Latest Program: Pekerja Anak, Kekerasan yang Dipelihara
Pekerja Anak: Masalah yang Kompleks Latest Program - Isu pekerja anak tidak dapat dipecahkan hanya dengan pandangan ekonomi semata.
Pekerja Anak: Masalah yang Kompleks
Latest Program – Isu pekerja anak tidak dapat dipecahkan hanya dengan pandangan ekonomi semata. Faktor-faktor seperti dinamika keluarga, kebiasaan sosial, dan kelemahan sistem kebijakan juga turut memengaruhi. Anak-anak yang bekerja sering kali terjebak dalam kondisi kemiskinan berputar, di mana hambatan budaya dan struktur sosial menjadi penghalang utama.
Keluarga yang Justru Memperkuat Keterlibatan Anak dalam Kerja
Banyak keluarga yang seharusnya melindungi anak justru menjadi penentu utama dalam memasukkan mereka ke dunia kerja. Baik orang tua, kerabat dekat, maupun anggota keluarga lain, seperti paman, tante, atau saudara, sering kali berperan aktif dalam mempekerjakan anak. Hal ini menciptakan lingkaran yang mengikat anak pada pekerjaan sejak dini.
Peran Pengusaha dan Tekanan Ekonomi
Pengusaha memanfaatkan kondisi anak sebagai sumber daya yang mudah dikendalikan. Anak-anak cenderung lebih patuh, cepat menuruti instruksi, dan kurang memperhatikan kelelahan. Karena itu, mereka menjadi korban eksploitasi yang mengalami dampak fisik dan mental jangka panjang.
Stagnasi Angka Pekerja Anak: Tanda Kebijakan yang Tidak Efektif
Menurut catatan BPS pada 2025, jumlah pekerja anak di Indonesia mencapai 1,05 juta, yaitu 1,80% dari populasi anak usia 5–17 tahun. Angka ini tidak mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2016, yang mencatatkan 1,07 juta pekerja anak. Stagnasi ini menunjukkan bahwa kebijakan yang dijalankan belum mampu menembus akar masalah.
Teori yang Membelakangi Fenomena Ini
Menurut teori ekonomi rumah tangga, keputusan untuk melibatkan anak dalam kerja dianggap sebagai strategi rasional untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Sementara itu, teori segmentasi pasar kerja menjelaskan bahwa dominasi sektor informal membuka ruang bagi pekerja anak karena kurangnya pengawasan. Selain itu, teori lingkaran kemiskinan antargenerasi menekankan bahwa partisipasi anak dalam pekerjaan bisa memperkuat kondisi kemiskinan di masa depan.
Program MBG: Solusi yang Tidak Mencukupi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap sebagai upaya pemerintah untuk mengatasi pekerja anak. Namun, studi terhadap subsidi pendidikan serupa di Bangladesh menunjukkan bahwa MBG lebih efektif meningkatkan kehadiran anak di sekolah, bukan mengurangi jumlah pekerja anak. Hal ini karena keputusan untuk bekerja berasal dari kebutuhan finansial keluarga yang mendesak.
“Keluarga miskin cenderung tidak memiliki keterampilan dan pendidikan yang memadai, sehingga kesulitan mendapatkan pekerjaan layak. Anak-anak pun rentan ikut bekerja untuk menopang penghasilan keluarga,”
— Lubis (2018).
“Disfungsi keluarga, seperti perceraian atau kekerasan, meningkatkan risiko anak terlibat dalam pekerjaan. Kurangnya dukungan orang tua juga berkontribusi pada kesenjangan ini,”
— UNICEF (2017).
Jalan Keluar: Kebijakan yang Terintegrasi
Mengatasi pekerja anak memerlukan pendekatan berkelanjutan yang mencakup tiga aspek utama: nutrisi, finansial, dan edukasi. Meski MBG penting sebagai pilar nutrisi, program ini harus ditujukan secara spesifik kepada anak yang paling membutuhkan, bukan secara universal. Intervensi yang lebih luas dan sistematis diperlukan untuk mengubah struktur yang memperkuat pekerjaan anak.
