkan 12 kapal dagang yang berupaya menerobos blokade, melumpuhkan dua kapal yang tidak mematuhi peringatan, serta menaiki dua kapal lainnya untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan tersebut.
Centcom juga menyatakan telah melakukan pemeriksaan terhadap kapal tanker berbendera Komoro, M/T Charminar, di Laut Arab sebelum kapal tersebut diizinkan melanjutkan pelayaran. Selain itu, militer AS mengeklaim telah melumpuhkan kapal tanker berbendera Mozambik, M/T Lavine, di Teluk Oman pada Kamis (24/7) setelah awak kapal beberapa kali berupaya melanggar blokade dan mengabaikan peringatan yang diberikan.
Dampak Politik dalam Negeri
Konflik yang sebelumnya diperkirakan Trump hanya berlangsung empat hingga lima pekan kini mendekati bulan kelima. Situasi tersebut juga disebut mulai membebani tingkat kepuasan publik terhadap Trump menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Dukungan publik menjadi faktor penting dalam keberlanjutan kebijakan luar negeri.
Laporan Axios menyebut Pentagon sebenarnya telah mengajukan rencana serangan untuk malam ke-14 secara berturut-turut. Namun Trump memilih tidak memberikan persetujuan dan lebih mengutamakan upaya membuka kembali jalur perundingan. Keputusan ini mencerminkan pendekatan yang lebih hati-hati dalam menangani situasi regional yang kompleks.
