Skip to content
Ekonomi Sirkular

Kemana Arah Diplomasi Iklim Indonesia di Meja COP31?

Matthew Smith - wartanaya.com 4 mins read

Pertemuan tingkat tinggi para pihak (COP) ke-31 mengenai perubahan iklim dijadwalkan berlangsung di Antalya, Turki, antara tanggal 9 hingga 20 November

Kemana Arah Diplomasi Iklim Indonesia di Meja COP31?

Posisi Diplomasi Iklim Indonesia Menuju COP31 di Antalya

Wartanaya.com – Pertemuan tingkat tinggi para pihak (COP) ke-31 mengenai perubahan iklim dijadwalkan berlangsung di Antalya, Turki, antara tanggal 9 hingga 20 November mendatang. Dalam forum perundingan iklim yang diselenggarakan di bawah naungan PBB tersebut, Indonesia akan membawa sejumlah agenda strategis yang mencerminkan kepentingan nasionalnya.

Agenda Prioritas Delegasi Indonesia

Tri Purnajaya, Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri, menjelaskan bahwa setiap negara peserta akan membawa kepentingan nasional masing-masing ke meja perundingan. Untuk Indonesia, fokus utama mencakup sektor energi, karbon, serta prinsip common but differentiated responsibility (CBDR) yang mendorong negara berkembang untuk tetap bernegosiasi secara setara.

“Kaitannya dengan misalnya kepentingan kita di sektor energi, ada karbon, dan bagaimana negara berkembang itu tetap negosiasi mendorong common but differentiated responsibility (CBDR),” ujar Tri dalam diskusi ‘Arah Agenda Prioritas Kepresidenan COP31 dan Konteks Geopolitik’ di Jakarta, pada Selasa (4/8).

Beberapa isu krusial yang akan menjadi sorotan delegasi Indonesia antara lain energi bersih, elektrifikasi, pengelolaan limbah, ketahanan pangan, serta ekonomi kelautan dan biru. Terkait transisi energi, Indonesia memilih pendekatan phase down atau pengurangan bertahap terhadap energi fosil, bukan phase out yang berarti penghentian total.

Prinsip Keadilan dan Tanggung Jawab Bersama

Indonesia juga terus mendorong hasil negosiasi yang mengedepankan prinsip equity dan CBDR. Prinsip ini menegaskan bahwa meskipun semua negara memiliki kewajiban yang sama dalam mengatasi perubahan iklim, besaran tanggung jawabnya akan berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing.

COP31 juga dipandang sebagai kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan pencapaian nasional dalam menghadapi perubahan iklim. Negara berkembang, termasuk Indonesia, diyakini memiliki peran yang lebih besar dalam aksi iklim, terutama setelah adanya mundurnya komitmen dari negara-negara maju.

“Dua minggu lalu Presiden juga kan telah umumkan mandatori B50, misalnya. Itu pertama kali di dunia kan, ini sebuah capaian. At the end of the day, nanti kan semua negara itu saling bersaing,” tambahnya.

Tantangan Pendanaan dan Dukungan Internasional

Target ambisius pemerintah dalam transisi energi juga menuntut tanggung jawab kolektif untuk menarik investasi sebesar-besarnya. Dukungan fiskal domestik maupun internasional menjadi sangat penting, mengingat adanya tekanan terhadap negara berkembang untuk lebih berambisi dalam aksi iklimnya.

Tanpa dukungan internasional yang memadai, progres aksi iklim hanya akan berjalan stagnan. Oleh karena itu, Indonesia akan menjajaki berbagai peluang kerja sama dengan pihak internasional, termasuk peningkatan kapasitas, transfer teknologi, dan pendanaan iklim.

Ketegangan dan konflik global yang sedang berlangsung berpotensi menjadi pengalih isu, yang dapat menggeser alokasi fiskal global ke sektor pertahanan dan keamanan, bukan untuk mendanai aksi iklim. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pendanaan iklim yang merupakan salah satu tujuan utama perundingan COP.

Dual Host: Turki dan Australia

Penyelenggaraan COP tahun ini memiliki keunikan karena dipimpin oleh dua host, yaitu Turkiye dan Australia. Turkiye bertindak sebagai tuan rumah yang memimpin COP dan Agenda Aksi, sementara Australia berperan sebagai Presiden Perundingan yang mengelola negosiasi dan membangun kompromi.

Di tengah kemunduran komitmen iklim negara maju, kedua kepemimpinan ini dipandang sebagai komitmen kuat agar proses negosiasi berjalan lancar. Setiap host tentu memiliki keinginan untuk menciptakan legacy dan kepentingan nasionalnya sendiri, yang merupakan hal yang wajar.

“Ya tentunya nanti pasti setiap host ada keinginan legacy-nya, ada kepentingan nasional, wajar-wajar saja,” jelas Tri.

Konteks Global dan Harapan Hasil COP31

COP31 akan berlangsung di tengah situasi global yang penuh konflik dan fragmentasi geoekonomi, yang secara umum tidak menguntungkan. Namun, forum ini dinilai perlu memastikan bahwa aksi iklim berjalan secara adil, bukan sekadar meningkatkan ambisi tanpa dasar yang kuat.

“Mudah-mudahan, Turkiye dan Australia bisa menjadi host yang benar-benar fair,” harap Tri.

Secara keseluruhan, delegasi Indonesia mendorong hasil COP31 yang implementatif, seimbang, dan berkeadilan. Keberhasilan COP31 tidak hanya diukur dari seberapa tinggi ambisi yang disepakati, tetapi juga apakah ambisi tersebut dapat dilaksanakan secara adil, didukung pendanaan dan teknologi yang nyata.

Frequently Asked Questions

What is Kemana Arah Diplomasi Iklim Indonesia di Meja?

Kemana Arah Diplomasi Iklim Indonesia di Meja is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemana Arah Diplomasi Iklim Indonesia di Meja matter?

Kemana Arah Diplomasi Iklim Indonesia di Meja matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion