Skip to content
Makro

Rupiah Diproyeksi Melemah Hari Ini, Terseret Kenaikan Harga Minyak

Anthony Rodriguez - wartanaya.com 3 mins read

Pasar valuta asing Indonesia mencatatkan pergerakan yang menarik perhatian para pelaku investasi. Mata uang Garuda sempat menunjukkan penguatan terhadap dolar

Rupiah Diproyeksi Melemah Hari Ini, Terseret Kenaikan Harga Minyak

Rupiah Diproyeksi Melemah Hari Ini Terseret Kenaikan Harga Minyak Global

Wartanaya.com – Pasar valuta asing Indonesia mencatatkan pergerakan yang menarik perhatian para pelaku investasi. Mata uang Garuda sempat menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat pada sesi perdagangan pagi. Namun, para analis pasar valuta asing cenderung optimis bahwa tren penguatan ini tidak akan bertahan lama. Kenaikan harga komoditas minyak mentah diproyeksikan menjadi pendorong utama pelemahan rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, rupiah membuka perdagangan pada level Rp 17.914 per dolar AS. Angka ini merepresentasikan kenaikan sebesar 0,02% atau setara dengan 3 poin. Pantauan Katadata yang dilakukan hingga pukul 09.10 WIB menunjukkan pergerakan tipis namun signifikan. Pada saat itu, nilai tukar rupiah tercatat di Rp 17.916 per dolar AS dengan kenaikan 0,01% atau 1 poin. Pergerakan ini mencerminkan sentimen positif awal sebelum tekanan eksternal mulai terasa.

Sebelumnya, penutupan perdagangan terjadi di level Rp 17.917 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.888 per dolar AS, maka rupiah tercatat melemah sebesar 0,16%. Penurunan ini menunjukkan adanya tekanan jual yang mulai meningkat seiring dengan perkembangan situasi geopolitik internasional. Para trader memantau dengan cermat pergerakan harga minyak sebagai indikator utama arah nilai tukar rupiah.

Analisis Pasar dan Proyeksi Nilai Tukar

Tren pelemahan diprediksi akan berlanjut sepanjang perdagangan hari ini. Sentimen negatif utama berasal dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang signifikan. Peningkatan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi penyebab utama tekanan pada mata uang Indonesia. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang mempengaruhi aliran modal asing ke pasar Indonesia.

Lukman Leong, analis dari Doo Financial, menyampaikan bahwa potensi tertekannya rupiah masih terbuka lebar. Faktor pemicu utamanya adalah kembali naiknya harga minyak global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal ini berdampak langsung pada neraca perdagangan Indonesia sebagai importir minyak terbesar di kawasan Asia Tenggara.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Lukman, Kamis (23/7).

Meskipun demikian, Lukman menilai bahwa pelemahan rupiah tidak akan berlangsung terlalu dalam. Sentimen domestik yang mulai membaik dalam beberapa waktu terakhir menjadi penopang penting. Ia memperkirakan pergerakan rupiah akan berada dalam kisaran Rp 17.850 hingga Rp 18.000 per dolar AS sepanjang hari ini. Kisaran ini mencerminkan keseimbangan antara tekanan eksternal dan dukungan dari faktor domestik.

Faktor Domestik dan Tekanan Eksternal

Dari sisi lain, Fikri C. Permana, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, memproyeksikan rupiah berpotensi mengalami depresiasi tipis hingga Rp 17.920 per dolar AS. Menurut Fikri, tekanan utama masih datang dari tingginya risiko geopolitik di Timur Tengah. Hal ini mendorong kenaikan lanjutan harga minyak mentah global yang mempengaruhi biaya impor Indonesia.

Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset-aset aman dan membebani mata uang negara berkembang. Di sisi domestik, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% pada rapat Dewan Gubernur bulan ini menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar. Kebijakan ini memberikan sinyal stabilitas moneter di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, aksi jual bersih (net sell) investor asing di pasar saham Indonesia sebesar Rp 920 miliar juga berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Namun, masuknya dana Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke sistem keuangan domestik diperkirakan dapat menjadi penopang bagi pergerakan rupiah dan membantu meredam tekanan yang berasal dari sentimen eksternal. Kombinasi faktor-faktor ini akan menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.

Join the discussion