Skip to content
Opini

“Standpoint Feminism” Melihat yang Tersembunyi di Balik Angka Statistik

Matthew Smith - wartanaya.com 4 mins read

Dalam masa kini, hampir setiap pembuat kebijakan mengandalkan jargon kebijakan berbasis bukti sebagai pedoman utama. Kita cenderung memandang data sebagai

“Standpoint Feminism” Melihat yang Tersembunyi di Balik Angka Statistik

Teori Standpoint Feminism: Menyingkap Realitas yang Tersembunyi dalam Data

Paradoks Statistik yang Dianggap Netral

Wartanaya.com – Dalam masa kini, hampir setiap pembuat kebijakan mengandalkan jargon kebijakan berbasis bukti sebagai pedoman utama. Kita cenderung memandang data sebagai entitas yang dingin, objektif, dan bebas dari nilai-nilai subjektif. Angka-angka statistik diyakini mampu mencerminkan realitas apa adanya tanpa distorsi apapun.

Namun, apakah asumsi tersebut benar adanya? Pertanyaan ini membawa kita pada salah satu konsep paling menarik dalam ilmu sosial, yaitu teori Standpoint Feminism. Meskipun namanya menyertakan kata feminism, teori ini sebenarnya menawarkan wawasan yang jauh melampaui isu-isu perempuan semata.

Teori ini menegaskan bahwa pengetahuan selalu bermula dari perspektif tertentu. Tidak ada satu pun cara memandang dunia yang benar-benar bebas dari posisi sosial, pengalaman hidup, maupun pilihan-pilihan yang telah dibuat manusia sepanjang perjalanan mereka.

Keputusan Manusia di Balik Angka

Lalu, bagaimana hubungannya dengan statistik resmi yang kita gunakan sehari-hari?

Jawabannya mungkin terdengar mengejutkan: bahkan statistik yang disusun dengan metodologi paling ketat pun tetap diawali oleh serangkaian keputusan manusia. Sebelum angka-angka tersebut dipublikasikan, seseorang telah menentukan apa yang layak diukur, siapa yang akan diwawancarai, variabel apa yang dianggap penting, bagaimana sebuah pekerjaan didefinisikan, bahkan indikator mana yang akan dijadikan tolok ukur keberhasilan pembangunan.

Di titik inilah statistik tidak pernah sepenuhnya netral.

Studi Kasus Produk Domestik Bruto

Ambil contoh Produk Domestik Bruto (PDB), indikator ekonomi yang menjadi rujukan hampir seluruh negara di dunia. PDB menghitung nilai barang dan jasa yang diperdagangkan di pasar.

Namun, ketika seorang ibu menghabiskan waktu berjam-jam merawat anak, memasak, membersihkan rumah, atau merawat orang tua lanjut usia, aktivitas itu nyaris tidak tercermin dalam PDB. Padahal tanpa kerja perawatan tersebut, banyak pekerja tidak mungkin dapat beraktivitas secara produktif di pasar tenaga kerja.

Masalahnya bukan karena statistik keliru. Masalahnya adalah kita memilih untuk mengukur sebagian realitas, sementara sebagian lainnya dibiarkan tidak terlihat.

Ketidakterlihatan Statistik

Inilah yang disebut sebagai statistical invisibility — ketika sesuatu yang sangat penting bagi masyarakat justru menghilang karena tidak masuk ke dalam sistem pengukuran.

Pelajaran dari Standpoint Feminism bukanlah bahwa statistik harus menjadi alat perjuangan kelompok tertentu. Sebaliknya, teori ini mengajak kita bertanya lebih kritis: siapa yang menjadi pusat perhatian ketika data dikumpulkan, dan siapa yang justru berada di pinggir sehingga pengalamannya luput dari pengukuran?

Konteks Transformasi Data Nasional

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di tengah transformasi tata kelola data nasional. Indonesia kini memasuki era ketika data menjadi fondasi berbagai kebijakan strategis, mulai dari perlindungan sosial, pembangunan ekonomi, hingga kecerdasan artifisial (AI).

Dalam konteks ini, kualitas data tidak lagi hanya ditentukan oleh ketepatan angka, tetapi juga oleh kemampuan data menangkap keragaman pengalaman masyarakat.

Contoh Survei Ketenagakerjaan

Bayangkan sebuah survei ketenagakerjaan yang hanya bertanya, “Apakah Anda bekerja?” Seorang perempuan yang mengelola usaha kecil dari rumah sambil mengasuh anak mungkin menjawab “tidak” karena menganggap aktivitasnya bukan pekerjaan formal.

Di sisi lain, statistik akan mencatatnya sebagai bukan pekerja, padahal ia menghasilkan nilai ekonomi setiap hari. Kesalahan tidak terjadi pada responden maupun petugas lapangan, melainkan pada desain pertanyaan yang belum cukup mampu menangkap kompleksitas kehidupan nyata.

Tantangan Ekonomi Digital

Fenomena serupa juga muncul dalam ekonomi digital. Semakin banyak masyarakat memperoleh penghasilan dari media sosial, toko daring, pekerjaan lepas (freelance), atau ekonomi kreatif berbasis platform. Banyak di antaranya dilakukan dari rumah dan bercampur dengan aktivitas domestik.

Jika instrumen statistik masih menggunakan definisi yang dibangun pada era ekonomi konvensional, maka sebagian aktivitas ekonomi baru akan terus berada di wilayah abu-abu.

Perspektif Baru untuk Statistik Modern

Di sinilah Standpoint Feminism memberikan perspektif yang segar. Ia mengingatkan bahwa kelompok yang selama ini kurang terlihat justru sering kali menjadi sumber informasi paling penting untuk memperbaiki sistem pengukuran. Dengan mendengarkan pengalaman mereka, statistik menjadi lebih kaya, bukan lebih bias.

Konsep ini sebenarnya sejalan dengan evolusi statistik modern. Banyak kantor statistik dunia kini mengembangkan survei penggunaan waktu (time-use survey), statistik ekonomi perawatan (care economy), statistik disabilitas, hingga indikator kesejahteraan subjektif. Tujuannya bukan menggantikan indikator ekonomi klasik, melainkan melengkapi gambaran yang selama ini belum utuh.

Frequently Asked Questions

What is Standpoint Feminism Melihat yang Tersembunyi di Balik?

Standpoint Feminism Melihat yang Tersembunyi di Balik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Standpoint Feminism Melihat yang Tersembunyi di Balik matter?

Standpoint Feminism Melihat yang Tersembunyi di Balik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion