Latest Program: Emiten Properti CTRA dan MTLA Ungkap Dampak BI Rate Naik Jadi 5,75% ke Laju KPR
Dampak Kenaikan BI Rate ke 5,75% pada KPR Emiten Properti CTRA dan MTLA Latest Program - Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) Bank Indonesia menjadi 5,75%
Dampak Kenaikan BI Rate ke 5,75% pada KPR Emiten Properti CTRA dan MTLA
Latest Program – Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) Bank Indonesia menjadi 5,75% memberikan dampak signifikan terhadap sektor properti, terutama terhadap laju kredit pemilikan rumah (KPR). Dua emiten properti utama, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Metropolitan Land Tbk (MTLA), menyatakan bahwa penyesuaian bunga ini memaksa mereka untuk menyesuaikan strategi penjualan dan harga produk. Kenaikan BI Rate yang mencapai 25 basis poin sejak awal tahun berdampak pada permintaan pasar, dengan penurunan realisasi pendapatan dan keuntungan bersih di sejumlah emiten.
Kenaikan BI Rate Mendorong Peningkatan Harga KPR
Pada kuartal pertama 2026, CTRA mencatatkan keuntungan bersih sebesar Rp518,30 miliar, menurun 21,57% dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Pendapatan perseroan juga tercatat menurun menjadi Rp2,55 triliun dari Rp2,73 triliun. Direktur Utama CTRA, Candra Ciputra, mengungkapkan bahwa kenaikan bunga memaksa perseroan menaikkan harga KPR sebagai salah satu Latest Program untuk mengimbangi tekanan biaya pinjaman. Meski demikian, ia menegaskan bahwa cicilan KPR masih memiliki durasi panjang, yaitu 10–15 tahun, dengan bunga tetap untuk menarik pembeli.
“Kami memang mengalami penyesuaian harga, tetapi strategi ini dipandu oleh Latest Program yang berfokus pada ketersediaan KPR berbunga tetap untuk menjaga daya beli konsumen,” jelas Candra dalam Paparan Publik CTRA, Jumat (26/6).
Strategi MTLA dalam Menghadapi Kenaikan BI Rate
Sementara itu, MTLA juga mencatat penurunan pendapatan dan keuntungan bersih di kuartal pertama 2026. Pendapatan perseroan mencapai Rp362,14 miliar, turun 0,91% dibandingkan tahun sebelumnya. Keuntungan bersih juga mengalami penurunan 17,4% menjadi Rp62,16 miliar. Direktur MTLA, Olivia Surodjo, mengatakan bahwa perusahaan masih optimis mencapai target penjualan tahun ini, meskipun kenaikan BI Rate mendorong pemberian Latest Program seperti bunga tetap atau berbatas.
“Kami berharap bantuan dari Latest Program yang diberikan bank bisa menjadi penggerak untuk menstabilkan penjualan di tengah tekanan suku bunga,” tambah Olivia.
PT MTLA memperkirakan bahwa bunga KPR akan naik 3–6 bulan ke depan. Namun, perseroan belum merencanakan perubahan target pendapatan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Olivia menekankan bahwa selain Latest Program dari pihak bank, insentif eksternal seperti kebijakan pemerintah juga menjadi faktor penentu dalam menjaga momentum sektor properti.
Kebijakan BI Rate dan Perspektif Analis
Analisis dari Panin Sekuritas menyebutkan bahwa BI Rate masih memiliki ruang untuk penyesuaian. Elandry Pratama, analis dari perusahaan tersebut, memperkirakan bahwa bunga acuan akan berada dalam rentang 5,25% hingga 2,25% hingga akhir 2026. Ia menilai bahwa Bank Indonesia masih bisa melakukan pelonggaran moneter jika inflasi terkendali dan volatilitas eksternal mulai berkurang.
“Dengan ketersediaan Latest Program yang lebih fleksibel, sektor properti bisa bangkit kembali. Terutama di segmen residensial, daya beli masyarakat diprediksi akan meningkat jika bunga KPR stabil atau bergerak turun,” jelas Elandry.
Permintaan Pasar dan Kesiapan Emiten Properti
Kenaikan BI Rate berdampak luas terhadap permintaan pasar, dengan masyarakat cenderung lebih hati-hati dalam mengambil kredit. Emiten properti seperti CTRA dan MTLA, yang bergantung pada KPR sebagai sumber pendapatan utama, harus menghadapi tantangan ini. Meski demikian, keduanya menunjukkan kesiapan untuk menyesuaikan kebijakan dan memperkuat Latest Program mereka. Candra Ciputra menyatakan bahwa perusahaan akan terus fokus pada penawaran KPR yang menarik, sementara Olivia Surodjo menekankan pentingnya kerja sama dengan pihak bank untuk mengembangkan program bunga yang lebih strategis.
Analisis menunjukkan bahwa emiten properti perlu menyesuaikan struktur produk agar tetap kompetitif. Selain penyesuaian harga, keduanya juga mempertimbangkan variasi tenor cicilan dan kemudahan akses KPR. Hal ini menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas sektor properti di tengah kenaikan bunga yang terus berlanjut.
Perkiraan dan Perkembangan ke Depan
Dengan situasi yang terus berubah, para emiten properti akan terus memantau dampak kenaikan BI Rate terhadap pasar. Jika Latest Program KPR dari bank bisa tetap berjalan dengan baik, perusahaan-perusahaan ini berharap permintaan akan stabil atau meningkat. Analis mengingatkan bahwa sektor properti tetap menjadi pilihan investasi yang menarik, meskipun kebijakan moneter perlu disesuaikan secara bertahap untuk menjaga keseimbangan ekonomi.
“Pertumbuhan pasar properti akan bergantung pada seberapa cepat Latest Program bisa menyesuaikan diri dengan perubahan suku bunga. Namun, jika inflasi terus terkendali dan kebijakan moneter tetap fleksibel, sektor ini masih punya peluang untuk pulih,” tukas Elandry.
Dengan data yang diungkap oleh CTRA dan MTLA, pengamat pasar menyatakan bahwa adaptasi cepat dan strategi yang tepat akan menjadi kunci sukses emiten properti di tengah tantangan bunga acuan yang tinggi. Kedua perusahaan ini menunjukkan komitmen untuk tetap menjaga daya tarik produk mereka kepada calon pembeli, sekaligus memperkuat posisi di pasar yang dinamis.
