Skip to content
Energi Baru

Key Strategy: Satya Bumi Desak Tanggung Jawab Automakers untuk EV Berkeadilan

Michael Moore - wartanaya.com 3 mins read

a Bumi Desak Tanggung Jawab Automakers untuk EV Berkeadilan Key Strategy menjadi pilar utama dalam upaya Indonesia mencapai kemandirian energi dan mengurangi

Key Strategy: Satya Bumi Desak Tanggung Jawab Automakers untuk EV Berkeadilan

Key Strategy: Satya Bumi Desak Tanggung Jawab Automakers untuk EV Berkeadilan

Key Strategy menjadi pilar utama dalam upaya Indonesia mencapai kemandirian energi dan mengurangi dampak lingkungan dari sektor transportasi. Dengan adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang semakin cepat, pemerintah dan lembaga pengamat lingkungan menekankan pentingnya peran automakers dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan. Transisi ke EV bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga keterlibatan produsen mobil untuk memastikan keadilan dan kesetaraan dalam penggunaan energi terbarukan.

Strategi Pemerintah dalam Mendorong Adopsi EV

Menurut Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Kewilayahan, pengembangan EV adalah bagian dari Key Strategy untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, dengan kapasitas pembangkit mencapai sekitar 3.700 gigawatt (GW), jauh melampaui kapasitas saat ini yang baru mencapai 100 GW. “Kalau kita bicara swasembada energi, tantangan terbesar Indonesia berada pada minyak dan LPG. Solusinya adalah mengalihkan penggunaan energi fosil impor ke listrik yang sumbernya bisa dihasilkan sendiri,” tutur Rachmat. Dalam Key Strategy ini, pemerintah juga menggarisbawahi kebutuhan infrastruktur pengisian daya dan perubahan mindset masyarakat.

Menyambut target 2 juta mobil listrik dan 13 juta sepeda motor listrik pada 2030, pemerintah telah menetapkan berbagai insentif, seperti pengurangan pajak dan pendanaan proyek pengisian daya. Namun, menurut Andi Muttaqien, Direktur Eksekutif Satya Bumi, Key Strategy ini belum sepenuhnya tercapai. “Transisi menuju kendaraan listrik harus dilihat secara menyeluruh, dari sumber daya hulu hingga aplikasi di hilir,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa peran automakers tidak hanya terbatas pada produksi, tetapi juga dalam mengelola rantai pasok bahan baku serta memastikan keberlanjutan ekosistem EV.

Dalam Key Strategy yang diusung, pemerintah memperkuat kolaborasi dengan sektor swasta dan lembaga lingkungan. Perusahaan automakers dianjurkan untuk berinvestasi pada teknologi berkelanjutan dan merancang kendaraan yang ramah lingkungan. Tantangan utama, menurut Rachmat, adalah mengubah pola pikir masyarakat. “Kendaraan listrik bisa diisi saat sedang parkir, berbeda dengan mobil bahan bakar minyak yang harus ke SPBU. Ini adalah perubahan mindset yang perlu dipahami,” ujarnya. Keterlibatan automakers yang lebih aktif dalam menyadari kebutuhan ini menjadi kunci keberhasilan Key Strategy.

“Kita perlu menciptakan EV yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga terjangkau bagi masyarakat luas. Key Strategy harus melibatkan semua pihak, termasuk produsen mobil, untuk memastikan adopsi yang seimbang dan berkelanjutan,” jelas Andi Muttaqien.

Satya Bumi, sebagai organisasi masyarakat sipil yang fokus pada edukasi dan kampanye lingkungan, terus mendorong automakers untuk menanggung jawab atas transisi energi. Mereka menekankan bahwa Key Strategy tidak boleh hanya berfokus pada pengurangan emisi, tetapi juga pada kesetaraan akses dan keadilan bagi semua lapisan masyarakat. “EV berkeadilan berarti kendaraan listrik yang bisa diakses oleh seluruh kalangan, baik dari segi harga maupun infrastruktur,” tambah Andi. Dengan memperhatikan faktor-faktor ini, Key Strategy akan menjadi lebih efektif dalam mencapai tujuan nasional.

Pengembangan EV juga terkait dengan pemanfaatan energi terbarukan. Satya Bumi menyoroti bahwa untuk menjaga keberlanjutan, automakers harus memastikan bahwa bahan bakar listrik yang digunakan berasal dari sumber yang ramah lingkungan, seperti energi surya atau angin. “Kita tidak boleh hanya berpikir tentang kecepatan adopsi, tetapi juga tentang cara menghasilkan daya listrik yang ramah lingkungan,” imbuhnya. Dengan Key Strategy yang komprehensif, Indonesia bisa menjadi contoh negara yang berhasil menggabungkan inovasi teknologi dan keberlanjutan lingkungan.

Join the discussion