Skip to content
Energi Baru

Key Discussion: Indonesia Tawarkan Proyek PLTS 100 GW ke Cina

Michael Moore - wartanaya.com 4 mins read

Key Discussion: Indonesia Tawarkan Proyek PLTS 100 GW ke Cina Key Discussion - Dalam Key Discussion yang berlangsung dalam pertemuan bilateral antara

Key Discussion: Indonesia Tawarkan Proyek PLTS 100 GW ke Cina

Key Discussion: Indonesia Tawarkan Proyek PLTS 100 GW ke Cina

Key Discussion – Dalam Key Discussion yang berlangsung dalam pertemuan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok di Shanghai, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengajak perusahaan-perusahaan dari Tiongkok untuk berpartisipasi dalam pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) di Indonesia. Pertemuan ini menjadi kesempatan penting untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan investasi antar kedua negara, dengan fokus pada transisi energi hijau serta peningkatan kapasitas produksi energi bersih. Key Discussion tersebut juga menyoroti potensi kerja sama yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi seimbang dan saling menguntungkan.

Strategi Energi Hijau Indonesia

Indonesia mengajukan proyek PLTS 100 GW sebagai bagian dari strategi nasional untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Proyek ini bertujuan untuk memenuhi target keberlanjutan lingkungan serta mengurangi emisi gas rumah kaca, yang menjadi prioritas pemerintah dalam Key Discussion. Airlangga menekankan bahwa kolaborasi dengan Tiongkok tidak hanya akan mendukung keberlanjutan ekonomi, tetapi juga mengamankan pasokan energi yang lebih stabil bagi rakyat Indonesia.

“Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga kepastian kebijakan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif. Kami berharap Key Discussion ini dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama dan proyek yang konkret sehingga memberikan manfaat seimbang dan saling menguntungkan,” kata Airlangga dalam pertemuan.

Menko Airlangga juga menyoroti peran Tiongkok dalam meningkatkan kapasitas produksi lokal, terutama di bidang industri panel surya. Ia mengingatkan bahwa dengan memperkuat kerja sama dalam Key Discussion, Indonesia dapat mengurangi impor perangkat listrik tenaga surya dan meningkatkan kemandirian dalam rantai pasok energi. “Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan infrastruktur energi hijau, dan Tiongkok dapat menjadi mitra strategis dalam mewujudkan hal ini,” tambahnya.

Dukungan Tiongkok dalam Kemitraan Ekonomi

Perusahaan Tiongkok dikenal memiliki pengalaman luas dalam pengembangan proyek energi bersih, sehingga Key Discussion ini diharapkan mampu mempercepat proses implementasi PLTS 100 GW. Proyek ini tidak hanya akan memberikan dampak positif bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang investasi besar di sektor energi, yang menjadi salah satu sektor utama perekonomian Indonesia. Airlangga menyebutkan bahwa Tiongkok telah menunjukkan minat kuat dalam mengembangkan energi terbarukan di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Dalam Key Discussion, Menko juga menekankan pentingnya kerja sama bilateral dalam bidang perdagangan dan investasi. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Tiongkok mencapai 154,6 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan rata-rata 7,24 persen sejak 2021. Investasi Tiongkok ke Indonesia mencapai sekitar 8,1 miliar dolar AS atau 13 persen dari total investasi asing, dengan sektor energi menjadi salah satu area yang sangat dinamis. Airlangga menilai bahwa proyek PLTS 100 GW dapat memperkuat hubungan ekonomi yang sudah mapan ini.

Program Two Countries Twin Parks (TCTP) menjadi fokus utama dalam Key Discussion. Sampai saat ini, 30 nota kesepahaman telah ditandatangani, dengan estimasi nilai investasi mencapai Rp37,1 triliun. Airlangga mengatakan bahwa Key Discussion ini juga menuntut penguatan kebijakan usaha patungan (joint venture) antara pihak Indonesia dan Tiongkok, agar proyek dapat berjalan secara efisien dan berkelanjutan. “Kemitraan seperti ini akan menjadi fondasi penting untuk mencapai visi energi hijau nasional,” ujarnya.

Potensi Manfaat Proyek PLTS 100 GW

Pengembangan proyek PLTS 100 GW diharapkan memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Dalam Key Discussion, Airlangga menekankan bahwa proyek ini bisa mempercepat pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia, yang sejalan dengan komitmen global untuk mengurangi emisi karbon. Selain itu, PLTS 100 GW diharapkan menciptakan ribuan lapangan kerja baru, terutama di daerah-daerah yang memiliki sumber daya matahari melimpah.

Dalam Key Discussion, Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao menyambut baik tawaran tersebut. Ia menilai bahwa kolaborasi dalam sektor energi akan memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi kedua negara. Wang juga menyinggung potensi teknologi transfer dari Tiongkok ke Indonesia, yang dapat meningkatkan efisiensi produksi panel surya dan mempercepat penerapan solusi energi hijau. “Kita memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan Indonesia dalam mengelola proyek berbasis teknologi bersih,” tuturnya.

Proyek PLTS 100 GW juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 2030. Dalam Key Discussion, Airlangga menekankan bahwa investasi dari Tiongkok akan mempercepat pemanfaatan energi bersih, terutama di wilayah-wilayah yang kurang berkelanjutan secara ekonomi. Ia menambahkan, proyek ini akan menjadi contoh nyata dari kolaborasi ekonomi yang menguntungkan kedua belah pihak.

Kerja Sama Regional dan APEC 2026

Menko Airlangga juga membahas kerja sama ekonomi regional, termasuk peran Tiongkok dalam penyelenggaraan APEC 2026. Ia menyatakan bahwa penguatan perjanjian ekonomi seperti Sekretariat Perjanjian Ekonomi Regional (RCEP) sangat penting dalam menghadapi perubahan pasar global dan inovasi digital. Dalam Key Discussion, pihak Indonesia meminta dukungan Tiongkok dalam pembentukan RCEP 3.0, yang diharapkan menjadi landasan untuk kebijakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Airlangga menambahkan bahwa Key Discussion ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi kinerja RCEP hingga saat ini. Ia menyebutkan, proyek PLTS 100 GW akan menjadi bukti nyata dari komitmen Indonesia dalam mendorong kemitraan ekonomi yang berimbang. Dengan memperkuat koordinasi bilateral, Indonesia percaya bahwa RCEP 3.0 akan mampu menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Kerja sama dalam Key Discussion ini menunjukkan bahwa Tiongkok dan Indonesia memiliki visi yang sejalan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan transisi energi. Proyek PLTS 100 GW bukan hanya sekadar upaya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih hijau dan inovatif. Airlangga berharap Key Discussion ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas di sektor energi terbarukan.

Join the discussion