New Policy: Produksi Beras Global Diprediksi Turun akibat Risiko El Nino
New Policy: Produksi Beras Global Diprediksi Turun Akibat Risiko El Nino New Policy - Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan bahwa produksi beras
New Policy: Produksi Beras Global Diprediksi Turun Akibat Risiko El Nino
New Policy – Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperkirakan bahwa produksi beras global akan mengalami penurunan signifikan pada musim 2026/2027, yang menjadi perhatian utama dalam New Policy yang diterapkan untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Diperkirakan, total produksi beras dunia akan mencapai 552,4 juta ton, menurun 1,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 562,6 juta ton. Penurunan ini diakibatkan oleh risiko meningkatnya fenomena El Nino, yang berdampak pada kondisi cuaca di berbagai wilayah penghasil beras utama. New Policy bertujuan untuk meminimalkan kerugian dan memastikan ketersediaan pasokan beras secara stabil melalui langkah-langkah mitigasi dan adaptasi.
Kondisi Cuaca dan Dampak pada Produksi
Kemungkinan munculnya El Nino menjadi ancaman serius bagi pertanian beras global, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Amerika Selatan. Fenomena ini mengakibatkan suhu udara yang lebih tinggi, curah hujan yang tidak merata, serta kekeringan di beberapa wilayah. Sebagai bagian dari New Policy, pemerintah negara-negara penghasil beras utama telah mengambil langkah-langkah seperti pengoptimalan penggunaan air irigasi, penerapan teknologi pertanian modern, dan peningkatan pengawasan cuaca untuk mengantisipasi gangguan ini. Laporan FAO menyebutkan bahwa seluruh wilayah kecuali Afrika akan mengalami penurunan hasil panen dibandingkan musim 2025/2026, terutama di wilayah seperti India, Vietnam, dan Amerika Selatan.
“Semua wilayah kecuali Afrika diantisipasi untuk panen lebih sedikit daripada pada Tahun 2025/26,” tulis laporan, dikutip pada Senin (22/6). Laporan ini menyoroti bahwa perubahan iklim, khususnya El Nino, adalah faktor kritis yang memengaruhi kestabilan produksi beras. New Policy juga memperkuat kerja sama internasional dalam membagi risiko dan sumber daya untuk meminimalkan dampak negatif.
Produksi Asia Tetap Stabil
Dalam kawasan Asia, meski ada penurunan sedikit, New Policy berperan penting dalam menjaga stabilitas produksi beras. Program-program seperti pemberian subsidi bahan baku, pengembangan sistem irigasi, dan peningkatan akses ke teknologi pertanian telah membantu negara-negara seperti Indonesia, Thailand, dan India untuk mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi cuaca. Dukungan pemerintah dalam bentuk bantuan langsung kepada petani, serta penggunaan data cuaca prediktif, menjadi faktor utama yang memperkuat kinerja produksi di kawasan ini.
Perubahan dalam Aktivitas Perdagangan
Kenaikan harga dan penurunan pasokan beras secara langsung memengaruhi volume perdagangan internasional. Dalam New Policy, upaya untuk memperkuat rantai pasok dan mengelola pasokan secara lebih efisien menjadi prioritas. Volume perdagangan beras global diperkirakan menurun 2,1% pada tahun 2026, mencapai 59,8 juta ton, terutama karena beberapa negara masih memiliki stok dari panen sebelumnya. Negara-negara seperti Kamboja, Cina, Pakistan, dan Amerika Serikat akan mengalami penurunan ekspor, sementara Brasil, Myanmar, Vietnam, dan India diprediksi meningkatkan pasokan ke pasar global sebagai bagian dari strategi adaptasi dalam New Policy.
Kenaikan Harga Beras Pasca-Panen
Harga beras internasional mulai naik setelah sempat mencapai titik terendah dalam delapan setengah tahun pada November 2025. New Policy berperan dalam mengatur harga beras melalui kebijakan subsidi, pembatasan ekspor, dan dukungan bagi pertanian lokal. Meski kenaikan harga terjadi, stok beras di akhir musim 2026/2027 mencapai 213,8 juta ton, yang turun 2,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, tingkat stok ini tetap berada di posisi kedua tertinggi sepanjang sejarah, sehingga pasar global tidak langsung terancam.
Kebijakan Berkelanjutan untuk Menghadapi El Nino
El Nino bukan hanya fenomena sementara, tetapi juga peringatan bagi kebijakan pertanian berkelanjutan. New Policy mendorong implementasi kebijakan yang lebih inklusif, termasuk peningkatan keberlanjutan lingkungan dan pengelolaan sumber daya air. Berbagai negara telah menyetujui protokol internasional untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim. Selain itu, peningkatan kemitraan antar-negara dalam distribusi beras juga menjadi bagian dari New Policy untuk menghindari krisis pasokan.
Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya
Produksi beras global tahun 2026/2027 diperkirakan lebih rendah dari tahun 2025/2026, tetapi masih lebih baik dibandingkan tahun 2024/2025 yang mengalami penurunan lebih tajam. Dalam New Policy, pemerintah berusaha memperkuat sistem monitoring dan respons cepat terhadap perubahan iklim. Indeks Harga Beras FAO mencatat angka 104,8 poin pada Mei 2026, naik 6,6% dibandingkan Oktober 2025. Meski ada kenaikan harga, kebijakan tersebut memastikan bahwa kenaikan tidak melampaui batas yang dapat menimbulkan krisis pangan di negara-negara berkembang.
