Skip to content
Energi

Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Mengecilnya Peluang Perundingan AS – Iran

Matthew Smith - wartanaya.com 3 mins read

Pergerakan harga minyak mentah dunia mengalami penguatan marginal setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menurunkan ekspektasi masyarakat terhadap

Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Mengecilnya Peluang Perundingan AS – Iran

Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik AS-Iran

Wartanaya.com – Pergerakan harga minyak mentah dunia mengalami penguatan marginal setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menurunkan ekspektasi masyarakat terhadap kemungkinan perundingan diplomatik dengan Iran dalam waktu dekat. Ancaman Trump untuk memperluas jangkauan serangan militer turut mempengaruhi sentimen pasar secara signifikan. Situasi geopolitik ini diperparah oleh potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah hingga wilayah perairan Laut Hitam yang menjadi jalur vital perdagangan global.

Pergerakan Harga Minyak Mentah

Pada pukul 08.05 waktu Singapura, minyak Brent mencatat kenaikan sebesar 0,5 persen ke level US$ 91,51 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat dengan persentase 0,4 persen menjadi US$ 84,65 per barel. Kontrak berjangka minyak sepanjang bulan ini mengalami peningkatan akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah.

Dalam beberapa hari terakhir, tercatat tiga kapal tanker menjadi sasaran serangan di perairan Selat Hormuz yang berdekatan dengan Oman. Insiden-insiden ini menambah kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak dunia. Harga Minyak Naik Tipis di Tengah – mencerminkan respons investor terhadap ketidakpastian pasokan energi global yang semakin meningkat.

Ancaman Militer dan Diplomasi

Sebelumnya, Trump telah menyatakan komitmennya untuk mengambil langkah tegas apabila kelompok Houthi di Yaman terus mengganggu rute pelayaran di Laut Merah. Kelompok militan tersebut mendapat dukungan penuh dari Iran. Selain itu, Trump kembali mengancam akan melancarkan serangan terhadap lokasi yang diyakini sebagai fasilitas nuklir Iran, yaitu Pickaxe Mountain.

Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) mengonfirmasi bahwa serangan terhadap Iran telah berlangsung selama 11 hari berturut-turut. Operasi militer ini dilakukan setelah gencatan senjata dengan tujuan melemahkan kapasitas Iran dalam mengancam jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Perkembangan terbaru ini menambah kompleksitas situasi regional.

Mengenai kemungkinan perundingan, Trump menyatakan bahwa Iran sangat menginginkan pertemuan dengan AS, namun pihaknya tidak menunjukkan minat. Pemerintah Teheran kemudian menyangkal klaim tersebut dan menegaskan bahwa mereka tidak sedang berupaya melakukan negosiasi. Fluktuasi harga minyak terus terjadi seiring perkembangan berita terkait eskalasi maupun penurunan ketegangan.

Dampak Terhadap Rute Pelayaran Global

Di luar kawasan konflik utama, pasar juga merespons serangkaian serangan terhadap terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di pesisir Laut Hitam Rusia. Terminal ini merupakan jalur vital untuk pengiriman sebagian besar minyak mentah asal Kazakhstan. Gangguan di wilayah ini menambah tekanan pada harga minyak dunia.

Ancaman yang ditimbulkan oleh Houthi terhadap lalu lintas maritim Arab Saudi mulai memberikan dampak nyata. Beberapa kapal tanker terlihat menghentikan pelayaran saat mendekati perairan Yaman. Sementara itu, kapal-kapal yang membawa minyak dari Arab Saudi memilih untuk berbalik arah menuju Terusan Suez. Meskipun demikian, tidak semua kapal mengubah rute; sebagian masih melanjutkan perjalanan ke kawasan tersebut.

Proyeksi Harga Minyak Jangka Pendek

Analisis dari para ahli menunjukkan bahwa harga minyak diproyeksikan bergerak dalam kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel, bergantung pada perkembangan situasi terkini. Jika Laut Merah benar-benar ditutup, hal tersebut akan menjadi ancaman signifikan bagi pasar energi global. Harga Minyak Naik Tipis di Tengah – menjadi indikator penting bagi para pelaku pasar untuk memantau tren selanjutnya.

“Pandangan kami, harga minyak kemungkinan akan bergerak di kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel, tergantung pada perkembangan berita. Jika Laut Merah benar-benar ditutup, itu akan menjadi ancaman besar. Kita belum melihat hal itu terjadi, namun jika benar, harga minyak bisa melonjak melampaui US$ 100 per barel,” kata Jay Hatfield, Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management LLC, dikutip dari Bloomberg, Rabu (22/7).

Laut Merah kini menjadi jalur ekspor yang semakin krusial bagi Arab Saudi selama konflik Timur Tengah berlangsung. Kondisi ini memaksa kerajaan tersebut untuk mengalihkan sebagian pengiriman minyak melalui jaringan pipa, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz. Para analis memperkirakan bahwa volatilitas harga akan terus berlanjut hingga situasi geopolitik stabil.

Join the discussion