GoPay Salip Gojek Jadi Mesin Laba GoTo, Bisnis Fintech Jadi Lebih Menguntungkan
Perubahan signifikan terjadi dalam struktur pendapatan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk selama kuartal kedua tahun 2026. GoPay Salip Gojek Jadi Mesin penghasil
GoPay Salip Gojek Jadi Mesin Laba GoTo
Wartanaya.com – Perubahan signifikan terjadi dalam struktur pendapatan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk selama kuartal kedua tahun 2026. GoPay Salip Gojek Jadi Mesin penghasil laba utama bagi konglomerasi teknologi ini. Selama beberapa tahun terakhir, divisi transportasi dan pengiriman melalui Gojek memang menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan. Namun, era baru telah tiba di mana layanan teknologi finansial GoPay mengambil alih posisi tersebut sebagai kontributor profit terbesar.
Transformasi ini terlihat jelas dari capaian EBITDA yang telah disesuaikan. Divisi fintech GoPay berhasil mencatatkan laba operasional sebesar Rp 481 miliar, sedikit melampaui divisi On-demand Services yang mencapai Rp 464 miliar. Perbedaan ini menunjukkan bahwa margin profitabilitas GoPay kini lebih tinggi dibandingkan layanan transportasi dan pengantaran yang selama ini menjadi andalan utama perusahaan.
Kinerja Fintech yang Terus Menguat
Hans Patuwo, Direktur Utama Grup GoTo, menjelaskan bahwa sektor teknologi keuangan terus menunjukkan momentum positif yang kuat. Hal ini memungkinkan GoPay untuk pertama kalinya melampaui profitabilitas divisi On-demand Services secara konsisten.
“Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” ujar Hans dalam pernyataan resmi pada Rabu (29/7).
Dalam laporan konsolidasi, GoTo berhasil meraih laba bersih sebesar Rp 252 miliar pada kuartal II 2026. Pencapaian ini menandai dua kuartal berturut-turut perusahaan mencetak keuntungan. Pendapatan bersih secara keseluruhan mengalami pertumbuhan 31% secara tahunan, menyentuh level Rp 5,7 triliun. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan melonjak drastis sebesar 137% menjadi Rp 1,01 triliun. Nilai transaksi inti atau core GTV juga mencatatkan kenaikan 83% menjadi Rp 164 triliun.
GoPay sebagai Motor Pertumbuhan Utama
Kinerja GoPay menjadi pendorong utama pertumbuhan GoTo pada kuartal kedua tahun ini. Pendapatan bersih divisi fintech melonjak 53% menjadi Rp 2,07 triliun, dengan EBITDA yang melonjak 447% menjadi Rp 481 miliar. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan ekosistem digital semakin memberikan hasil yang nyata bagi perusahaan.
Dari sisi operasional, jumlah pengguna yang aktif bertransaksi setiap bulan atau Monthly Transacting Users (MTU) mencapai 28,8 juta orang, naik 29% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Volume transaksi bahkan melonjak 91% menjadi 2,4 miliar transaksi. Core GTV GoPay juga meningkat 91% menjadi Rp 157 triliun. Nilai buku pinjaman tercatat tumbuh 58% menjadi Rp 11 triliun, menunjukkan kepercayaan pasar terhadap layanan pembiayaan digital.
Sebaliknya, pertumbuhan bisnis Gojek mulai mengalami perlambatan. Meskipun pendapatan bersih On-demand Services masih lebih besar sebesar Rp 3,6 triliun, laju pertumbuhannya hanya 20% secara tahunan. EBITDA divisi ini hanya naik 41% menjadi Rp 464 miliar. GTV Gojek tumbuh 2% menjadi Rp 16,7 triliun, sementara jumlah pesanan yang berhasil diselesaikan naik 3%. Perlambatan ini mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin beralih ke layanan digital lainnya.
Proyeksi dan Target Masa Depan
Data tersebut mengonfirmasi bahwa sektor fintech kini berkembang jauh lebih cepat dibandingkan layanan transportasi dan pengiriman. GoTo juga memperkirakan bahwa perubahan struktur komisi dari maksimal 20% menjadi 8% untuk layanan ojek online roda dua akan mulai berdampak pada kinerja perusahaan pada kuartal III 2026. Perubahan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing Gojek di tengah persaingan yang semakin ketat.
Merespons dinamika tersebut, GoTo menaikkan target EBITDA bisnis fintech menjadi Rp 1,7 hingga Rp 1,8 triliun, naik dari target sebelumnya Rp 1,4 hingga Rp 1,5 triliun. Sebaliknya, target EBITDA On-demand Services diturunkan menjadi Rp 1,4 hingga Rp 1,5 triliun dari level sebelumnya Rp 1,7 hingga Rp 1,8 triliun, seiring dengan pembatasan komisi menjadi 8%. Pergeseran target ini menegaskan bahwa dalam beberapa tahun mendatang, mesin pertumbuhan GoTo diproyeksikan semakin bergantung pada bisnis fintech.
Sementara Gojek dan GoFood akan diarahkan menjadi bisnis yang lebih efisien, menjaga margin, dan tidak lagi mengandalkan promosi agresif untuk mendorong pertumbuhan. GoPay Salip Gojek Jadi Mesin penghasil laba yang lebih stabil dan dapat diprediksi untuk masa depan perusahaan. Strategi ini diharapkan dapat memberikan fondasi yang kuat bagi ekspansi bisnis GoTo ke segmen pasar lainnya di Indonesia dan regional.
