Latest Program: Persaingan Mal Bergeser ke Kualitas, Mal Premium Kian Diminati
u: Persaingan Mall Fokus pada Kualitas, Mal Premium Kian Populer Transformasi Industri Ritel Latest Program - Di tengah persaingan yang semakin ketat
Program Terbaru: Persaingan Mall Fokus pada Kualitas, Mal Premium Kian Populer
Transformasi Industri Ritel
Latest Program – Di tengah persaingan yang semakin ketat, industri ritel kini mengalami pergeseran strategi. Berdasarkan program terbaru yang diluncurkan oleh Colliers Indonesia, pengembang mall berfokus pada peningkatan kualitas dan nilai aset yang sudah ada, bukan hanya pada pembangunan ruang ritel baru. Hal ini mengakibatkan permintaan akan mall premium meningkat, sementara performa mall menengah terus mengalami stagnasi.
“Dulu, persaingan antarmall identik dengan pembangunan pusat perbelanjaan baru. Sekarang, fokusnya bergeser pada pengembangan kualitas aset yang dimiliki,” ujarnya Ferry Salanto, Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia, dalam acara Colliers Virtual Media Briefing Q2 2026, Rabu (8/7).
Pasok Ruang Ritel yang Terbatas
Menurut data Colliers, pasokan ruang ritel di Jakarta mencapai 4,94 juta meter persegi, sementara di Bodetabek sekitar 3,31 juta meter persegi. Diperkirakan, penambahan pasok baru pada 2026–2029 hanya akan mencapai 63 ribu meter persegi di Jakarta dan 91 ribu meter persegi di Bodetabek. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa program terbaru di sektor ritel tidak lagi bergantung pada volume, tetapi pada efisiensi penggunaan ruang yang sudah ada.
Transformasi Konsep Pusat Perbelanjaan
Transformasi program terbaru juga mencakup perubahan konsep mall yang lebih menarik. Pengembang tidak hanya menyediakan tempat berbelanja, tetapi juga menciptakan ruang semi terbuka, area komunitas, serta fasilitas olahraga. Contoh seperti Pluit Junction dan Pluit Village, Living World Alam Sutera, perluasan Kota Kasablanka, dan rencana Bintaro Jaya Xchange untuk mengubah area parkir menjadi zona komersial menunjukkan keberhasilan strategi ini dalam menarik konsumen.
“Mall kini menjadi pusat kegiatan sosial, kerja, dan hiburan, bukan sekadar tempat berbelanja,” tambah Ferry Salanto.
Perubahan Taktik Retailer
Para retailer juga ikut beradaptasi dengan program terbaru ini. Sebelumnya, ekspansi dilakukan secara masif, tetapi kini lebih fokus pada lokasi dengan penjualan tinggi, pengunjung stabil, dan pengalaman belanja yang lebih baik. Perubahan ini menunjukkan bahwa industri ritel mulai memahami pentingnya kualitas dalam mempertahankan daya saing.
Sektor F&B dan Lifestyle Tetap Dominan
Colliers mencatat bahwa sektor makanan dan minuman, kecantikan, olahraga, hiburan, serta gaya hidup tetap menjadi penyumbang utama permintaan ruang ritel. Meski pasar ritel secara keseluruhan mulai pulih, pemulihan belum merata di semua kelas mall. Mall kelas atas mencatat peningkatan okupansi dari 87,6% pada 2023 menjadi 89,4% pada kuartal II 2026, sementara mall menengah hingga bawah stagnan.
Daya Saing yang Terbentuk dari Pengalaman
Persaingan antarmall kini semakin berbasis pada kualitas, bukan hanya harga. Dengan program terbaru, mall premium mampu mempertahankan penjualan karena menyediakan pengalaman belanja yang lebih lengkap, konsep hiburan unik, serta arus pengunjung yang konsisten. Ketika ada penyewa yang berpindah, ruang kosong bisa segera terisi kembali karena konsumen lebih mengutamakan kepuasan dan keberagaman layanan.
Perubahan ini juga mencerminkan preferensi konsumen yang semakin kritis. Mereka tidak hanya mencari barang, tetapi juga lingkungan yang nyaman untuk berinteraksi, bersantai, dan memperluas jaringan sosial. Hal ini menjadikan okupansi sebagai indikator daya saing yang lebih akurat, bukan hanya mencerminkan kondisi pasar secara umum.
