Skip to content
Energi

Key Strategy: PGN Bidik Cadangan Gas Batu Bara Rp 275 Triliun di Tanjung Enim

Richard Wilson - wartanaya.com 3 mins read

PGN's Key Strategy: Menggarap Cadangan Gas Batu Bara Rp275 Triliun di Tanjung Enim Key Strategy - Sebagai bagian dari Key Strategy-nya untuk memperkuat

Key Strategy: PGN Bidik Cadangan Gas Batu Bara Rp 275 Triliun di Tanjung Enim

PGN’s Key Strategy: Menggarap Cadangan Gas Batu Bara Rp275 Triliun di Tanjung Enim

Key Strategy – Sebagai bagian dari Key Strategy-nya untuk memperkuat cadangan energi nasional, Perusahaan Gas Negara (PGN) melalui PT Perusahaan Gas Negara Tbk sedang fokus mengembangkan sumber daya gas nonkonvensional berbasis batu bara, yaitu Coal Bed Methane (CBM), di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Langkah ini diharapkan menjadi penopang utama dalam meningkatkan ketersediaan gas bumi di dalam negeri, terutama untuk menjawab kebutuhan sektor industri dan pembangkit listrik yang terus meningkat.

Dikutip dari data yang dihimpun pemerintah, wilayah Tanjung Enim memiliki potensi CBM sekitar 9,7 triliun kaki kubik (TCF) dan Original Gas in Place (OGIP) mencapai nilai hampir US$ 15,4 miliar, setara Rp 275,8 triliun dengan kurs Rp 17.911 per dolar Amerika. PGN optimis bahwa Key Strategy ini akan memberikan kontribusi signifikan dalam memperluas kapasitas pasokan energi gas, terutama di tengah peningkatan konsumsi yang tidak terkendali.

“Dalam Key Strategy PGN, kami menargetkan pengembangan proyek CBM di Tanjung Enim sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada impor energi dan meningkatkan kemandirian energi nasional,” jelas Direktur Utama PGN, Arief K. Risdianto, dalam konferensi pers terbaru. Ia menekankan bahwa proyek ini dirancang secara teknis dan komersial untuk memastikan keberlanjutan.

Kemitraan dan Potensi Hilirisasi

Sebelumnya, PGN dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah mengeksplorasi kerja sama dalam mengubah batu bara low-rank menjadi Synthetic Natural Gas (SNG), yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dari sumber daya energi lokal. Proyek ini memanfaatkan lokasi yang strategis di dekat jaringan transmisi PGN di Pagardewa, sehingga meminimalkan biaya pembangunan infrastruktur baru.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Rosa Permata Sari, menjelaskan bahwa Key Strategy ini juga mencakup penggunaan biomethane dari limbah kelapa sawit serta SNG sebagai bagian dari upaya diversifikasi sumber gas. Menurutnya, Sumatra Selatan memiliki peluang besar untuk menjadi pusat produksi energi terbarukan dan tidak terbarukan secara bersamaan.

PGN berencana membangun infrastruktur injection point sebagai titik pengumpul gas, yang akan menggabungkan CBM, biomethane, dan SNG. Dari sini, gas akan dikumpulkan dan dialirkan ke jaringan transmisi yang sudah ada, mempercepat proses distribusi ke wilayah lain.

Progres dan Tantangan dalam Implementasi

Pengembangan Key Strategy ini telah mendapat dukungan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Holding Migas Pertamina, yang membantu koordinasi studi kelayakan dan peningkatan tata kelola. PGN juga bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan proyek ini dapat berjalan secara efisien dan berkelanjutan.

Menurut Rosa Permata Sari, proyek CBM di Tanjung Enim memiliki potensi ekonomi besar karena bisa menekan harga impor gas bumi. “Selain itu, Key Strategy ini juga mendukung pengurangan emisi karbon dan memperkuat keberlanjutan lingkungan,” tambahnya, menjelaskan dampak positif dari pengembangan sumber daya tersebut.

PGN menggarisbawahi bahwa Key Strategy ini menjadi pilar utama dalam mempercepat transisi menuju energi bersih. Proyek yang sedang dikembangkan diharapkan dapat dimulai dalam beberapa tahun ke depan, dengan target penyaluran gas bertahap mulai dari 1 MMSCFD hingga 25 MMSCFD. Langkah ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam memastikan ketersediaan energi untuk masa depan.

Join the discussion