Skip to content
Investasi Hijau

Latest Program: Mati Listrik Bergilir, Segini Batu Bara yang Dibakar untuk Menerangi Indonesia

Lisa Davis 3 mins read

i Listrik Bergilir dan Ketergantungan pada Batu Bara Latest Program menjadi sorotan akibat adanya pemadaman listrik bergilir di beberapa wilayah Jawa-Bali

Latest Program: Mati Listrik Bergilir, Segini Batu Bara yang Dibakar untuk Menerangi Indonesia

Program Terbaru: Mati Listrik Bergilir dan Ketergantungan pada Batu Bara

Latest Program menjadi sorotan akibat adanya pemadaman listrik bergilir di beberapa wilayah Jawa-Bali, yang dipicu oleh kurangnya pasokan batu bara. Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengakui bahwa langkah ini merupakan hasil dari keterbatasan stok batu bara yang diakui sebagai energi utama untuk menghasilkan listrik. Namun, pertanyaan besar muncul: seberapa besar kontribusi batu bara dalam menjaga kebutuhan energi nasional? Program Terbaru ini menyoroti kebutuhan akan batu bara yang semakin tinggi dan dampaknya terhadap sistem listrik Indonesia.

Realisasi Pasokan DMO dan Distribusi Energi

Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara mencatat bahwa pasokan batu bara dalam negeri melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) mencapai 246,88 juta ton pada 2025. Dari total tersebut, sekitar 57 persen atau 141,4 juta ton dialokasikan untuk sektor kelistrikan, termasuk pembangkit PLN, IPP, dan industri pengguna listrik. Jumlah ini setara dengan kapasitas 4,7 juta truk berbobot 30 ton, yang jika dijejerkan dengan panjang rata-rata 10 meter per truk, mencapai 47 ribu kilometer—lebih panjang dari keliling bumi yang hanya 40 ribu kilometer. Kebutuhan energi terus meningkat, sehingga Program Terbaru mencoba memastikan distribusi batu bara tetap stabil.

DMO sendiri merupakan komitmen pemerintah untuk memastikan pasokan energi tercukupi dalam negeri. Meski jumlah batu bara yang dipasok untuk PLN hanya 78,41 juta ton pada 2025—naik 17,6 persen dari tahun sebelumnya—masih ada perbedaan signifikan antara konsumsi dan produksi. Produksi nasional batu bara mencapai 817,48 juta ton, dari mana sebagian besar—63,89 persen atau 523,35 juta ton—diekspor. Sementara sisanya, 48,25 juta ton, digunakan sebagai stok. DMO hanya menyumbang 30,2 persen dari total produksi, menunjukkan bahwa Program Terbaru harus lebih agresif dalam memperluas kuota.

Permintaan PLN dan Jenis Batu Bara yang Dibutuhkan

Pemadaman listrik bergilir terjadi karena kebutuhan PLN terutama terpenuhi oleh batu bara kalori menengah, yang memiliki nilai energi tinggi. Namun, ketersediaan jenis batu bara ini semakin terbatas, menyulitkan upaya memenuhi permintaan energi. Dalam Program Terbaru, kenaikan permintaan PLN diperkirakan mencapai 154 juta ton, tetapi hingga pertengahan Juni, kontrak pasokan baru hanya tercapai 134 juta ton, sehingga masih ada defisit sekitar 20 juta ton. Situasi ini memperlihatkan tantangan dalam manajemen batu bara, terutama dalam menjaga ketersediaan energi untuk memenuhi target Program Terbaru.

Kebutuhan PLN pada batu bara kalori menengah terus meningkat, meski harga DMO dipatok lebih rendah dari harga pasar. Harga Batu Bara Acuan (HBA) Juni 2026 mencapai US$121,83 per ton, sementara DMO hanya dihargai US$70 per ton. Perbedaan ini membuat produsen lebih memilih mengekspor batu bara berkualitas tinggi, mengurangi pasokan dalam negeri. Program Terbaru diharapkan mampu mengubah pola ini melalui kebijakan yang lebih menarik bagi produsen.

Perubahan Kebijakan Produksi Nasional

Kementerian ESDM sebelumnya menurunkan target produksi batu bara nasional 2026 menjadi 600 juta ton untuk menjaga keseimbangan pasar dan mendukung harga global. Meski demikian, Program Terbaru memastikan alokasi DMO tetap dianggarkan, menunjukkan upaya untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri. Ada kemungkinan kuota produksi diperbesar jika pasokan dianggap belum cukup, guna memenuhi target pemadaman listrik bergilir dan menekan ketergantungan pada impor.

Program Terbaru ini juga menyoroti pentingnya konsistensi dalam pengelolaan batu bara. Dengan fluktuasi harga dan permintaan, pemerintah harus memastikan bahwa skema DMO tetap efektif. Kebijakan yang diusulkan mungkin mencakup peningkatan investasi dalam pembangkit tenaga surya atau angin, yang bisa mengurangi ketergantungan pada batu bara. Namun, sampai saat ini, batu bara tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

“PLN membutuhkan batu bara medium dengan kalor tinggi, tetapi ketersediaannya semakin sedikit. Harga DMO yang hanya US$70 per ton juga membuat produsen kurang tertarik menyuplai kebutuhan dalam negeri,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di DPR beberapa waktu lalu.

Program Terbaru menunjukkan bagaimana pemerintah dan PLN harus berkolaborasi untuk mengat

Join the discussion