Danantara Usul Pengalihan Subsidi BBM untuk Dukung Industri Kendaraan Listrik
Danantara Usul Pengalihan Subsidi BBM sebagai langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia. Ardy Muawin, Managing
Danantara Usul Pengalihan Subsidi BBM untuk Kendaraan Listrik
Wartanaya.com – Danantara Usul Pengalihan Subsidi BBM sebagai langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia. Ardy Muawin, Managing Director Industrialization Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, menjelaskan bahwa transformasi alokasi subsidi bahan bakar minyak dapat menjadi pendorong utama bagi ekosistem transportasi berkelanjutan. Menurutnya, dana yang selama ini disalurkan untuk subsidi BBM konvensional dapat dialihkan untuk mendukung pengembangan baterai dan infrastruktur kendaraan bertenaga listrik di dalam negeri.
Subsidi bensin itu nilainya puluhan hingga ratusan triliun, dan itulah yang membuat industri otomotif bisa terbang. Nah, sekarang kita tinggal pindahkan saja subsidinya BBM, kita arahkan ke subsidi baterai, mengingat baterai tersebut sudah diproduksi di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Ardy dalam forum Katadata Policy Dialogue dengan tema ‘Made in Indonesia: Membangun Daya Saing Industri yang Berkelanjutan’. Acara yang diselenggarakan di Kantor Katadata, Jakarta, pada hari Selasa (28/7) ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan industri hijau nasional. Dalam kesempatan tersebut, Ardy menekankan pentingnya konsistensi kebijakan fiskal untuk memastikan keberlanjutan program pengembangan kendaraan listrik.
Strategi Subsidi dan Anchor Project
Untuk mengimplementasikan konsep pengalihan subsidi BBM, diperlukan adanya anchor project yang menjadi fondasi kebijakan. Ardy menjelaskan bahwa pemerintah perlu memberikan dukungan melalui berbagai instrumen, baik berupa subsidi langsung maupun insentif pajak. “Harapannya nanti ada subsidi dari pemerintah atau ada step in, apapun bentuknya, sehingga ke depan kita bisa sustain,” tambahnya. Pendekatan ini diyakini dapat menciptakan ekosistem yang mendukung produsen kendaraan listrik lokal maupun investor asing yang tertarik berinvestasi di sektor ini.
Pengalaman Internasional dalam Subsidi Kendaraan Listrik
Dimas Muhamad, Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, menyajikan perspektif internasional mengenai efektivitas subsidi kendaraan listrik. Tiongkok menjadi contoh utama dengan alokasi dana mencapai Rp260 triliun per tahun untuk mendukung industri otomotif listrik. “Itu semua bukan tiba-tiba saja terjadi, tapi karena negaranya itu kasih support Rp260 triliun per tahun,” ujar Dimas. Dana tersebut didistribusikan melalui berbagai mekanisme, termasuk subsidi riset dan pengembangan, potongan pajak, serta bantuan langsung kepada konsumen dan produsen.
Negara perlu hadir, memberi dukungan, pembiayaan, keberpihakan. Ini bukan untuk membantu konglomerat, bukan untuk meningkatkan konsentrasi ekonomi, bukan menolong orang yang kaya dengan menjadi industrialis, tapi soal penciptaan kerja berkualitas.
India juga menerapkan model serupa dengan mengalokasikan Rp80 triliun setiap tahunnya untuk subsidi industri kendaraan listrik. Kedua negara tersebut menunjukkan bahwa intervensi pemerintah melalui subsidi BBM yang dialihkan menjadi kunci keberhasilan industrialisasi. Dimas menambahkan bahwa pendekatan ini bukan sekadar bantuan ekonomi, melainkan strategi jangka panjang untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Meskipun demikian, keberhasilan pengalihan subsidi BBM tidak dapat dicapai secara sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga pembiayaan, pelaku industri, media, dan masyarakat sipil. Kolaborasi multi-pihak ini akan memastikan bahwa kebijakan subsidi tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi perekonomian nasional. Dengan demikian, Danantara Usul Pengalihan Subsidi BBM dapat menjadi tonggak sejarah dalam transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
