Skip to content
Bursa

Danantara Ungkap Progres Merger GIAA dan Pelita, Mampu Jadi Pemain Regional?

Lisa Davis - wartanaya.com 3 mins read

Badan Pengelola Badan Investasi Daya Anagata atau Danantara memberikan update terkini mengenai proses penggabungan dua maskapai penerbangan milik negara. PT

Danantara Ungkap Progres Merger GIAA dan Pelita, Mampu Jadi Pemain Regional?

Merger GIAA dan Pelita Air: Peluang Jadi Pemain Regional

Wartanaya.com – Badan Pengelola Badan Investasi Daya Anagata atau Danantara memberikan update terkini mengenai proses penggabungan dua maskapai penerbangan milik negara. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan Pelita Air kini semakin mendekati realisasi merger yang diyakini akan menempatkan Garuda Group sebagai kekuatan utama di pasar regional.

Struktur Kepemilikan dan Integrasi Bisnis

Dony Oskaria, sebagai Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, menegaskan bahwa Pelita Air akan menjadi bagian tak terpisahkan dari Garuda Group. Saat ini, kepemilikan saham Pelita Air didominasi oleh PT Pertamina sebesar 99,997 persen, dengan sisa saham dipegang oleh Pertamina Pedeve.

“Perusahaan-perusahaan ini nanti dengan mereka bersatu, akan memiliki kemampuan untuk bersaing ke depannya dan menguasai industri,” jelas Dony dalam pernyataan resminya yang dikutip pada Jumat (24/5).

Diskusi mengenai masterplan merger telah dilakukan Dony bersama direksi Pelita Air pada Kamis (23/7). Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya memperkuat holding maskapai nasional dengan meningkatkan kualitas layanan secara menyeluruh, mencakup fase pre-flight, in-flight, hingga post-flight.

Jadwal dan Target Realisasi Merger

Proses penggabungan kedua maskapai pelat merah ini mengalami penyesuaian jadwal beberapa kali. Berdasarkan informasi terbaru yang diterima Katadata.co.id, Danantara menargetkan merger selesai pada semester pertama tahun 2026. Sebelumnya, target ini sempat digeser ke kuartal pertama 2026. Hingga Jumat (24/7), pemerintah masih melanjutkan pembahasan terkait implementasi merger tersebut.

Menurut Danantara, integrasi ini tidak hanya memperkuat posisi di pasar domestik, tetapi juga membuka peluang ekspansi ke kawasan regional yang lebih luas.

Sistem Terintegrasi dan Efisiensi Operasional

Rohan Hafas, Managing Director Danantara Indonesia, menjelaskan bahwa holdingisasi terhadap Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air bertujuan meningkatkan efisiensi operasional melalui integrasi ekosistem bisnis yang lebih baik.

Dalam skema yang dirancang, ketiga maskapai akan mengadopsi sistem pemesanan terpadu, program loyalitas GarudaMiles yang terintegrasi, serta sistem registrasi penumpang yang seragam. Fleksibilitas pengelolaan kapasitas kursi antar-maskapai dalam satu grup juga menjadi salah satu keunggulan utama dari struktur baru ini.

Sistem ini memungkinkan penumpang Garuda Indonesia yang terdampak overbooking dialihkan langsung ke penerbangan Citilink atau Pelita Air tanpa perlu dipindahkan ke maskapai eksternal seperti Lion Air atau Batik Air.

Optimalisasi Rute dan Armada

Selain peningkatan layanan, holdingisasi diharapkan memperbesar armada Garuda Group dan mengoptimalkan rute-rute yang saat ini dilayani secara paralel oleh ketiga maskapai. Rohan memberikan contoh rute Jakarta-Surabaya yang saat ini dioperasikan oleh Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air secara bersamaan.

Menurutnya, jika tingkat keterisian masing-masing penerbangan hanya mencapai 60 persen, integrasi dalam satu holding akan membuat pengelolaan kapasitas lebih efisien sehingga tingkat okupansi keseluruhan dapat ditingkatkan secara signifikan.

Posisi Keuangan Garuda Indonesia

Merger ini berlangsung di tengah upaya pemerintah memperbaiki kinerja Garuda Indonesia yang masih mencatatkan kerugian. Pada kuartal pertama 2026, Garuda mencatat rugi bersih sebesar US$ 41,62 juta atau setara Rp 707,5 miliar.

Meski mengalami kerugian, pendapatan perseroan justru meningkat menjadi US$ 762,35 juta dibandingkan US$ 723,56 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Komposisi pendapatan tersebut terdiri dari penerbangan berjadwal senilai US$ 648,10 juta, penerbangan tidak berjadwal US$ 24,98 juta, serta pendapatan lainnya US$ 89,27 juta.

Beban usaha GIAA juga mengalami penurunan dari US$ 718,36 juta menjadi US$ 713,22 juta secara tahunan. Sejalan dengan efisiensi tersebut, jumlah karyawan Garuda Indonesia dan entitas anak pada 31 Maret 2026 berkurang menjadi 10.724 orang dari posisi akhir 2026 sebanyak 10.852 orang. Pengurangan ini disebut sebagai siklus normal akibat adanya pegawai yang pensiun dan berhenti bekerja.

Join the discussion