Skip to content
Opini

New Policy: Memutus Rantai Generasi Sandwich melalui Jaminan Sosial

Richard Wilson - wartanaya.com 3 mins read

Memutus Rantai Generasi Sandwich melalui Jaminan Sosial New Policy - Narasi Indonesia Emas 2045 yang optimis berdampingan dengan realitas yang tak

New Policy: Memutus Rantai Generasi Sandwich melalui Jaminan Sosial

Memutus Rantai Generasi Sandwich melalui Jaminan Sosial

New Policy – Narasi Indonesia Emas 2045 yang optimis berdampingan dengan realitas yang tak terbantahkan: peningkatan jumlah lansia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sejak tahun 2021, populasi Indonesia mulai bergeser dari dominasi usia muda ke kelompok usia yang lebih tua. Saat ini, persentase penduduk berusia di atas 60 tahun sudah mencapai lebih dari 10%, dan proyeksi menunjukkan bahwa angka ini akan meningkat menjadi 20% pada 2045. New Policy ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menghadapi tantangan tersebut.

Keberadaan lansia yang terus meningkat membawa dampak signifikan terhadap struktur ekonomi keluarga. Fenomena “generasi sandwich” yang semakin mengemuka menjadi indikator utama dari tekanan ini. Generasi muda, yang seharusnya fokus pada pengembangan diri, justru terjebak dalam beban ganda: memenuhi kebutuhan pribadi, merawat anak, dan menopang orang tua yang memasuki masa pensiun. Tanpa bantuan dari New Policy, mereka terus-menerus mengorbankan masa depan untuk menjamin kesejahteraan keluarga.

Ekonomi Generasi Muda dan Peran Jaminan Sosial

Peran jaminan sosial dalam mengurangi beban ekonomi generasi muda sangat kritis. Jika tidak diperkuat, mereka akan terus menanggung biaya perawatan lansia yang meningkat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil. Dalam situasi seperti ini, pendapatan bulanan menjadi lebih dari sekadar alat mencapai tujuan pribadi—ini adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik.

“New Policy harus mencakup semua lapisan masyarakat, termasuk pekerja informal, agar tidak hanya generasi muda yang terbebani.”

Kebutuhan akan perlindungan jaminan sosial justru semakin mendesak. Banyak lansia tidak memiliki tabungan atau aset finansial yang memadai, sehingga bergantung sepenuhnya pada penghasilan anak muda. New Policy yang efektif harus menyediakan sistem penunjang ekonomi yang memastikan generasi sandwich tidak kehilangan peluang untuk membangun masa depan tanpa mengorbankan kesejahteraan orang tua.

Perbedaan Usia Harapan Hidup dan Dampak pada Sistem Sosial

Masalah generasi sandwich semakin kompleks karena perbedaan signifikan antara usia harapan hidup dan usia harapan hidup sehat. Data 2024 menunjukkan bahwa selisihnya mencapai 10,8 tahun—dari usia harapan hidup 71,57 tahun hingga usia harapan hidup sehat 60,7 tahun. Ini berarti sekitar 11 tahun dari masa pensiun hingga akhir hayat dialami dalam kondisi kesehatan menurun.

Selain itu, perbandingan jumlah pekerja informal dan formal juga memperparah situasi. Pada tahun 2025, jumlah pekerja informal mencapai 86,59 juta, sementara pekerja formal hanya 59,18 juta. Rasio 60:40 ini menunjukkan bahwa sebagian besar lansia tetap bekerja di sektor yang tidak stabil. New Policy harus mampu memperkuat jaminan sosial bagi mereka, terutama dalam bentuk layanan kesehatan yang lebih terjangkau dan perawatan lansia yang berkelanjutan.

Kondisi ini memicu pertanyaan serius: bagaimana New Policy bisa menjadi solusi utama? Jawabannya terletak pada penguatan sistem jaminan sosial yang mengakomodasi kebutuhan lansia dan generasi muda secara seimbang. Dengan New Policy, lansia tidak hanya diberikan perlindungan finansial, tetapi juga layanan kesehatan yang memadai, sehingga mengurangi tekanan pada anak muda.

Penguatan Jaminan Sosial sebagai Solusi Strategis

New Policy membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Pertama, perluasan manfaat jaminan kehidupan (JHT) dan jaminan pensiun (JP) harus menjadi prioritas. Saat ini, program ini belum mencakup semua lapisan masyarakat, khususnya pekerja informal. New Policy harus memastikan bahwa setiap individu, baik formal maupun informal, memiliki akses ke jaminan pensiun yang layak.

Kedua, pengembangan program perawatan jangka panjang menjadi kunci. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) harus diintegrasikan dengan layanan perawatan lansia, seperti kunjungan kesehatan ke rumah atau pusat layanan khusus. Contoh dari Korea Selatan, yang sukses menggabungkan JKN dengan pendekatan perawatan lansia, menunjukkan bahwa New Policy dapat mengambil pelajaran dari negara lain untuk meningkatkan efektivitas.

Ketiga, koordinasi sistem jaminan sosial yang terpadu diperlukan. New Policy harus memastikan bahwa program jaminan sosial saling terhubung, sehingga meminimalkan kebutuhan anak muda untuk menanggung biaya perawatan orang tua. Dengan peningkatan ini, generasi muda dapat fokus pada pengembangan diri, sementara lansia memiliki jaminan yang memadai untuk masa depan mereka.

Join the discussion