Skip to content
Energi Baru

Cina Beri Sinyal Siap Ikut Garap Proyek 100 GW PLTS di Indonesia

Michael Moore - wartanaya.com 3 mins read

Cina Beri Sinyal Siap Ikut dalam ambisi Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas luar biasa. Liu Zhenmin, utusan khusus

Cina Beri Sinyal Siap Ikut Garap Proyek 100 GW PLTS di Indonesia

Cina Beri Sinyal Siap Ikut Garap Proyek Energi Surya Terbesar di Indonesia

Wartanaya.com – Cina Beri Sinyal Siap Ikut dalam ambisi Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas luar biasa. Liu Zhenmin, utusan khusus perubahan iklim Tiongkok, secara resmi mengumumkan komitmen negaranya untuk mendukung program pembangunan PLTS nasional Indonesia yang menargetkan kapasitas 100 Gigawatt. Pengumuman penting ini disampaikan langsung oleh Liu dalam pidato resminya di Indonesia Net Zero Summit 2026 yang diselenggarakan di Jakarta pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Kehadiran Liu di acara bergengsi tersebut menunjukkan tingkat kepentingan tinggi Tiongkok terhadap proyek energi terbarukan di Indonesia.

Komitmen Tiongkok terhadap Kerja Sama Negara Berkembang

Dalam sambutannya yang panjang, Liu menekankan bahwa kerja sama antara negara-negara berkembang atau yang dikenal sebagai global south merupakan komponen penting dalam tata kelola iklim global. Menurutnya, hubungan ini seharusnya terjalin erat antara negara berkembang dengan negara maju untuk mencapai tujuan iklim bersama. Namun, Liu menyoroti keprihatinannya bahwa sejumlah negara besar dan maju justru memperlambat aksi iklim mereka. Bahkan, beberapa negara tersebut menarik diri dari perjanjian iklim global yang telah disepakati bersama.

“Pemerintah kami secara aktif mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk bekerja sama dengan mitra Indonesia untuk mewujudkan program ini,” kata Liu, dalam sambutannya di Indonesia Net Zero Summit 2026 di Jakarta, pada Sabtu (1/8).

Akibat perlambatan tersebut, negara-negara besar semakin sulit memenuhi komitmen pendanaan iklim hingga transfer teknologi ke negara berkembang. Dalam rencana besarnya untuk membangun sistem energi terbarukan tercepat dan termasif di dunia, Tiongkok akan menggalakkan kerja sama internasional untuk pembangunan hijau dan rendah karbon. Liu menjelaskan bahwa Tiongkok telah bekerja sama proyek energi hijau dengan lebih dari 100 negara dan wilayah di seluruh dunia.

“Sebagai negara berkembang besar, Tiongkok terus memberikan dukungan dan bantuan kepada negara-negara berkembang lainnya semaksimal mungkin,” ujar Liu.

Jejak Kerja Sama Tiongkok-Indonesia yang Kuat

Adapun hingga Juni 2026, Tiongkok telah menandatangani 56 nota kesepahaman atau MoU dan kerja sama tentang perubahan iklim dengan 43 negara berkembang. Pencapaian ini menunjukkan konsistensi Tiongkok dalam membangun hubungan strategis di bidang energi terbarukan. Liu menambahkan bahwa Tiongkok siap bekerja sama dengan Indonesia dan pihak-pihak lain untuk memberikan kontribusi yang lebih besar dalam mencapai netralitas karbon global.

Pertengahan Juli lalu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto secara resmi mengajak para perusahaan Tiongkok untuk berinvestasi di proyek 100 GW PLTS. Mengutip Antara, ajakan tersebut disampaikan Airlangga ketika bertemu dengan Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao di Shanghai, Tiongkok. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak diketahui membahas soal penguatan kerja sama bidang ekonomi, perdagangan, investasi, transisi energi, hingga kerja sama regional.

“Indonesia mengapresiasi keterlibatan investasi Tiongkok dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata. Proyek tersebut menunjukkan besarnya potensi kerja sama Indonesia-Tiongkok dalam mendukung transisi energi,” ujar Airlangga.

Proyek PLTS terapung Cirata menjadi simbol nyata dari kerja sama bilateral yang semakin kuat. Dengan kapasitas yang terus berkembang, Indonesia dan Tiongkok memiliki peluang besar untuk memimpin transisi energi global. Kedua negara berkomitmen untuk mempercepat implementasi proyek-proyek energi terbarukan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Join the discussion