Skip to content
Bursa

Topics Covered: Soal Lesunya IPO 2026, BEI Pertimbangkan Revisi Target 50 Emiten Baru

Anthony Taylor - wartanaya.com 3 mins read

kan Revisi Target 50 Emiten Baru Topics Covered : Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tantangan dalam mencapai target 50 perusahaan baru yang akan

Topics Covered: Soal Lesunya IPO 2026, BEI Pertimbangkan Revisi Target 50 Emiten Baru

Soal Lesunya IPO 2026, BEI Pertimbangkan Revisi Target 50 Emiten Baru

Topics Covered: Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tantangan dalam mencapai target 50 perusahaan baru yang akan melakukan IPO (Initial Public Offering) pada 2026. Hingga 9 Juli 2026, hanya tujuh perusahaan yang berhasil terdaftar, dengan total dana yang terkumpul mencapai Rp 1,67 triliun. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari–Juli 2025, di mana terdapat 18 emiten baru. Situasi ini memicu Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mempertimbangkan perubahan target jumlah emiten baru.

Prioritas Kualitas dalam IPO

Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, keberhasilan pasar modal tidak hanya diukur dari jumlah IPO atau dana yang terkumpul, tetapi juga dari kualitas emiten yang masuk. Ia menekankan bahwa fondamental perusahaan, tata kelola, serta kesiapan menjadi perusahaan terbuka adalah aspek yang lebih penting dibandingkan volume transaksi.

“Kami tidak bisa menilai sukses pasar perdana hanya dari transaksi atau dana yang dihimpun. Kualitas emiten, seperti tingkat kepercayaan investor dan stabilitas bisnis, menjadi penentu utama,” ujar Saidu dalam keterangan, Jumat (10/7).

Walaupun jumlah IPO saat ini belum mencapai target, Saidu menyatakan bahwa minat calon emiten tetap stabil. Fokus pada seleksi yang lebih ketat diharapkan dapat meningkatkan daya tarik pasar dan membangun kepercayaan investor jangka panjang.

Pipeline IPO dan Sektor Dominan

Saat ini, BEI mengantarkan enam perusahaan ke tahap antrean IPO. Perusahaan-perusahaan ini terutama berasal dari sektor dengan aset besar, seperti industri kesehatan (healthcare), sektor konsumer siklikal, dan basic materials. Namun, jumlah ini masih jauh dari target 50 perusahaan baru yang ditetapkan.

Mengenai target, Saidu mengatakan bahwa BEI sedang mengevaluasi kemungkinan revisi. “Kami sedang diskusikan apakah akan menyesuaikan target atau tidak, dan belum ada keputusan pasti,” tambahnya. Meski demikian, ia memastikan bahwa persiapan untuk IPO tetap berjalan lancar, terutama dengan dukungan regulasi yang terus diperbaiki.

Persaingan dengan Penerbitan EBUS

Dalam upaya menghimpun dana, BEI juga menyoroti kinerja penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Hingga 9 Juli 2026, tercatat 71 penerbitan EBUS dari 43 perusahaan, dengan dana yang dikumpulkan mencapai Rp 76,1 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan tetap aktif mencari alternatif untuk memperoleh modal, meski IPO masih lesu.

Jika enam perusahaan dalam antrean IPO berhasil terdaftar, dana yang terkumpul bisa mencapai setidaknya Rp 2,47 triliun. Namun, Saidu menegaskan bahwa IPO tetap diminati, terutama jika kondisi pasar modal domestik dan sentimen global membaik di paruh kedua tahun ini. “EBUS bisa menjadi pelengkap, tetapi IPO tetap kunci untuk pertumbuhan pasar,” katanya.

Strategi Peningkatan Daya Tarik Pasar

Untuk mendorong lebih banyak perusahaan terlibat dalam IPO, BEI terus memperkuat pendampingan dan edukasi. Program seperti Go Public Seminar, workshop, dan coaching clinic dilaksanakan bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk asosiasi industri dan institusi keuangan. Ini bertujuan mengurangi hambatan calon emiten dalam memahami proses listing.

Reformasi integritas pasar modal, seperti peningkatan transparansi kepemilikan saham dan manajemen risiko, juga menjadi bagian dari strategi BEI. Saidu menjelaskan bahwa kebijakan ini dirancang untuk mendukung proses IPO, bukan menjadi beban bagi emiten. “Kami sedang berada dalam masa transisi, dengan komunikasi intensif kepada seluruh pelaku pasar,” pungkasnya.

Topics Covered ini menunjukkan bahwa BEI secara aktif menyesuaikan strategi dalam menghadapi tantangan pasar. Dengan kombinasi penyesuaian target, peningkatan kualitas emiten, dan diversifikasi instrumen pasar modal, upaya untuk mendorong pertumbuhan ekosistem pasar terus dilakukan. Jika kondisi ekonomi dan kepercayaan investor meningkat, target 50 emiten baru 2026 bisa tercapai dalam waktu dekat.

Join the discussion