Skip to content
Makro

Topics Covered: Ekonom Nilai Kenaikan BI Rate Efektif untuk Jaga Rupiah dan Inflasi

Matthew Smith - wartanaya.com 3 mins read

Jaga Rupiah dan Inflasi Topics Covered: Dalam dua bulan terakhir, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk meningkatkan suku bunga acuan (BI Rate) secara

Topics Covered: Ekonom Nilai Kenaikan BI Rate Efektif untuk Jaga Rupiah dan Inflasi

Ekonom Nilai Kenaikan BI Rate Efektif untuk Jaga Rupiah dan Inflasi

Topics Covered: Dalam dua bulan terakhir, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk meningkatkan suku bunga acuan (BI Rate) secara signifikan, mencapai total kenaikan 100 basis poin. Langkah ini dianggap efektif dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengendalikan ekspektasi inflasi. Meskipun ada dampak pada sektor perbankan, seperti kenaikan biaya dana dan bunga kredit, kebijakan BI tetap dinilai relevan untuk menjaga kestabilan ekonomi nasional.

Langkah BI dalam Menjaga Stabilitas Rupiah dan Inflasi

BI menaikkan BI Rate sebanyak 25 basis poin menjadi 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026, setelah sebelumnya melakukan kenaikan sebesar 25 basis poin pada RDG Mingguan 9 Juni 2026. Dengan kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni 2026, kebijakan tersebut terus diperkuat untuk mengatasi tekanan inflasi dan menjaga daya tarik mata uang rupiah.

“Peningkatan suku bunga acuan ini bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Langkah pre-emptive ini juga penting untuk memastikan inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1%,” jelas Perry Warjiyo dalam hasil RDG BI, Rabu (18/6).

Berikutnya, BI tetap berkomitmen pada kebijakan moneter yang ketat, termasuk dalam Topics Covered ini. Meskipun risiko global mulai mereda setelah kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, pengambilan kebijakan tetap dianggap perlu untuk menjaga konsistensi dalam menjaga nilai tukar dan inflasi.

Analisis Ekonomi Terhadap Kenaikan BI Rate

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menilai kebijakan BI hingga kini cukup berhasil dalam mencapai tujuan utamanya, yakni menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi. Dalam Topics Covered ini, analisis menunjukkan bahwa peningkatan BI Rate juga memberikan dampak positif pada penguatan nilai tukar rupiah, terutama menjelang bulan Juni.

“Kenaikan BI Rate berpotensi meningkatkan daya tarik aset rupiah, sekaligus menjangkar ekspektasi inflasi ke depan. Meski ada tekanan pada biaya dana perbankan, pertumbuhan kredit dan transaksi digital tetap menunjukkan ketahanan,” ujar David kepada Katadata, Senin (22/6).

Dalam beberapa bulan terakhir, rupiah terus menunjukkan tren penguatan. Pada 17 Juni 2026, nilai tukar mencapai Rp17.730 per dolar Amerika Serikat (US$), menguat 0,76% dibandingkan akhir Mei 2026. BI juga mencatat aliran modal asing masuk secara neto US$3,9 miliar pada triwulan II 2026 hingga pertengahan Juni, berbanding terbalik dengan arus keluar US$0,8 miliar di triwulan I 2026.

Kinerja ekonomi digital menunjukkan peningkatan signifikan. Volume transaksi pembayaran mencapai 5,22 miliar pada Mei 2026, tumbuh 28,14% secara tahunan. Transaksi QRIS melonjak 95,10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan Topics Covered ini, BI telah menunjukkan bahwa pengetatan moneter tidak menghambat aktivitas ekonomi secara signifikan.

Pertumbuhan kredit perbankan pada Mei 2026 mencapai 11,51% secara tahunan (yoy), meningkat dari 9,98% pada April. Perry Warjiyo menambahkan bahwa penguatan rupiah didukung oleh kebijakan BI yang konsisten, daya tarik imbal hasil aset domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.

“Dengan Topics Covered ini, Bank Indonesia meyakini nilai tukar Rupiah akan tetap stabil dan cenderung menguat. Ini terbukti dari data transaksi digital serta aliran modal asing yang positif,” ungkap Perry.

Terlepas dari peningkatan suku bunga, sektor perbankan menunjukkan ketahanan. Kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin berpotensi meningkatkan biaya dana, terutama jika pemerintah menarik kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang ditempatkan di Himbara. Namun, David Sumual memperkirakan pertumbuhan kredit belum akan berubah signifikan karena masih didukung oleh permintaan modal kerja yang kuat.

Join the discussion