Skip to content
Bursa

Skenario Danantara di Balik Merger Garuda (GIAA) – Pelita, Bagaimana Prospeknya?

Richard Jackson - wartanaya.com 3 mins read

Skenario Danantara di Balik Merger Garuda Indonesia bersama Pelita Air kini semakin jelas seiring upaya konsolidasi yang digalakkan oleh Badan Pengelola

Skenario Danantara di Balik Merger Garuda (GIAA) – Pelita, Bagaimana Prospeknya?

Skenario Danantara di Balik Merger Garuda-Pelita

Wartanaya.com – Skenario Danantara di Balik Merger Garuda Indonesia bersama Pelita Air kini semakin jelas seiring upaya konsolidasi yang digalakkan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara. Langkah strategis ini mengarah pada penggabungan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan PT Pelita Air, maskapai yang dimiliki Pertamina. Inisiatif tersebut menjadi bagian integral dari strategi penguatan sektor penerbangan nasional melalui integrasi aset-aset strategis yang telah ada.

Pertemuan tingkat tinggi telah diselenggarakan pada hari Kamis, tanggal 23 Juli, yang dihadiri oleh Dony Oskaria selaku Kepala BP BUMN dan Chief Operating Officer Danantara. Dalam forum tersebut, jajaran direksi Pelita Air diajak membahas arah pengembangan holding maskapai nasional ke depan. Dony menguraikan secara rinci bahwa Garuda Indonesia akan berposisi sebagai entitas induk, sementara Pelita Air akan bergabung menjadi salah satu unit penting dalam ekosistem Garuda Group.

«Dengan konsolidasi ini, perusahaan-perusahaan tersebut akan memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk bersaing dan menguasai pasar,» jelas Dony dalam keterangannya yang dikutip pada Selasa (28/7).

Transformasi Operasional dan Layanan

Di samping penguatan struktur korporasi, Dony menekankan bahwa sektor penerbangan menuntut presisi tinggi serta respons cepat dalam setiap pengambilan keputusan operasional. Tujuannya adalah menjaga kinerja perusahaan tetap optimal di tengah dinamika industri yang terus berubah. BP BUMN dan Danantara juga mendorong peningkatan standar layanan di seluruh ekosistem Garuda Group secara menyeluruh.

Pembenahan mencakup tiga fase utama, yaitu layanan sebelum penerbangan (pre-flight), selama penerbangan (in-flight), hingga setelah penerbangan (post-flight). Integrasi sistem akan dilakukan secara komprehensif, meliputi penjualan tiket, kualitas lounge, pengalaman penumpang di dalam kabin, standar pelayanan awak pesawat, layanan katering, program loyalitas pelanggan, serta pengembangan sumber daya manusia.

Dony menambahkan bahwa penerbangan adalah industri yang harus dikelola secara harian bahkan menit demi menit. «Begitu pesawat terbang, kita sudah bisa mengukur untung atau ruginya satu penerbangan, penting melakukan analisis terhadap setiap rute dan konektivitas,» tambah Dony. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan operasional yang ketat diperlukan untuk memastikan keberhasilan merger.

Analisis Pasar dan Prospek Investasi

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menilai masuknya Pelita Air ke dalam holding yang dipimpin Garuda sebagai katalis strategis yang positif. Langkah ini diperkirakan dapat memperbesar skala armada, memperluas jaringan rute, serta meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan. Namun, Liza mengingatkan bahwa langkah ini belum secara otomatis menjadikan Garuda sebagai penguasa pasar penerbangan nasional.

Menurut Liza, struktur yang sedang dirancang saat ini berbentuk holding, bukan merger langsung. Integrasi akan difokuskan pada sistem tiket, layanan pelanggan, dan program loyalitas. Fundamental Garuda Indonesia mulai menunjukkan tren perbaikan yang menggembirakan. Pada kuartal pertama tahun 2026, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar US$ 762,35 juta, meningkat 5,36% secara tahunan. Sementara itu, rugi bersih menyusut 46,22% menjadi US$ 47,72 juta, meskipun perseroan belum berhasil mencetak laba.

Suntikan modal dari Danantara dinilai mendukung proses perawatan dan reaktivasi armada pesawat. Namun, investor diminta tetap waspada terhadap sejumlah risiko yang masih mengintai GIAA, seperti kenaikan biaya avtur, fluktuasi nilai tukar rupiah, beban utang yang besar, serta kondisi arus kas perusahaan. Liza merekomendasikan strategi hold atau speculative buy untuk saham GIAA.

Ia menjelaskan bahwa GIAA merupakan saham turnaround yang sedang memasuki fase bottoming dengan pola triangle. Saham BUMN tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai saham turnaround berisiko tinggi dibandingkan saham defensif. «Make sure GIAA bisa break out ke Rp 56 dulu baru boleh buy atau average up, dengan target trading awal Rp 65–70,» ujar Liza.

Lebih jauh, Liza menilai prospek jangka panjang GIAA berpotensi membaik jika integrasi dengan Pelita Air mampu menciptakan sinergi dan perseroan berhasil mencetak laba serta arus kas positif secara konsisten. Meskipun katalisnya menarik, eksekusi dan profitabilitas tetap menjadi faktor penentu utama dalam kesuksesan Skenario Danantara di Balik Merger ini.

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Join the discussion