Skip to content
Makro

Babak Baru Drama Utang Whoosh: Estafet Beralih dari Danantara ke Kemenkeu

Anthony Rodriguez - wartanaya.com 4 mins read

Drama pembiayaan proyek kereta cepat Whoosh kini memasuki fase baru yang signifikan. Setelah sebelumnya melempar tanggung jawab pembayaran kepada Danantara

Babak Baru Drama Utang Whoosh: Estafet Beralih dari Danantara ke Kemenkeu

Perubahan Strategi Penyelesaian Utang Whoosh: Kemenkeu Ambil Alih dari Danantara

Wartanaya.com – Drama pembiayaan proyek kereta cepat Whoosh kini memasuki fase baru yang signifikan. Setelah sebelumnya melempar tanggung jawab pembayaran kepada Danantara, Kementerian Keuangan resmi memutuskan untuk mengambilalih kewajiban penyelesaian utang tersebut. Langkah ini menandai pergeseran strategi dalam menangani beban finansial proyek strategis nasional ini.

Mekanisme Pengalihan dan Pengelolaan

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengonfirmasi bahwa sekitar 60% saham KCIC akan dipindahkan dari Danantara ke Kementerian Keuangan. Seluruh proses administrasi pengalihan tersebut ditargetkan rampung pada pertengahan September 2026. Purbaya menekankan bahwa percepatan proses ini akan dilakukan agar semuanya sudah clear sesuai target waktu yang ditetapkan.

“Kereta api cepat Jakarta-Bandung, ini kan diserahkan dari Danantara, kasih ke Kementerian Keuangan, prosesnya akan kami percepat. Pertengahan September sudah akan clear,” kata Purbaya usai bertemu COO Danantara Dony Oskaria di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Meskipun aset KCIC nantinya akan berada di bawah pengelolaan Kementerian Keuangan, pelaksanaannya tidak akan langsung menjadi tanggung jawab APBN. Pengelolaannya akan dilakukan melalui salah satu Special Mission Vehicle (SMV) fiskal milik pemerintah, seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan lembaga pembiayaan infrastruktur lainnya. Pendekatan ini memastikan bahwa pengelolaan tidak membebani anggaran negara secara langsung.

“Dialihkan ke Kementerian Keuangan. Tapi nanti akan kita pakai salah satu tangan BUMN, SMV fiskal kita untuk mengelola itu. Jadi tidak langsung jadi tanggung jawab APBN. Walaupun dikelola pemerintah, tidak akan membebani APBN,” jelas Purbaya.

Struktur Kepemilikan dan Prospek Masa Depan

Kepemilikan KCIC akan berada di bawah Kementerian Keuangan dan tidak lagi dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero). Kebutuhan pendanaan maupun pengelolaan KCIC tidak akan berasal dari suntikan dana APBN. SMV yang ditunjuk juga memiliki potensi keuntungan yang sebagian akan disalurkan kembali ke pengelolaan proyek.

“SMV kan punya untung juga. Sebagian kita biarkan ke situ keuntungannya. Kira-kira begitu gambaran kasarnya,” ungkap Purbaya.

Terkait struktur kepemilikan, porsi saham milik konsorsium Indonesia akan dialihkan kepada pemerintah, sementara mitra asal Cina tetap mempertahankan kepemilikannya. Purbaya menjelaskan bahwa KAI yang semula memiliki 60% saham akan menyerahkan sebagian kepada pemerintah, sementara 40% lainnya tetap ada, termasuk kepemilikan pihak Cina.

“Dia (KAI) kan punya 60%. 60 persen kasih ke kita, 40 persen ada yang lain, masih ada Cina di situ,” terang Purbaya.

Pemerintah Cina juga masih menunjukkan komitmen kuat untuk melanjutkan kerja sama dalam proyek kereta cepat ini. Bahkan, masih terdapat peluang untuk memperpanjang jalur kereta cepat hingga ke Jawa Timur. Purbaya menyebutkan bahwa pihak Cina tampaknya masih bersedia melanjutkan proyek ini dan mungkin akan memperpanjang jalur ke arah Jawa Timur jika diminta.

“Kita tanyakan ke Cina juga, sepertinya mereka masih mau melanjutkan proyek ini dan mungkin kalau disuruh, kami akan perpanjang ke arah Jawa Timur sana,” kata Purbaya.

Nilai Transaksi dan Riwayat Pembiayaan

Dony Oskaria, COO Danantara, menyatakan bahwa nilai transaksi pengalihan kepemilikan KCIC masih dalam proses perhitungan. Detail harga akan diumumkan saat proses penyerahan resmi dilakukan. Whoosh awalnya dibangun melalui PT KCIC, perusahaan patungan konsorsium Indonesia dan Cina. Pembiayaan proyek berasal dari penyertaan modal pemegang saham dan pinjaman dari China Development Bank (CDB).

Sekitar 75% pembiayaan proyek tersebut berasal dari pinjaman CDB, sedangkan sisanya merupakan setoran modal para pemegang saham konsorsium. Proyek ini dibangun dengan total nilai investasi sekitar US$ 7,2 miliar termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sekitar US$ 1,21 miliar dari rencana awal.

Peran Danantara dan Restrukturisasi Utang

Setelah Danantara resmi dibentuk sebagai pengelola investasi BUMN, pemerintah memutuskan penyelesaian utang Whoosh menjadi bagian dari mandat lembaga tersebut. Pada Oktober 2025, Purbaya sempat berujar bahwa Danantara mampu menyelesaikan masalah utang Whoosh tanpa suntikan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Purbaya menilai proyeksi pendapatan dari operasional Whoosh mencapai Rp 1,5 triliun per tahun. Di sisi lain, Danantara memiliki kemampuan untuk menyelesaikan utang KCIC tanpa bantuan pemerintah karena mengelola dividen BUMN. Dengan penerimaan dividen dari BUMN sebesar Rp 80 triliun hingga Rp 90 triliun, Danantara dinilai cukup untuk menutupi sekitar Rp 2 triliun bunga tahunan KCIC.

“Karena Danantara terima dividen dari BUMN kan hamper Rp 80 triliun sampai Rp 90 triliun. Itu cukup untuk menutupi sekitar Rp 2 triliun (bunga) bayaran tahunan KCIC,” kata Purbaya di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (16/10).

Pada pertengahan Februari 2026, pemerintah menyatakan pembahasan restrukturisasi utang dengan kreditur asal Cina hampir selesai. Kala itu, ketika Purbaya ditanyai apakah ia setuju jika utang Whoosh dibayar menggunakan APBN, Purbaya mengatakan Kementerian Keuangan akan mempertimbangkan persyaratan yang diminta kreditor dari Cina. Beberapa bulan setelahnya, Purbaya menyebut restrukturisasi utang Whoosh telah rampung dan pemerintah tinggal mengumumkan skema finalnya kepada publik, yang mana saat itu pemerintah masih menempatkan utang Whoosh menjadi beban Danantara.

Kini, dengan keputusan Kemenkeu untuk mengambilalih tanggung jawab, babak baru dalam drama utang Whoosh telah dimulai. Perubahan ini diharapkan dapat memberikan kepastian dan efisiensi dalam pengelolaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang menjadi salah satu ikon infrastruktur Indonesia.

Frequently Asked Questions

What is Babak Baru Drama Utang Whoosh?

Babak Baru Drama Utang Whoosh is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Babak Baru Drama Utang Whoosh matter?

Babak Baru Drama Utang Whoosh matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion