New Policy: Pariwisata Indonesia: Tumbuh Tinggi Saja Tidak Cukup
sih Tidak Cukup New Policy - Pariwisata Indonesia memperlihatkan pertumbuhan yang menjanjikan, tetapi pertumbuhan tinggi saja tidak cukup untuk mengejar
Pariwisata Indonesia: Pertumbuhan Tinggi Masih Tidak Cukup
New Policy – Pariwisata Indonesia memperlihatkan pertumbuhan yang menjanjikan, tetapi pertumbuhan tinggi saja tidak cukup untuk mengejar posisi yang lebih baik di kawasan Asia Tenggara. Dalam semester pertama 2026, peningkatan jumlah wisatawan asing mencapai 7% hingga 8%, menjadikannya pertumbuhan kedua terbesar di kawasan tersebut, hanya tertinggal dari Vietnam. Meski angka ini terdengar baik, kebijakan New Policy harus dirancang agar dapat memperkuat posisi Indonesia di antara negara-negara tetangga.
Kebijakan New Policy: Jalan Keluar dari Ketertinggalan
Angka pertumbuhan tersebut tercapai meskipun jumlah wisatawan ke Thailand turun dan Malaysia hampir stagnan, meski sedang menjalankan kampanye besar-besaran “Visit Malaysia 2026.” Wisatawan yang memilih Indonesia juga menunjukkan belanja yang lebih tinggi, dengan rata-rata Rp23,5 juta per orang, sekitar 40% lebih besar dibandingkan wisatawan di Vietnam atau Malaysia. Namun, di balik prestasi ini, tantangan besar masih menghiasi.
Pendekatan kedua menimbulkan kekhawatiran. Meski mengalami peningkatan, jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia masih menduduki peringkat kelima dari enam negara utama ASEAN. Pada semester pertama 2026, Thailand menerima sekitar 16 juta wisatawan, Malaysia 13 juta, Vietnam 12,3 juta, dan Singapura 8,5 juta. Indonesia hanya mencapai 7,5 juta, jauh di belakang. Ini membuktikan bahwa New Policy perlu diimplementasikan secara lebih intensif untuk mengejar peringkat yang lebih baik.
Kebijakan Visa: Pendorong Utama Pertumbuhan Wisatawan
Salah satu faktor utama yang menahan wisatawan adalah prosedur visa. Malaysia memberikan akses bebas visa untuk 158 negara, Thailand untuk 93, dan Vietnam hampir 40 negara — dan Vietnam melakukannya tanpa menunggu negara lain menawarkan kebijakan serupa. Indonesia baru membebaskan belasan negara, sementara wisatawan dari negara lain harus membayar biaya visa hingga Rp500 ribu per orang. Bagi keluarga dengan empat anggota, biaya ini mencapai Rp2 juta sebelum liburan dimulai, membuat mereka memilih negara tetangga yang lebih murah.
Rute Penerbangan: Kunci Akses Wisatawan
Pertumbuhan wisatawan juga bergantung pada ketersediaan rute penerbangan. Wisatawan tidak akan datang jika kursi pesawat tidak ada. Rute langsung dari pasar utama seperti India, Timur Tengah, dan Australia ke Indonesia masih lebih sedikit dibandingkan ke Bangkok atau Kuala Lumpur. Kebijakan New Policy harus memastikan jaringan penerbangan yang lebih luas dan efisien, agar pengunjung dapat dengan mudah menjangkau destinasi yang menarik.
Anggaran Promosi: Jumlah yang Kurang Tepat
Anggaran promosi juga menjadi salah satu aspek kritis. Negara-negara yang sukses meningkatkan jumlah wisatawan biasanya mengalokasikan sekitar US$8,5 per wisatawan target. Jepang, misalnya, menggunakan standar ini dan berhasil meningkatkan jumlah wisatawan dari 6 juta menjadi hampir 43 juta dalam 15 tahun. Indonesia masih jauh di bawah angka tersebut, sehingga New Policy perlu meninjau ulang strategi promosi untuk lebih menarik perhatian pasar global.
Dalam triwulan I-2026, wisatawan Indonesia yang berwisata ke Vietnam meningkat 43,9%, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan wisatawan internasional yang datang ke Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa New Policy harus menggali potensi pasar tetangga dan memastikan kunjungan wisatawan tidak hanya terpusat di satu atau dua negara.
Paruh kedua 2026 menjadi kesempatan emas untuk menerapkan New Policy. Dua negara utama yang sebelumnya kompetitif, yaitu Thailand dan Malaysia, kini mengalami penurunan. Permintaan wisatawan global diperkirakan tumbuh 3% sampai 4%, dan musim liburan akhir tahun sudah mendekat. Kebijakan New Policy yang diterapkan mulai Oktober bisa mendatangkan tamu-tamu baru di bulan N, jika dirancang dengan tepat.
Bagi negara terbesar di Asia Tenggara — terbesar penduduknya, terluas wilayahnya, dan menurut penilaian dunia terkaya alam dan budayanya di kawasan — posisi kelima jelas bukan tempat yang sepadan. Pertanyaannya: mengapa kita bisa berada di sana, dan bagaimana keluar dari sana?
Kebijakan New Policy perlu memperbaiki tiga faktor utama: visa, rute penerbangan, dan anggaran promosi. Dengan menggabungkan kebijakan yang lebih menguntungkan, jaringan penerbangan yang optimal, serta promosi yang lebih kuat, Indonesia bisa mengejar posisi papan atas di ASEAN. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan pariwisata tidak hanya berkembang, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak ekonomi yang besar.
