Skip to content
Energi Baru

Key Discussion: Ahli Nuklir AS Sebut Reaktor SMR Bisa Jadi Solusi Listrik Daerah Terpencil

Patricia Miller - wartanaya.com 4 mins read

Key Discussion: SMR Nuklir AS Menjadi Solusi Listrik Daerah Terpencil Key Discussion – Reaktor nuklir kecil modular (SMR) kini dianggap sebagai solusi

Key Discussion: Ahli Nuklir AS Sebut Reaktor SMR Bisa Jadi Solusi Listrik Daerah Terpencil

Key Discussion: SMR Nuklir AS Menjadi Solusi Listrik Daerah Terpencil

Key Discussion – Reaktor nuklir kecil modular (SMR) kini dianggap sebagai solusi potensial untuk memenuhi kebutuhan listrik daerah terpencil, menurut ahli nuklir Amerika Serikat, Kelle Barfield. Dalam diskusi terkini di Jakarta, Barfield menekankan bahwa teknologi SMR bisa menjadi alternatif efektif dalam mengatasi masalah keterbatasan akses energi di wilayah jauh dari pusat. Sebagai negara yang sudah menerapkan SMR dalam program militer, AS bersedia berkolaborasi dengan Indonesia melalui dukungan teknis, pelatihan, dan dana untuk proyek energi nuklir lokal.

SMR: Fleksibilitas dan Efisiensi dalam Produksi Energi

Key Discussion menyebutkan bahwa SMR memiliki keunggulan ukuran yang lebih kecil, sehingga mudah dipasang di lokasi terpencil tanpa mengganggu lingkungan sekitar. “Teknologi ini sangat fleksibel karena bisa ditempatkan di area dengan kebutuhan energi tinggi, seperti tambang atau pusat data, dengan kapasitas listrik berkisar antara 1 hingga 2 MW,” jelas Barfield dalam acara panel “Powering the Future: American Leadership in Clean Nuclear Energy” di @atamerica, Jakarta, Selasa (23/6). SMR juga memungkinkan pengoperasian yang lebih cepat dibandingkan reaktor nuklir tradisional, karena bisa diproduksi di pabrik kemudian dikirim ke lokasi target.

Key Discussion menambahkan bahwa SMR tidak hanya cocok untuk daerah jauh, tetapi juga membantu mengurangi risiko keselamatan. Dengan desain yang lebih sederhana dan sistem kontrol modern, SMR bisa beroperasi dengan efisiensi tinggi tanpa memerlukan infrastruktur kompleks. Teknologi ini juga mendukung ekonomi hijau karena emisi karbonnya jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.

Program Militer AS dan Potensi SMR

Key Discussion mengungkapkan bahwa SMR sudah diuji coba oleh militer AS dalam program bernama Janice, yang mencakup sembilan pangkalan militer. Reaktor nuklir kecil ini menghasilkan listrik sebesar 5 MW, menunjukkan kesiapan teknologi untuk aplikasi di lingkungan yang dinamis. “Program Janice membuktikan bahwa SMR bisa digunakan dalam skala besar, bahkan di area yang sulit diakses,” ujarnya.

Kelengkapan SMR dalam menyediakan energi secara terus-menerus membuatnya menarik bagi negara-negara berkembang. Dengan biaya operasional rendah dan keandalan tinggi, SMR bisa menjadi pilihan utama untuk daerah yang tidak memiliki akses ke sistem tenaga listrik konvensional. Key Discussion juga menyoroti bahwa teknologi ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan lokal, baik dari segi kapasitas maupun desain.

Kolaborasi AS dan Indonesia dalam Pengembangan SMR

Key Discussion menyebutkan bahwa Kesepakatan Perdagangan Resiprokal (ART) antara Indonesia dan AS, yang ditandatangani pada 19 Februari 2026 di Washington DC, akan mendorong pengembangan SMR di negeri ini. Dalam kesepakatan tersebut, US Nuclear Regulatory Commission memberikan lisensi desain SMR dari perusahaan AS, memudahkan penerapan teknologi di Indonesia. “AS memiliki pengalaman teknis yang matang, sehingga bisa mempercepat proses pemasangan SMR di Indonesia,” kata Barfield.

Key Discussion juga menekankan bahwa program bantuan teknis dari AS akan memperkuat kapasitas lokal Indonesia dalam mengelola SMR. Selain pendanaan infrastruktur dasar, AS menawarkan pelatihan bagi tenaga ahli Indonesia untuk memastikan keselamatan dan efisiensi dalam pengoperasian reaktor nuklir kecil. Dukungan ini diharapkan bisa menjadi fondasi untuk keberlanjutan pengembangan energi hijau di Indonesia.

Perkembangan SMR di Indonesia dan Tantangan yang Dihadapi

Key Discussion menyebutkan bahwa meski SMR sudah mulai diimplementasikan di beberapa negara, Indonesia masih perlu waktu untuk mengadopsinya. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, PLN menargetkan kapasitas energi nuklir sebesar 500 MW, yang masih jauh dari kebutuhan nasional. “SMR bisa menjadi pilihan ideal untuk daerah pelosok, seperti Indonesia bagian Timur, karena memerlukan investasi lebih rendah dibanding reaktor konvensional,” kata Sripeni Inten Cahyani, anggota Dewan Energi Nasional.

Key Discussion menyoroti bahwa SMR yang komersial akan mengurangi risiko pengelolaan oleh pemerintah. Dengan proses komisioning yang sudah standar, teknologi ini bisa segera diterapkan untuk meningkatkan akses energi di wilayah jauh. Namun, tantangan seperti regulasi, kesadaran masyarakat, dan investasi awal masih perlu diatasi. Barfield menambahkan bahwa AS siap menyiapkan hibah besar untuk membantu studi pengembangan SMR di Indonesia, termasuk evaluasi risiko dan keuntungan jangka panjang.

Masa Depan Energi Hijau dengan SMR

Key Discussion menegaskan bahwa SMR adalah bagian dari strategi global untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Dengan kemampuan produksi yang konsisten dan dampak lingkungan yang minimal, teknologi ini bisa menjawab tantangan ekonomi hijau di Indonesia. Barfield menilai SMR tidak hanya menjadi solusi listrik daerah terpencil, tetapi juga membantu mewujudkan target net zero emisi oleh 2050.

Key Discussion menggarisbawahi bahwa kolaborasi antara Indonesia dan AS dalam bidang energi nuklir akan memberikan manfaat jangka panjang. Selain mempercepat pemasangan SMR, dukungan ini juga bisa memperkuat kapasitas teknis dan kemandirian energi Indonesia. Dengan kemajuan teknologi SMR yang terus berkembang, Key Discussion yakin Indonesia akan mampu mengadopsi energi nuklir sebagai bagian dari keberlanjutan ekonomi hijau nasional.

Join the discussion