Special Plan: Anggaran Cekak, Begini Cara Pelalawan Tangani Karhutla Gambut
Karhutla Gambut Special Plan - Bupati Pelalawan Zukri Misran menegaskan bahwa pemerintah daerah sedang merancang strategi khusus untuk mengatasi kebakaran
Anggaran Cekak, Begini Cara Pelalawan Tangani Karhutla Gambut
Special Plan – Bupati Pelalawan Zukri Misran menegaskan bahwa pemerintah daerah sedang merancang strategi khusus untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut. Dalam kondisi anggaran yang sempit akibat kebijakan efisiensi, ia mengungkapkan bahwa Special Plan menjadi pilar utama dalam upaya memitigasi risiko karhutla. Meski dana yang dialokasikan masih terbatas, pihaknya berkomitmen untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang ada, sekaligus mendorong kerja sama dengan pihak luar untuk mengatasi tantangan yang dihadapi.
Karhutla di daerah gambut menjadi perhatian khusus karena dampaknya yang luas. Menurut laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Mei 2026, Pelalawan mengalami luas lahan terbakar mencapai 4.538,8 hektare, dengan sekitar 4.328,4 hektare terdiri dari kawasan gambut. Data ini menunjukkan bahwa daerah ini menjadi salah satu lokasi rawan karhutla di Sumatra. Zukri mengatakan bahwa Special Plan dibuat untuk memastikan bahwa langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan tetap berjalan meskipun dana terbatas.
“Dengan Special Plan, kita bisa menyesuaikan prioritas anggaran agar fokus pada penanggulangan karhutla dan penguatan ekosistem gambut,” ungkap Zukri saat diwawancara di Pangkalan Kerinci, Riau, Jumat (19/6).
Salah satu tantangan utama dalam menangani karhutla di Pelalawan adalah keterbatasan dana. Pada musim kemarau yang dipicu oleh fenomena El-Nino, risiko kebakaran meningkat drastis. Lahan gambut yang mengering menjadi sangat rentan terhadap api, sehingga memperparah upaya pemadaman. Zukri menekankan bahwa Special Plan dirancang untuk mengatasi kondisi ini, dengan mengalokasikan dana lebih efisien dan memperkuat koordinasi antar-instansi.
Pembangunan Sekat Kanal sebagai Solusi Mitigasi
Untuk meminimalisir kekeringan di lahan gambut, pemerintah daerah sedang mendorong pembangunan sekat kanal. Teknik ini membantu menjaga tingkat air tanah, sehingga mengurangi risiko kebakaran. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, hingga saat ini hanya tersedia 45.430 unit sekat kanal di tujuh provinsi rentan karhutla, termasuk Riau. Jumlah tersebut jauh dari target ideal sekitar 538.568 unit. Zukri menjelaskan bahwa dalam Special Plan, pembangunan sekat kanal menjadi komponen penting untuk mencegah kebakaran berulang.
“Special Plan ini tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga pada pencegahan jangka panjang melalui pembangunan sekat kanal,” kata Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat.
Dalam rangka meningkatkan kapasitas pemerintah, Zukri juga mengajak perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut untuk turut berpartisipasi. “Kerja sama dengan dunia usaha menjadi kunci dalam menjalankan Special Plan secara efektif,” tambahnya. Dengan bantuan perusahaan, pemerintah dapat mempercepat distribusi alat bantu dan sumber daya lainnya. Selain itu, pihaknya juga sedang berupaya meningkatkan ketersediaan sumber daya manusia melalui pelatihan dan sosialisasi di tingkat masyarakat setempat.
Strategi Kolaboratif dalam Menangani Karhutla
Karhutla di kawasan gambut memerlukan pendekatan yang holistik, sehingga Special Plan mencakup beberapa strategi. Salah satu langkah yang diambil adalah melibatkan masyarakat adat dan petani dalam program pencegahan. “Masyarakat lokal memiliki pemahaman lebih baik tentang kondisi lahan gambut, jadi mereka harus menjadi bagian dari solusi,” ujar Zukri. Keterlibatan aktif masyarakat diharapkan dapat mengurangi dampak karhutla secara signifikan.
Dalam musim kemarau 2023, BNPB menyiapkan 49 unit helikopter untuk patroli dan penyemprotan air, serta menyalurkan Dana Siap Pakai (DSP) serta alat bantu ke daerah rawan. Special Plan melibatkan penggunaan sumber daya seperti ini, meskipun biaya penanganan darurat bisa sangat besar. Zukri mengatakan bahwa pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi yang efisien, termasuk memanfaatkan teknologi modern dalam pemantauan dan penanggulangan api.
Anggaran cekak menjadi tantangan, tetapi Special Plan juga mencakup penghematan biaya melalui program penggunaan sumber daya yang terpadu. Misalnya, penggunaan teknologi digital untuk mengawasi lingkungan gambut secara real-time. “Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa anggaran yang terbatas bisa menghasilkan dampak maksimal,” tambah Zukri. Ia juga menekankan pentingnya edukasi terhadap masyarakat tentang bahaya karhutla dan cara mencegahnya, agar keberlanjutan Special Plan bisa tercapai.
