Skip to content
Bursa

Happy Hapsoro Borong 3,45 Juta Saham SINI, Rogoh Kocek Rp 17,26 Miliar

Richard Jackson - wartanaya.com 3 mins read

Pengusaha sukses Hapsoro Sukmonohadi, yang dikenal luas dengan nama Happy Hapsoro, kembali menunjukkan kepercayaan terhadap PT Singaraja Putra Tbk (SINI)

Happy Hapsoro Borong 3,45 Juta Saham SINI, Rogoh Kocek Rp 17,26 Miliar

Happy Hapsoro Borong 3 45 Juta Saham SINI dengan Nilai Rp 17,26 Miliar

Wartanaya.com – Pengusaha sukses Hapsoro Sukmonohadi, yang dikenal luas dengan nama Happy Hapsoro, kembali menunjukkan kepercayaan terhadap PT Singaraja Putra Tbk (SINI). Melalui mekanisme pembelian langsung di pasar terbuka, ia berhasil mengakuisisi 3,45 juta lembar saham pada Kamis, 23 Juli 2025. Dengan harga Rp 5.000 per lembar, total nilai investasi yang dikeluarkan oleh Hapsoro mencapai Rp 17,26 miliar. Angka ini mencerminkan keyakinan kuatnya terhadap prospek perusahaan tambang batu bara tersebut.

Laporan keterbukaan informasi yang diserahkan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 27 Juli 2025, mengonfirmasi transaksi ini. Hapsoro secara eksplisit menyatakan bahwa pembelian saham ini dilakukan dengan tujuan investasi jangka panjang, bukan untuk spekulasi jangka pendek. Langkah ini sejalan dengan strategi konsolidasi kepemilikan yang telah ia jalankan selama beberapa waktu terakhir.

Transformasi Struktur Kepemilikan Saham

Transaksi terbaru ini membawa perubahan signifikan pada struktur kepemilikan saham Hapsoro di SINI. Sebelum pembelian, ia telah memegang 43,29 juta lembar saham. Setelah mengakuisisi tambahan 3,45 juta lembar, total kepemilikannya naik menjadi 46,74 juta lembar. Namun, fenomena menarik terjadi pada proporsi hak suara yang justru menurun dari 9 persen menjadi 3,89 persen. Penurunan ini bukan disebabkan oleh penjualan saham, melainkan akibat dilusi dari peningkatan jumlah saham beredar.

Dilusi tersebut terjadi setelah perusahaan melaksanakan akselerasi hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Dalam proses rights issue ini, Hapsoro tidak menggunakan seluruh haknya. Sebagian alokasi dialihkan kepada investor strategis dan pembeli siaga, termasuk afiliasi konglomerat Prajogo Pangestu serta Boy Thohir. Keputusan ini diambil untuk mendanai akuisisi anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO), yaitu PT Kemilau Mulia Sakti (KMS).

Meskipun Hapsoro kembali membeli saham di pasar terbuka, persentase kepemilikannya masih berada di bawah level sebelum aksi korporasi. Hal ini menunjukkan bahwa pembelian 3,45 juta lembar saham merupakan bagian dari upaya normalisasi kepemilikan setelah rights issue.

Strategi Ekspansi dan Prospek Pertambangan Kalimantan

Dokumen resmi dari BEI menunjukkan bahwa Hapsoro tetap mempertahankan status sebagai pemegang saham pengendali. Pembelian saham ini menjadi sinyal kuat bahwa ia tidak gentar terhadap perubahan struktur permodalan SINI yang bernilai sekitar Rp 3,6 triliun. Angka ini dialokasikan untuk ekspansi melalui pengambilalihan KMS yang dinilai strategis untuk pertumbuhan perusahaan.

SINI kini berambisi menjadi pemain utama dalam industri tambang batu bara di Kalimantan. Transaksi senilai Rp 1,73 triliun tersebut memungkinkan SINI menguasai 99 persen saham KMS. Nilai ini setara dengan 110,26 persen dari total aset perusahaan, menjadikannya sebagai transaksi material yang akan berdampak signifikan pada neraca keuangan SINI.

Akuisisi ini membuka akses langsung ke tambang batu bara milik PTRO di Kutai Barat, Kalimantan Timur. KMS memegang 99 persen saham PT Cristian Eka Pratama (CEP), entitas yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi hingga Juli 2038. Cadangan batu bara yang dimiliki CEP mencapai 69,25 juta ton di konsesi seluas 4.776 hektare, berdasarkan laporan tenaga ahli per 31 Desember 2025.

Secara umum, akuisisi KMS berpotensi memberikan dampak positif terhadap usaha pertambangan batu bara perseroan melalui peningkatan aset, cadangan, kapasitas produksi, dan pertumbuhan laba, tulis manajemen dalam keterbukaan informasi BEI.

Di sisi lain, PTRO tidak hanya berperan sebagai penjual KMS. Perusahaan tersebut juga masih menjadi kontraktor pertambangan bagi anak usaha SINI, PT Pasir Bara Prima (PBP), melalui kontrak yang berlaku hingga tahun 2032. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan efisiensi operasional dan standar pembangunan infrastruktur yang lebih baik di masa depan.

Join the discussion