Facing Challenges: Membaca Kondisi Hutan Borneo dari Semangkuk Bubur Pedas Sambas
Membaca Kondisi Hutan Borneo melalui Bubur Pedas Sambas Tantangan dalam Konservasi Bahan Pangan Lokal Facing Challenges - Dalam upaya menghadapi tantangan
Membaca Kondisi Hutan Borneo melalui Bubur Pedas Sambas
Tantangan dalam Konservasi Bahan Pangan Lokal
Facing Challenges – Dalam upaya menghadapi tantangan lingkungan, kuliner tradisional Sambas, Kalimantan Barat, menjadi simbol penting dalam menilai kondisi hutan Borneo. Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Kapuas Sri Sumartini, yang dikenal sebagai Nani, mengungkapkan bahwa bubur pedas tidak hanya makanan khas, tetapi juga cerminan kesehatan ekosistem lokal. Saat diskusi dengan Katadata di Sintang, akhir Juni lalu, Nani menyatakan, “Hilangnya komposisi bahan pangan lokal seperti rebung dan bebuas adalah indikator bahwa lingkungan mulai terganggu.”
Tradisi ini terdiri dari beras yang dipanggang bersama kelapa parut, kemudian dicampurkan dengan sayuran liar, umbi-umbian, serta rempah-rempah. Meski namanya menyebutkan “pedas,” rasa utama berasal dari daun kesum dan daun bebuas yang menjadi elemen khas. Namun, hilangnya dua bahan ini mengubah esensi makanan tersebut, menurut Nani. Perubahan ini terjadi karena konversi hutan ke lahan pertanian atau perkebunan, yang mengurangi area tumbuh alami bahan baku.
Menghadapi tantangan deforestasi, masyarakat Sambas terus berupaya mempertahankan resep asli bubur pedas. Proses memasak yang diwariskan turun-temurun menunjukkan adaptasi terhadap lingkungan yang semakin berubah. Dalam beberapa dekade terakhir, sayuran liar seperti rebung dan bebuas mulai langka karena eksploitasi hutan dan penggunaan pestisida yang mengancam keanekaragaman hayati. Ini menegaskan bahwa kuliner tradisional bukan hanya makanan, tetapi juga alat untuk memahami perubahan ekologis.
Kultur dan Ekosistem yang Terjalin
Kuliner ini awalnya hanya disajikan dalam acara adat kerajaan Melayu Sambas. Situs budaya Indonesia Kaya mencatat bahwa popularitas bubur pedas meningkat setelah persediaan beras berkurang akibat perang dan krisis ekonomi. Penggunaan bahan alami yang bisa ditemukan di sekitar permukiman menjadi solusi untuk menjaga keberlanjutan. Namun, saat ini tantangan terus muncul karena penurunan kualitas tanah dan air yang memengaruhi pertumbuhan tanaman lokal.
Dalam memasak bubur pedas, masyarakat Kalimantan Barat, terutama Suku Dayak, memanfaatkan sumber daya alami secara bijak. Daun kesum tumbuh di area basah seperti tepian sungai, rawa, dan danau, sementara daun bebuas dominan di hutan sekunder dan kawasan pesisir. Kehilangan daun-daun ini tidak hanya memengaruhi rasa masakan, tetapi juga mengancam kehidupan satwa liar yang bergantung pada habitat tersebut. Nani menegaskan bahwa menjaga masakan lokal sesuai komposisi asli adalah bentuk partisipasi masyarakat dalam menjaga ekosistem.
Bubur pedas dianggap sebagai simbol kebersamaan dan keharmonisan masyarakat Melayu Sambas. Buku “Kearifan Lokal Masyarakat Melayu Sambas dalam Tinjauan Filosofi” oleh Rizal Mustansyir menyebutkan bahwa hidangan ini merepresentasikan nilai rukun dalam komunitas. Ungkapan “same-same biak Sambas” yang sering diucapkan menggambarkan keakraban warga yang terjalin lewat makanan. Namun, tantangan dalam menghadapi perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya mengancam keberlanjutan tradisi ini.
Dalam rangka menghadapi tantangan lingkungan, para pelaku kehidupan adat Sambas menggali kembali nilai-nilai keberlanjutan yang terkandung dalam masakan tradisional. Pemanfaatan bahan-bahan yang bisa tumbuh alami memperkuat hubungan antara masyarakat dan lingkungan sekitar. Proses gotong royong dalam simbirapian, misalnya, menunjukkan kegotongroyongan yang juga relevan dengan pengelolaan sumber daya hutan. Dengan memahami dinamika makanan tradisional, kita bisa lebih baik menghadapi tantangan terhadap keanekaragaman hayati.
Kuliner ini juga menjadi cerminan kondisi lingkungan yang lebih luas. Pencemaran air, penebangan hutan, dan perubahan iklim mengubah komposisi bahan pangan lokal. Nani menyoroti bahwa bubur pedas tidak hanya hidangan, tetapi juga alat untuk memperhatikan dampak perubahan ekosistem. Dengan menilai hubungan antara makanan dan lingkungan, masyarakat bisa terlibat langsung dalam menjaga keseimbangan alam yang semakin terganggu. Menghadapi tantangan ini membutuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga keberlanjutan.
