Skip to content
Energi

Latest Program: Harita Nickel Klaim Kebal Krisis Sulfur, Ini Strategi yang Disiapkan Sejak 2025

Elizabeth Anderson - wartanaya.com 3 mins read

Harita Nickel's Latest Program: Mengatasi Krisis Sulfur dengan Strategi Diversifikasi Latest Program - Dalam upaya menghadapi krisis pasokan sulfur yang

Latest Program: Harita Nickel Klaim Kebal Krisis Sulfur, Ini Strategi yang Disiapkan Sejak 2025

Harita Nickel’s Latest Program: Mengatasi Krisis Sulfur dengan Strategi Diversifikasi

Latest Program – Dalam upaya menghadapi krisis pasokan sulfur yang semakin mengancam, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel telah mengumumkan bahwa Latest Program-nya mampu meminimalkan dampak ketidakstabilan bahan baku. Direktur Keuangan perusahaan, Suparsin Darmo Liwan, menjelaskan bahwa Latest Program merupakan bagian dari strategi diversifikasi yang sudah diterapkan sejak awal 2025 untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber pasokan, terutama wilayah Timur Tengah yang menjadi produsen sulfur utama.

Strategi Diversifikasi dalam Latest Program

“Kami memiliki berbagai sumber pasokan sulfur sehingga tidak terlalu bergantung pada satu negara atau wilayah seperti Timur Tengah. Stok bahan baku saat ini masih tercukupi hingga Oktober 2026,” ujar Suparsin dalam Public Expose Tahunan, Selasa (30/6).

Konflik geopolitik antara AS, Iran, dan Israel belakangan ini memengaruhi ekonomi kawasan Timur Tengah. Wilayah tersebut menjadi salah satu produsen sulfur terbesar dunia, sehingga gangguan di sana berdampak signifikan pada harga komoditas ini. Dalam Latest Program, Harita Nickel memprioritaskan keberagaman supplier untuk memastikan keberlanjutan pasokan.

Analisis Sumber Daya Lokal dalam Latest Program

“Harga sulfur hari ini mencapai 1.200, sedangkan pada April tahun lalu hanya sekitar 250,” tutur Arif Perdana Kusumah, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), dalam forum Indonesia Critical Minerals di Jakarta, awal Juni 2026.

Kenaikan harga sulfur menjadi salah satu tantangan utama bagi industri nikel. Latest Program Harita Nickel berfokus pada pengeksplorasi alternatif pasokan, termasuk impor dari Kanada, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Namun, langkah jangka panjang Latest Program melibatkan pengembangan sumber sulfur lokal sebagai solusi permanen.

MIND ID, holding pertambangan nasional, sedang menganalisis potensi sulfur dari produk samping tambang tembaga dan emas. Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso, menyebut proses inventarisasi sedang berlangsung untuk mengidentifikasi kandungan sulfur dalam material seperti iron oxide dan iron sulfate. Latest Program ini bertujuan mengoptimalkan penggunaan bahan baku dalam negeri.

Permintaan sulfur di industri nikel terus meningkat seiring peningkatan kapasitas High Pressure Acid Leach (HPAL). Teknologi ini mengubah bijih nikel limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan utama dalam produksi baterai kendaraan listrik. Dalam satu ton MHP, diperlukan sekitar 11,7 ton sulfur, sehingga pertumbuhan teknologi ini memperkuat kebutuhan sulfur nasional. Latest Program Harita Nickel dirancang untuk menanggapi perubahan ini.

Saat ini, lebih dari 70% sulfur yang digunakan industri nikel berasal dari impor, dengan 75-80% pasokan berasal dari Timur Tengah. Total impor sulfur mencapai 5,3 juta ton per tahun, menurut Budi Santoso. Ketergantungan pada pasokan luar negeri berpotensi menjadi tantangan jika krisis geopolitik berlanjut. Latest Program diharapkan mampu memperkuat daya tahan industri hilirisasi Indonesia.

Langkah Latest Program Harita Nickel mencakup pengembangan kerja sama dengan produsen lokal dan penggunaan teknologi efisien untuk mengurangi kebutuhan sulfur. Dengan adanya Latest Program, perusahaan juga mendorong keterlibatan pemangku kepentingan dalam menyediakan solusi yang lebih berkelanjutan. Hal ini menjadi contoh bagus dalam merespons krisis bahan baku yang semakin kompleks.

Join the discussion