Pertamina Mulai Injeksi Chemical EOR di WK Lepas Pantai Sumatra
Pertamina Terapkan Teknologi Chemical EOR di Wilayah Lepas Pantai Sumatra Pertamina Mulai Injeksi Chemical EOR di WK - Sebagai bagian dari upaya meningkatkan
Pertamina Terapkan Teknologi Chemical EOR di Wilayah Lepas Pantai Sumatra
Pertamina Mulai Injeksi Chemical EOR di WK – Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas produksi minyak, Pertamina Mulai Injeksi Chemical EOR di Wilayah Kerja (WK) Southeast Sumatra (SES) menjadi langkah strategis dalam pengembangan sektor energi nasional. Teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) berbasis kimia ini diterapkan oleh Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES) untuk meningkatkan efisiensi ekstraksi minyak dari reservoir yang telah memasuki fase matang. Injeksi pertama komponen kimia seperti alkali, surfaktan, dan polimer telah dimulai, dengan harapan mampu meningkatkan recovery factor hingga 16% pada Lapangan Minas Area A di Riau. Pertamina berkomitmen untuk mengoptimalkan produksi migas di daerah lepas pantai, yang merupakan salah satu prioritas dalam mencapai target produksi nasional tahun 2030.
Prinsip dan Manfaat Teknologi Chemical EOR
Chemical EOR (CEOR) adalah metode yang memanfaatkan komponen kimia untuk memperbaiki efisiensi pengeboran minyak. Teknologi ini beroperasi dengan menginjeksikan tiga jenis bahan kimia—alkali, surfaktan, dan polimer—ke dalam lapisan minyak yang masih tersisa di dalam reservoir. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan mobilitas minyak, sehingga dapat diekstrak secara lebih efektif. Menurut Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, pendekatan ini bukan hanya meningkatkan jumlah minyak yang diperoleh, tetapi juga memperpanjang usia produktif lapangan minyak. “Kami berharap CEOR mampu memberikan hasil recovery factor yang baik, dan berdampak pada meningkatnya lifting minyak nasional,” kata Djoko dalam siaran pers, yang dikutip Jumat (10/7).
Salah satu teknik utama dalam CEOR adalah polymer flooding, yang menggunakan polimer untuk meningkatkan viskositas cairan dalam reservoir. Dengan cara ini, aliran minyak ke sumur produksi menjadi lebih optimal, terutama pada lapangan yang memiliki pori-pori kecil atau stratifikasi kompleks. Pertamina mengungkapkan bahwa penerapan teknologi ini memerlukan evaluasi detail, termasuk studi subsurface, uji laboratorium, desain teknis, dan analisis risiko. Dukungan dari para ahli EOR di SKK Migas dan Pertamina menjadi aset penting dalam menjaga kualitas proses serta keberlanjutan proyek.
Implementasi CEOR di Lapangan Rama dan Minas
Proyek CEOR di Lapangan Rama, yang terletak di WK Southeast Sumatra, merupakan langkah awal dalam skala nasional. Injeksi polimer pertama dimulai pada Rabu (8/7), sebagai tanda dimulainya aktivitas teknis yang mendukung peningkatan produksi minyak. Pada Lapangan Minas Area A, operasi CEOR telah dimulai sejak 23 Desember lalu. Pertamina menyatakan bahwa teknologi ini akan meningkatkan produksi tambahan hingga 2.800 barel per hari (bph) setelah enam bulan diterapkan, sehingga total produksi mencapai 28.000 bph. Djoko menambahkan, “Nanti dengan suksesnya CEOR akan meningkatkan (produksi minyak) dua kali lipat,” dalam pernyataannya selama acara peresmian di Blok Rokan, Riau.
Dengan dukungan investasi sebesar US$ 300 juta atau setara Rp 5 triliun, Pertamina memperkuat komitmen untuk mengembangkan teknologi EOR secara mandiri. Injeksi chemical EOR di Minas Area A menjadi contoh nyata bagaimana upaya tersebut bisa berdampak signifikan pada cadangan migas. Pertamina berharap metode ini tidak hanya mendorong peningkatan produksi, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas pasokan energi nasional, terutama dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Proyek EOR sebagai Strategi Jangka Panjang
PHE OSES menargetkan manfaat optimal dari proyek CEOR tercapai hingga 2030, sebagai bagian dari rencana pengembangan sektor energi. Teknologi ini dianggap sebagai referensi utama bagi lapangan lepas pantai lain di Indonesia, karena kemampuannya dalam meningkatkan recovery factor secara signifikan. Selain itu, CEOR juga mengurangi ketergantungan pada teknologi asing, sekaligus mendukung keberlanjutan energi melalui penggunaan bahan kimia lokal. Pertamina mengungkapkan bahwa pengembangan CEOR memerlukan kerja sama lintas departemen, termasuk R&D, operasional, dan manajemen risiko.
Sebagai bagian dari proyek strategis, Pertamina berupaya memperkuat ketahanan energi nasional melalui inovasi seperti injeksi chemical EOR. Teknologi ini memungkinkan pengeboran lebih dalam dari lapisan minyak yang selama ini dianggap sulit diakses. Pertamina juga berharap penggunaan CEOR dapat menjadi pendorong utama untuk mengejar target produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) pada tahun 2030. Dengan memperluas penerapan teknologi ini, Indonesia bisa memperpanjang masa hidup lapangan minyak, yang sebelumnya terbatas oleh kapasitas produksi alami.
Proyek CEOR di WK Southeast Sumatra juga menggambarkan komitmen Pertamina untuk menjadi pelaku utama dalam penerapan teknologi modern di bidang energi. Penerapan injeksi chemical EOR menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, sambil menjaga keseimbangan antara efisiensi produksi dan dampak lingkungan. Djoko Siswanto menekankan bahwa proyek ini memiliki dampak jangka panjang, karena menawarkan solusi inovatif untuk lapangan minyak yang telah berusia beberapa dekade.
