Skip to content
Bursa

Napas Baru Emiten Bakrie BNBR Usai Right Issue Jumbo Rp 4,76 T, Intip Prospeknya

Lisa Davis - wartanaya.com 3 mins read

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) resmi memulai fase baru dalam perjalanan korporasinya. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pelaksanaan penambahan modal

Napas Baru Emiten Bakrie BNBR Usai Right Issue Jumbo Rp 4,76 T, Intip Prospeknya

BNBR Raih Momentum Baru Setelah Right Issue Rp 4,76 Triliun, DER Terjepit Signifikan

Wartanaya.com – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) resmi memulai fase baru dalam perjalanan korporasinya. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pelaksanaan penambahan modal secara hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) yang merupakan kelima kalinya bagi emiten tersebut. Tujuan utama dari aksi korporasi ini adalah melakukan konsolidasi struktur keuangan dengan mengurangi beban utang, khususnya setelah sebelumnya mengakuisisi bisnis Jalan Tol Cimanggis-Cibitung (CCT) pada tahun lalu.

Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan bahwa right issue ini akan memberikan penguatan signifikan terhadap permodalan BNBR. Salah satu indikator kunci yang membaik adalah rasio utang terhadap ekuitas (DER). Berdasarkan proyeksi, rasio ini diperkirakan akan menurun drastis dari level 536% menjadi 211%. Penurunan tajam tersebut utamanya disebabkan oleh alokasi sebagian besar dana hasil right issue untuk melunasi pinjaman yang sebelumnya digunakan dalam proses akuisisi Jalan Tol Cimanggis-Cibitung.

Mekanisme dan Target Penghimpunan Dana

Dalam rangka right issue kali ini, BNBR menetapkan target penghimpunan dana mencapai Rp 4,76 triliun. Target ini akan dicapai melalui penerbitan 89,91 miliar saham baru Seri E. Harga pelaksanaan yang ditetapkan adalah Rp 53 per saham, dengan nilai nominal masing-masing saham baru sebesar Rp 12. Setelah right issue selesai, seluruh saham baru tersebut akan setara dengan 34,15% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.

Setiap pemegang saham lama yang tercatat pada tanggal recording 26 Juni 2026 memiliki hak untuk memperoleh 14 HMETD untuk setiap 27 saham lama yang dimilikinya. Setiap satu HMETD memberikan kesempatan kepada pemegang saham untuk membeli satu saham baru dengan harga Rp 53.

“Pemegang saham lama yang tidak melaksanakan haknya akan mengalami penurunan persentase kepemilikan (dilusi) paling banyak sebesar 34,15% setelah pelaksanaan PMHMETD V,” demikian penjelasan manajemen BNBR dalam prospektus yang dikutip pada Rabu (22/7).

Partisipasi Pemegang Saham Utama

Dalam pelaksanaan right issue ini, dua pemegang saham terbesar BNBR, yaitu Port Fraser International Ltd dan Fountain City Investment Ltd, memilih untuk tidak menggunakan seluruh hak mereka. Sebagai gantinya, kedua pihak tersebut mengalihkan HMETD yang dimilikinya kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) yang berperan sebagai pembeli siaga.

Port Fraser, yang menguasai 22,41% saham BNBR, mengalihkan sekitar 20,14 miliar HMETD kepada BCI. Sementara itu, Fountain City dengan kepemilikan 22,17% mengalihkan sekitar 19,93 miliar HMETD. Pada Selasa (21/7), BNBR mencatat bahwa sebanyak 1,57 miliar saham HMETD telah dieksekusi oleh para pemegang saham. Akibatnya, jumlah saham perseroan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia bertambah menjadi 248,36 miliar saham, naik dari 246,80 miliar saham pada perdagangan sebelumnya.

Alokasi Dana untuk Penguatan Bisnis Jalan Tol

Mengacu pada prospektus right issue, sebagian besar dana yang dihimpun akan difokuskan untuk memperkuat bisnis jalan tol melalui anak usaha PT Bakrie Toll Indonesia (BTI). Dari total dana yang dikumpulkan, sekitar Rp 3,66 triliun dialokasikan kepada BTI untuk melunasi seluruh pokok pinjaman kepada Hartman International Pte. Ltd. Selain itu, Rp 700 miliar digunakan untuk melunasi pinjaman kepada PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU).

Perseroan juga mengalokasikan Rp 200 miliar sebagai tambahan modal bagi PT Bakrie Construction (BCONS). Dana ini akan berfungsi sebagai modal kerja untuk mendukung pelaksanaan proyek Pertamina Hulu Rokan North Dumai Development (PHR NDD). Selanjutnya, Rp 40 miliar disuntikkan ke PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) guna mendukung pematangan lahan sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur dasar Jalan Tol Cimanggis-Cibitung.

Sisa dana hasil right issue akan digunakan sebagai modal kerja perseroan. Penggunaan ini mencakup pembiayaan operasional perusahaan, pembayaran gaji karyawan, sewa kantor, kebutuhan administrasi, layanan teknologi informasi, hingga biaya operasional harian.

Prospek Jangka Menengah BNBR

Dengan menggelar aksi right issue ini, prospek BNBR dipandang lebih menarik. Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai rights issue ini menjadi titik balik bagi BNBR karena fokus utamanya memperbaiki struktur permodalan melalui pelunasan utang akuisisi CCT.

“Kondisi ini memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi dan meningkatkan fleksibilitas keuangan di masa depan,” ujar Elandry kepada Katadata, Rabu (22/7).

Kendati demikian, menurutnya, pasar kini tak lagi hanya melihat keberhasilan rights issue, tetapi juga menunggu kemampuan BNBR mengubah perbaikan struktur keuangan tersebut menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba yang berkelanjutan.

Apabila penggunaan dana berjalan sesuai rencana dan ekspansi bisnis terealisasi, Elandry memperkirakan saham BNBR berpeluang menuju kisaran Rp 110-Rp 120 dalam jangka menengah. Bahkan, apabila kinerja operasional menunjukkan perbaikan signifikan, saham tersebut berpotensi menguji level psikologis Rp 130 hingga Rp 150.

Join the discussion