New Policy: Freeport sebut Smelter Manyar Beroperasi Penuh Akhir 2027
New Policy: Freeport Sebut Smelter Manyar Beroperasi Penuh Akhir 2027 New Policy - Under the new policy, PT Freeport Indonesia (PTFI) telah mengumumkan bahwa
New Policy: Freeport Sebut Smelter Manyar Beroperasi Penuh Akhir 2027
New Policy – Under the new policy, PT Freeport Indonesia (PTFI) telah mengumumkan bahwa pabrik pengolahan logam (smelter) di Manyar, Gresik, akan mulai beroperasi penuh pada akhir tahun 2027. Hal ini menjadi bagian dari rencana perluasan kapasitas produksi yang telah diumumkan sebagai bagian dari kebijakan industri baru yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan stabilitas operasional perusahaan. Sebelumnya, fasilitas tersebut sempat mengalami penurunan produksi akibat gangguan pasokan konsentrat dari tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Tembagapura, Papua, setelah terjadi longsor bijih basah pada 8 September 2025. Kebijakan ini diharapkan bisa mengatasi tantangan tersebut dan memastikan keberlanjutan operasi pabrik.
“Masih menunggu pasokan konsentrat mencukupi untuk ke Smelter Manyar. September mendatang mungkin konsentrat mulai masuk. Kira-kira beroperasi penuh akhir 2027,” ujar Tony saat diwawancara di kompleks DPR RI, Selasa (14/7).
Di bawah bingkai new policy, Tony menjelaskan bahwa keberoperasian penuh smelter akan terjadi bersamaan dengan peningkatan kapasitas tambang GBC. “Tambang perlu beroperasi penuh terlebih dahulu, baru smelter bisa berjalan optimal,” tambahnya. Peningkatan produksi tambang ini diharapkan bisa mengisi kebutuhan smelter secara stabil, sehingga perusahaan dapat memenuhi target yang telah ditetapkan dalam kebijakan industri baru. Selain itu, kebijakan ini juga mencakup langkah-langkah penguatan supply chain dan pengelolaan risiko yang lebih baik.
Proses pemulihan pasokan konsentrat ke smelter sempat terhambat karena penurunan produksi tambang hingga 30% atau sekitar 65 ribu-70 ribu ton per hari. Tony memperkirakan operasi tambang akan kembali normal pada Maret 2026. Jika tercapai, konsentrat bisa dikirim ke smelter di bulan April, sehingga fasilitas dapat kembali aktif. Namun, kebijakan baru ini menekankan pentingnya waktu tambah untuk memastikan bahwa semua infrastruktur siap beroperasi maksimal, terutama sebelum konsentrat mencapai tingkat stabil.
“Semester pertama tahun depan bisa mencapai 75%, dan menjelang akhir tahun 100% pulih,” katanya bulan lalu.
Dalam new policy yang diumumkan, Freeport juga memperkenalkan rencana pengembangan smelter Manyar sebagai bagian dari strategi diversifikasi produksi. Fasilitas ini akan menjadi salah satu dari beberapa proyek strategis yang diprioritaskan dalam kebijakan tersebut. Tony menyebut bahwa keberhasilan pengoperasian penuh smelter akan memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi regional dan peningkatan produksi logam berharga nasional. “Kami yakin new policy ini akan mempercepat proses normalisasi operasi dan meningkatkan daya saing Freeport di pasar internasional,” terangnya.
Proyeksi Operasional dan Efisiensi
Tony menekankan bahwa selama pasokan belum stabil, tim di Gresik fokus pada perawatan rutin untuk memastikan siap operasi ketika konsentrat tiba. “Heating up, pemeliharaan, dan penetralan area tetap kami lakukan agar ketika konsentrat masuk, smelter bisa langsung dijalankan meski secara bertahap,” jelasnya. Proyeksi produksi smelter Manyar di bawah new policy menunjukkan bahwa kapasitasnya akan meningkat hingga 100% di akhir 2026, setelah mencapai 70%-80% sebelumnya. Ini menandai perbaikan signifikan dalam kapasitas pengolahan logam berharga.
Kebijakan new policy juga mencakup optimasi proses pengolahan bahan baku, sehingga mengurangi risiko hambatan di masa depan. Tony menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan penyesuaian sistem logistik dan manajemen risiko sebagai bagian dari perencanaan ini. “Kami sudah mempersiapkan langkah-langkah mitigasi, seperti pengembangan cadangan tambang dan peningkatan efisiensi pemurnian, agar produksi bisa berjalan optimal,” katanya. Dengan new policy ini, Freeport berharap dapat mencapai keberlanjutan operasi jangka panjang.
Kapasitas dan Produk Samping
Smelter Freeport Indonesia di Manyar memiliki kapasitas pemurnian sebesar 1,7 juta ton konsentrat tembaga dan 6.000 ton lumpur anoda per tahun. Pabrik ini mampu mengolah lumpur anoda menjadi beberapa logam berharga, seperti emas, perak, platinum paladium, selenium, bismut, dan timbal. Di bawah new policy, perusahaan berencana untuk memaksimalkan ekstraksi logam dari produk samping ini, sehingga memberikan nilai tambah bagi industri nasional.
Dalam target operasional, smelter akan menghasilkan tiga jenis produk utama. Pertama, katoda tembaga sebanyak 600 ribu ton per tahun, yang bisa digunakan untuk kebutuhan domestik atau ekspor. Kedua, lumpur anoda 6.000 ton per tahun. Tony menyebut produk ini dapat mengandung emas, perak, serta logam lain jika dimurnikan di fasilitas Precious Metal Refinery yang berada di lokasi yang sama. Produk samping lainnya meliputi asam sulfat 1,5 juta ton per tahun, terak tembaga 1,3 juta ton, dan gipsum 150 ribu ton. Semua bahan ini dijual untuk kebutuhan pasar dalam negeri, dan new policy memastikan bahwa distribusi produk ini bisa berjalan lebih efisien.
