Skip to content
Ekonomi Sirkular

Retno Marsudi Ungkap Ancaman Krisis Air di Tengah Ekspansi Pengembangan AI

Anthony Taylor - wartanaya.com 3 mins read

Retno P. Marsudi, yang saat ini menjabat sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk permasalahan air, menyampaikan peringatan

Retno Marsudi Ungkap Ancaman Krisis Air di Tengah Ekspansi Pengembangan AI

Retno Marsudi Ungkap Ancaman Krisis Air Global di Tengah Ekspansi Pesat Pengembangan Kecerdasan Buatan

Wartanaya.com – Retno P. Marsudi, yang saat ini menjabat sebagai Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk permasalahan air, menyampaikan peringatan keras mengenai potensi kelangkaan sumber daya vital yang mengancam masa depan umat manusia. Ancaman krisis air ini muncul bersamaan dengan pesatnya perkembangan ekonomi digital serta teknologi akal imitasi atau artificial intelligence (AI) yang mengubah lanskap perekonomian global.

Menurut data yang disampaikan oleh Retno Marsudi Ungkap Ancaman Krisis, sebagian besar pusat pengolahan data global, tepatnya mencapai 40 persen, berlokasi di kawasan yang mengalami tekanan air tinggi. Kondisi ini berarti kebutuhan akan air bersih untuk mendinginkan server dan menjalankan operasional data center melebihi jumlah yang tersedia secara alami. Sejalan dengan itu, permintaan terhadap air terus melonjak seiring dengan kemajuan sektor digital dan implementasi kecerdasan buatan di berbagai negara.

Dampak Ekspansi Teknologi terhadap Kebutuhan Air yang Meningkat Drastis

Menurut penjelasan Retno, perkembangan teknologi AI mendorong lonjakan kebutuhan air hingga 129 persen di sepanjang rantai pasokannya. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat masa depan perekonomian dunia sangat bergantung pada infrastruktur digital yang membutuhkan pasokan air stabil dan berkelanjutan. Setiap kali model AI dilatih atau dijalankan, konsumsi air untuk pendinginan dan operasional meningkat secara signifikan.

“Tantangan untuk pusat data AI, yang mana masa depan perekonomian kita, adalah bagaimana menggunakan air secara efisien, lebih efisien. Dan tentunya teknologi banyak sekali berperan dalam hal ini,” ujar Retno dalam sambutannya di Indonesia Net Zero Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (1/8).

Forum yang sama juga menyoroti ketidakmerataan akses air bersih global yang menjadi masalah struktural. Retno mencatat bahwa lebih dari 2,2 miliar manusia masih kesulitan mendapatkan air minum yang aman setiap hari. Selain itu, 3,5 juta orang belum memiliki fasilitas sanitasi yang layak, sementara 4 miliar penduduk dunia merasakan dampak kelangkaan air dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Realita ini menunjukkan adanya paradoks di mana air dialirkan ke berbagai fasilitas teknologi canggih, namun kebutuhan dasar sebagian besar penduduk masih belum terpenuhi sepenuhnya. Retno Marsudi Ungkap Ancaman Krisis ini sebagai momen penting untuk merefleksikan prioritas pembangunan berkelanjutan.

Perubahan Iklim Memperparah Situasi Krisis Air Global

Fenomena peningkatan permintaan air bersamaan dengan menurunnya ketersediaan menjadi isu krusial yang harus segera ditangani. Tidak hanya untuk mendukung ekonomi digital, kebutuhan air juga terus bertambah akibat pertumbuhan populasi dan tuntutan pangan yang semakin tinggi di seluruh dunia.

“Sebanyak 72% air tawar digunakan untuk sektor pertanian. Berarti kalau airnya terganggu, ketahanan pangan juga akan terganggu,” tegas Retno.

Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia ini menekankan bahwa perubahan iklim turut memperburuk kondisi yang ada secara global. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat kolaborasi dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keenam yang berkaitan dengan air bersih dan sanitasi layak bagi semua masyarakat dunia.

“Tidak ada satu individu atau negara pun yang dapat menghadapi tantangan air dan perubahan iklim sendirian,” tutup Retno dengan penekanan pada pentingnya kerja sama internasional.

Langkah Konkret Menghadapi Tantangan Air di Era Digital

Retno Marsudi Ungkap Ancaman Krisis dengan menawarkan solusi berbasis teknologi dan kebijakan yang terintegrasi. Ia menyarankan agar negara-negara mengembangkan sistem daur ulang air di pusat data dan mengadopsi teknologi pendinginan yang lebih hemat air. Selain itu, investasi dalam infrastruktur air yang tahan terhadap perubahan iklim menjadi prioritas utama.

Di tingkat regional, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan AI tercepat di Asia Tenggara. Hal ini menuntut pemerintah untuk menyusun regulasi yang memastikan ekspansi teknologi tidak mengorbankan ketersediaan air untuk kebutuhan dasar masyarakat. Kolaborasi antara sektor publik, swasta, dan masyarakat sipil menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi tantangan ini.

Retno juga menyoroti pentingnya pendidikan dan kesadaran publik tentang konservasi air. Dengan memahami hubungan antara teknologi digital dan kebutuhan air, masyarakat dapat mengambil peran aktif dalam menjaga keberlanjutan sumber daya vital ini untuk generasi mendatang.

Join the discussion