Skip to content
Teknologi

Visit Agenda: Ericsson: AI dan 5G Harus Jalan Bersamaan, Penundaan Spektrum Hambat Adopsi AI

Patricia Miller - wartanaya.com 3 mins read

Visit Agenda: AI dan 5G Perlu Berjalan Bersama, Penundaan Spektrum Hambat Adopsi Teknologi Visit Agenda menyoroti pentingnya pengembangan 5G sebagai fondasi

Visit Agenda: Ericsson: AI dan 5G Harus Jalan Bersamaan, Penundaan Spektrum Hambat Adopsi AI

Visit Agenda: AI dan 5G Perlu Berjalan Bersama, Penundaan Spektrum Hambat Adopsi Teknologi

Visit Agenda menyoroti pentingnya pengembangan 5G sebagai fondasi penggunaan AI di Indonesia. Menurut Ericsson, keberhasilan penerapan kecerdasan buatan di Tanah Air sangat bergantung pada kecepatan pemerintah dalam mengalokasikan frekuensi spektrum yang diperlukan. Kedua teknologi ini saling berkaitan, sehingga penundaan dalam pengembangan 5G akan berdampak signifikan pada kemajuan AI.

Ketergantungan AI pada Jaringan 5G

Ericsson Indonesia menekankan bahwa AI memerlukan infrastruktur jaringan yang stabil dan kapasitas tinggi untuk berjalan optimal. Konektivitas 5G, dengan kecepatan tinggi dan latensi rendah, menjadi kunci utama agar layanan AI dapat diterapkan secara luas. Tanpa pendukungan dari 5G, adopsi AI akan terhambat, karena banyak aplikasi AI membutuhkan transfer data yang cepat dan konsisten.

“Adopsi AI harus sejalan dengan peningkatan kualitas jaringan 5G. Penundaan dalam alokasi spektrum akan menghambat kemajuan teknologi ini,” jelas Nora Wahby, President Director Ericsson Indonesia, dalam wawancara eksklusif dengan Katadata.co.id.

Menurut analisis Ericsson, kebutuhan akan spektrum mid-band dan 3,5 GHz sangat kritis untuk menunjang pertumbuhan AI. Frekuensi ini memungkinkan jaringan 5G bekerja secara efisien, terutama untuk layanan berbasis AI yang membutuhkan throughput tinggi. Pemerintah Indonesia perlu mempercepat langkah-langkah teknis agar tidak tertinggal dari negara-negara lain yang sudah lebih maju.

Penggunaan Spektrum dan Langkah yang Dibutuhkan

Ericsson menyoroti bahwa Indonesia baru memasuki tahap awal pengembangan jaringan 5G. Saat ini, pemerintah telah menyediakan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz, tetapi masih perlu menambah alokasi untuk mid-band serta 3,5 GHz. Dengan spektrum yang lebih lengkap, kecepatan transmisi data bisa meningkat, yang menjadi dasar bagi penerapan AI di berbagai sektor.

“Kami mendukung upaya pemerintah untuk menyediakan spektrum, tetapi masih ada langkah-langkah penting yang harus diambil agar jaringan 5G bisa mendorong adopsi AI secara massal,” tambah Nora dalam wawancara dengan Visit Agenda.

Perusahaan juga sedang mengembangkan solusi AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan. Contohnya, penggunaan AI for RAN yang mampu mengoptimalkan pengambilan keputusan di level jaringan. Ini membantu operator memperbaiki kualitas koneksi dan mengurangi latensi, yang krusial untuk layanan AI.

Perbandingan dengan Negara-Negara Lain

Dalam laporan terbaru, Ericsson Mobility Report menyebutkan bahwa pengguna 5G di Indonesia pada akhir 2025 diperkirakan mencapai 14%, sedangkan 86% masih menggunakan 4G. Data ini menunjukkan bahwa adopsi 5G di Indonesia masih lambat dibandingkan negara-negara lain.

“Jika kita tidak mempercepat pengembangan 5G, pertumbuhan AI akan tertinggal,” ujar Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia, dalam laporan yang dirilis oleh Visit Agenda.

Di India, pengguna 5G pada akhir 2025 mencapai 35%, sementara di Amerika Utara angkanya mencapai 79%. Prediksi Ericsson menyebutkan bahwa pada 2031, pengguna 5G di Indonesia akan meningkat hingga 56%, dibandingkan 81% di India dan 92% di Amerika Utara. Ini menegaskan bahwa penundaan spektrum menjadi hambatan utama.

Perspektif Masa Depan dan Visi Ericsson

Ericsson menyambut baik upaya pemerintah dalam menyediakan spektrum untuk 5G, tetapi menekankan bahwa ini hanya awal dari perjalanan menuju ekosistem AI yang matang. Perusahaan berharap peningkatan investasi di bidang jaringan bisa diimbangi dengan strategi adopsi AI yang lebih agresif.

“Visit Agenda telah mengungkap bahwa 5G dan AI harus dikembangkan secara bersamaan. Kami akan terus mendorong penggunaan spektrum mid-band agar jaringan bisa menunjang pertumbuhan ekonomi digital,” papar Stanislaus Bawono.

Dengan 5G yang lebih luas, AI bisa digunakan untuk berbagai aplikasi seperti kesehatan, pendidikan, dan industri. Ericsson berharap kolaborasi antara pemerintah, operator, dan perusahaan teknologi bisa mempercepat proses ini, sehingga Indonesia tidak ketinggalan dalam era digital yang semakin cepat.

Langkah untuk Meningkatkan Kinerja Jaringan

Ericsson menyarankan pemerintah untuk mempercepat alokasi frekuensi 3,5 GHz, yang menjadi komponen penting dalam menjaga kecepatan jaringan 5G. Spektrum ini memungkinkan layanan AI seperti analisis data real-time atau IoT bisa berjalan optimal.

“Visit Agenda menyoroti bahwa pengelolaan spektrum harus menjadi prioritas untuk memastikan AI bisa dikembangkan secara cepat. Jika tidak, kecepatan adopsi teknologi ini akan terus tertinggal,” tambah Nora Wahby.

Menurut Ericsson, penggunaan AI dalam jaringan 5G juga bisa mempercepat efisiensi layanan. Misalnya, sistem AI mampu mengoptimalkan penggunaan daya dan memperbaiki kualitas koneksi secara otomatis. Dengan integrasi ini, layanan digital bisa lebih responsif dan siap melayani kebutuhan masyarakat.

Join the discussion