IHSG Longsor 1,88% di Akhir Pekan, Saham CUAN, ARCI dan TINS Turun Paling Dalam
IHSG Longsor 1 88 di Akhir pekan ini mencatatkan penurunan signifikan yang menggerakkan seluruh pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
IHSG Longsor 1 88 di Akhir Pekan: Saham Blue Chip Tertekan
Wartanaya.com – IHSG Longsor 1 88 di Akhir pekan ini mencatatkan penurunan signifikan yang menggerakkan seluruh pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.196 poin pada Jumat, 24 Juli, setelah kehilangan 118,88 poin atau setara dengan 1,88% dari penutupan sebelumnya. Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam beberapa minggu terakhir dan mencerminkan sentimen negatif investor terhadap kondisi pasar global.
Volume perdagangan sepanjang sesi menunjukkan tekanan jual yang luas di berbagai sektor. Dari total 796 emiten yang tercatat, sebanyak 587 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 104 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan. Sebanyak 105 saham lainnya ditutup tanpa perubahan signifikan. Aktivitas perdagangan mencatatkan 2,24 juta transaksi dengan volume mencapai 37,62 miliar lembar saham, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp 17,61 triliun. Total kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 10.894 triliun.
Performa Sektor dan Saham yang Terkikis
Seluruh sektor yang terpantau Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup dalam zona merah. Sektor industri dasar mengalami penurunan paling dalam sebesar 3,02%, yang turut menarik beberapa emiten besar ke bawah. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) kehilangan 4,10% nilainya dan ditutup di Rp 585 per lembar. Sementara itu, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Timah Tbk (TINS) keduanya mencatatkan penurunan tajam sebesar 7,05%, ditutup di Rp 1.055 dan Rp 3.430 masing-masing. PT Amman Mineral Tbk (AMMN) juga bergabung dalam tren penurunan dengan kehilangan 4,27% menjadi Rp 4.040.
Sektor perbankan tidak luput dari tekanan jual yang masif. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan penurunan paling signifikan di antara bank-bank besar, anjlok 5,71% ke level Rp 4.130. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mengalami koreksi sebesar 2,22% menjadi Rp 3.520, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 1% ke Rp 2.960. Hanya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mampu bertahan stabil di Rp 6.275.
Dilihat dari sisi nilai transaksi, BMRI menjadi saham paling aktif diperdagangkan dengan nilai mencapai Rp 1,68 triliun. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyusul di posisi kedua dengan Rp 1,23 triliun, sementara BBCA mencatatkan Rp 1,18 triliun dalam aktivitas perdagangan.
Tren Penurunan Pasar Asia
Penurunan IHSG sejalan dengan tren negatif yang terjadi di berbagai bursa Asia. Indeks Nikkei Jepang anjlok 2,79% ke level 64.572 poin. Shanghai Composite China juga mencatatkan penurunan 1,61% ke 3.814,2 poin. Sementara itu, Hang Seng Hong Kong mengalami koreksi 0,98% dan ditutup di 24.963,23 poin.
Penurunan sinkron di pasar Asia mencerminkan kekhawatiran investor yang semakin meningkat terhadap kondisi ekonomi global, dengan saham-saham Indonesia mengikuti jejak penurunan regional yang terjadi.
Para analis pasar memprediksi bahwa tekanan jual ini mungkin akan berlanjut hingga awal pekan depan, tergantung pada perkembangan data ekonomi global dan sentimen mata uang asing terhadap rupiah. Investor disarankan untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di tengah ketidakpastian pasar yang masih tinggi.
