Skip to content
Bursa

Menakar Prospek GOTO Jelang Rebalancing MSCI, Potensi Dana Keluar Rp 1 Triliun

Richard Jackson - wartanaya.com 3 mins read

Menakar Prospek GOTO Jelang Rebalancing MSCI menjadi topik hangat di kalangan investor. Pasar modal Indonesia kini menanti pengumuman hasil rebalancing MSCI

Menakar Prospek GOTO Jelang Rebalancing MSCI, Potensi Dana Keluar Rp 1 Triliun

GOTO Hadapi Rebalancing MSCI: Risiko Keluar Indeks dan Dampaknya

Wartanaya.com – Menakar Prospek GOTO Jelang Rebalancing MSCI menjadi topik hangat di kalangan investor. Pasar modal Indonesia kini menanti pengumuman hasil rebalancing MSCI yang dijadwalkan pada 13 Agustus 2026. Dalam momen penting ini, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau yang dikenal sebagai GOTO kembali menjadi sorotan utama karena berpotensi keluar dari indeks MSCI Indonesia. Selain memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan saham, review tersebut juga berpotensi memicu aliran keluar dana pasif dari investor institusi global yang selama ini memegang posisi di saham teknologi tersebut.

Proyeksi Analis: GOTO dan CPIN di Garis Tepi

CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) memproyeksikan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sebagai kandidat terkuat yang akan dikeluarkan dari indeks MSCI dalam rebalancing Agustus 2026. Sementara itu, GOTO juga memiliki peluang besar untuk terdepak jika MSCI mencabut status freeze yang masih berlaku pada saham teknologi tersebut. Status pembekuan ini menjadi perhatian serius mengingat volatilitas harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Mirae Asset Sekuritas turut memberikan proyeksi serupa terkait nasib GOTO. Perusahaan sekuritas ini menilai bahwa nasib GOTO dalam rebalancing MSCI Agustus 2026 masih menjadi pertanyaan terbesar bagi para pelaku pasar. Hasil rebalancing dijadwalkan diumumkan pada 13 Agustus 2026 sebelum pembukaan perdagangan di Indonesia dan mulai berlaku pada pembukaan pasar 1 September 2026. Periode ini menjadi momen krusial bagi investor untuk menyesuaikan portofolio mereka.

Kriteria Fundamental GOTO Masih Memenuhi Standar

Wilbert Arifin, Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa secara fundamental GOTO masih memenuhi kriteria MSCI. Saham emiten teknologi tersebut mencatat rasio Annualized Traded Value Ratio (ATVR) tiga bulan sebesar 41,3% dan 12 bulan sebesar 72,8%. Angka-angka ini jauh di atas ambang batas masing-masing 5% dan 10% yang ditetapkan oleh MSCI.

Sehingga tidak ada ketentuan dalam metodologi yang mengharuskan saham GOTO dikeluarkan dari indeks. Namun, persoalan mendasar yang menjadi perhatian belum berubah, tulis Wilbert dalam analisisnya, dikutip Kamis (30/7).

Meskipun demikian, Mirae Asset menilai MSCI masih memiliki ruang diskresi untuk mengevaluasi status GOTO. Sejak Mei 2026, MSCI memantau saham GOTO setelah harganya bertahan di level batas bawah Rp 50 per saham dan sahamnya juga dinilai tidak likuid. Kondisi ini menjadi pertimbangan tambahan bagi MSCI dalam menentukan keputusan akhir terkait posisi GOTO di indeks.

Dampak Potensial: Dana Keluar Rp 1 Triliun

Apabila MSCI memutuskan mengeluarkan GOTO dari indeks, Wilbert memperkirakan dana pasif yang keluar mencapai sekitar Rp 1 triliun. Nilai tersebut setara sekitar 20 miliar saham atau sekitar 2% dari kepemilikan asing di GOTO. Angka ini menunjukkan besaran potensi aliran keluar yang signifikan bagi pasar Indonesia.

Berdasarkan perhitungan Mirae Asset Sekuritas, kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia berpotensi turun hingga 6% apabila GOTO ikut dikeluarkan dari indeks. Namun, Mirae menilai perhatian utama bukan pada potensi keluarnya GOTO, tetapi belum dicabutnya status freeze oleh MSCI. Pemulihan bobot Indonesia di MSCI masih tergantung pada pencabutan status pembekuan itu. Apabila freeze masih diperpanjang hingga November 2026, bobot Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran level saat ini.

Peluang di Tengah Ketidakpastian

Lebih lanjut, Mirae juga menilai kondisi itu bukan risiko baru karena sudah menjadi ekspektasi pasar. Ia justru melihat peluang dari pasar yang telah mencapai titik terendah dengan bobot MSCI yang rendah, indeks yang lebih bersih, hingga pergeseran kepemimpinan pasar emerging market dari saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini membuka kesempatan bagi investor untuk masuk pada valuasi yang menarik.

Mirae tetap optimistis terhadap prospek pasar pada paruh kedua 2026 dan akan memanfaatkan pelemahan akibat rebalancing MSCI menjelang 31 Agustus untuk mengakumulasi posisi. “Sambil menahan diri dari memberikan sinyal ‘aman sepenuhnya’ hingga November 2026,” tulis Wilbert. Langkah ini menunjukkan strategi hati-hati namun tetap terbuka terhadap peluang yang ada.

Source: Bloomberg, MSCI, Mirae Asset Sekuritas Indonesia Research estimates

Join the discussion