Skip to content
Energi

New Policy: Pertamina dan Boeing Jajaki Kerja Sama Pengembangan Bioavtur

Elizabeth Anderson - wartanaya.com 4 mins read

New Policy: Pertamina dan Boeing Jajaki Kerja Sama Pengembangan Bioavtur New Policy - Sebagai bagian dari New Policy yang dijalankan pemerintah Indonesia

New Policy: Pertamina dan Boeing Jajaki Kerja Sama Pengembangan Bioavtur

New Policy: Pertamina dan Boeing Jajaki Kerja Sama Pengembangan Bioavtur

New Policy – Sebagai bagian dari New Policy yang dijalankan pemerintah Indonesia untuk mendorong transisi energi ke hijauan, PT Pertamina (Persero) dan produsen pesawat udara global Boeing [NYSE: BA] telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangka pengembangan bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah ini menjadi bukti komitmen kedua pihak dalam membentuk ekosistem bahan bakar ramah lingkungan yang berkelanjutan, khususnya di sektor penerbangan. New Policy yang diusung kini memperkuat upaya kolaborasi ini sebagai bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mencapai target emisi karbon yang lebih rendah.

Kolaborasi dan Tantangan dalam Pengembangan Bioavtur

Kerja sama antara Pertamina dan Boeing menargetkan penggalian potensi sumber daya lokal Indonesia, seperti bahan baku dari limbah pertanian dan perkebunan, untuk diproses menjadi bioavtur. New Policy ini menggarisbawahi pentingnya inovasi dalam industri energi, dengan menekankan peran Pertamina sebagai produsen bahan bakar terdepan di Asia Tenggara dan keahlian Boeing dalam teknologi aviasi. Kedua perusahaan berharap, melalui MoU ini, dapat mengembangkan infrastruktur pendukung dan standar produksi yang kompetitif, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan dampak lingkungan.

Dalam implementasi New Policy, Pertamina dan Boeing akan bekerja sama dalam penelitian teknologi, pengarahan kebijakan, serta penguatan sistem logistik bioavtur. MoU ini menjadi dasar kerja sama untuk memastikan keberlanjutan industri bahan bakar hijau, yang diproyeksikan akan meningkatkan efisiensi energi dan menekan emisi karbon sektor penerbangan. New Policy juga mencakup langkah-langkah untuk mengintegrasikan bioavtur ke dalam rantai pasokan penerbangan nasional, dengan menggandeng pelaku industri dan pemerintah daerah untuk mendukung penggunaannya.

Posisi Indonesia dalam Produksi Bioavtur Global

Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen bioavtur, sejalan dengan New Policy yang menargetkan peningkatan produksi bahan bakar hijau. Menurut laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, negara ini berada di posisi ketiga dalam ASEAN dengan proyeksi surplus produksi SAF mencapai 2,2 juta barel per hari pada 2050. New Policy ini tidak hanya melibatkan Pertamina dan Boeing, tetapi juga memperkuat kebijakan pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal, termasuk minyak goreng bekas dan bahan organik lainnya, menjadi bahan bakar alternatif.

Kerja sama antara Pertamina dan Boeing diharapkan akan menjadi katalis untuk mempercepat pengembangan bioavtur di Indonesia, terutama dalam rangka New Policy yang menargetkan pengurangan emisi karbon sektor penerbangan hingga 80% pada 2050. Pertamina, yang memiliki keahlian di bidang produksi bahan bakar, akan berperan dalam proses transformasi teknologi, sementara Boeing menyumbangkan pengalaman dan keahlian global dalam industri penerbangan. New Policy ini juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi bioavtur nasional agar mampu memenuhi kebutuhan pasar regional dan internasional.

Kebutuhan Peralatan Penerbangan di Asia Tenggara

Boeing memproyeksikan pertumbuhan jumlah penumpang udara di kawasan Asia Tenggara mencapai 7% setiap tahun hingga 2044, dengan kebutuhan pesawat baru hingga 4.885 unit. New Policy yang diterapkan oleh Pertamina dan Boeing menjadi solusi strategis untuk menghadapi tantangan ini, karena bioavtur diharapkan mampu mendukung pengoperasian pesawat baru yang lebih ramah lingkungan. Dengan proyeksi peningkatan penggunaan bioavtur, New Policy ini menargetkan pengurangan polusi udara sektor penerbangan, yang merupakan salah satu penyumbang emisi global terbesar.

Langkah kerja sama ini juga mencerminkan New Policy yang lebih luas, yakni transformasi energi bersih sebagai bagian dari upaya pemerintah menghadapi perubahan iklim. Pertamina dan Boeing akan berkolaborasi dalam membangun ekosistem bioavtur yang mencakup produksi, distribusi, dan penerapan bahan bakar hijau di berbagai bandara dan maskapai penerbangan. New Policy ini juga mengintegrasikan kebijakan pertanian dan energi, dengan menekankan pentingnya keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Manfaat Bioavtur untuk Lingkungan dan Ekonomi

“Bioavtur dalam bentuk murni (neat SAF) diharapkan mampu mengurangi emisi karbon hingga 80% dibandingkan bahan bakar jet konvensional,” ujar Indra Duivenvoorde, Managing Director Boeing Indonesia.

Kolaborasi Pertamina dan Boeing dalam New Policy ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri energi hijau di Indonesia. Dengan pengembangan bioavtur, New Policy ini bertujuan untuk menurunkan ketergantungan pada minyak bumi dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Selain itu, kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan ekspor bahan bakar alternatif, dan menarik investasi ke sektor energi berkelanjutan.

Dalam konteks New Policy, Pertamina dan Boeing akan bekerja sama untuk mengembangkan proyek Cilacap Biorefinery melalui PT Pertamina Patra Niaga, yang bertujuan menghasilkan SAF dan HVO dari limbah minyak goreng bekas. New Policy ini menegaskan bahwa bioavtur adalah bagian integral dari visi Indonesia menjadi negara dengan transisi energi yang sukses, sejalan dengan tujuan global mengurangi emisi karbon. Dengan adanya kerja sama ini, Indonesia diharapkan bisa menjadi pusat produksi bioavtur yang kompetitif di Asia Tenggara, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam ekosistem energi hijau.

Kesiapan dan Penguatan Infrastruktur Bioavtur

Sebagai bagian dari New Policy, Pertamina telah mulai menghasilkan bioavtur dan melakukan sertifikasi bahan bakar ini. Proses sertifikasi menjadi langkah kritis untuk memastikan kualitas bioavtur sesuai standar internasional, yang diperlukan untuk penerbangan domestik dan internasional. New Policy ini juga menargetkan pengembangan infrastruktur pendukung, seperti terminal bahan bakar dan sistem distribusi, agar bioavtur bisa digunakan secara luas.

Dalam pembangunan Cilacap Biorefinery, Pertamina menekankan kebutuhan New Policy untuk menciptakan rantai pasok yang terpadu. Proyek ini akan menjadi contoh nyata keberhasilan penggunaan bahan baku lokal dalam produksi bioavtur, yang selaras dengan visi pemerintah mengurangi emisi karbon. New Policy ini tidak hanya mempercepat adopsi bioavtur, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas produksi sektor energi hijau, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pasar global bahan bakar berkelanjutan.

Join the discussion