Menilik Kans Emiten Grup Bakrie BNBR, BUMI, VKTR, MDIA Usai Lonjakan Harga Saham
Menilik Kans Emiten Grup Bakrie, para investor kini menyoroti lonjakan harga saham emiten-emiten grup tersebut yang terjadi secara serentak dalam satu bulan
Menilik Kans Emiten Grup Bakrie: BNBR, BUMI, VKTR, MDIA
Wartanaya.com – Menilik Kans Emiten Grup Bakrie, para investor kini menyoroti lonjakan harga saham emiten-emiten grup tersebut yang terjadi secara serentak dalam satu bulan terakhir. Beberapa saham bahkan mencatatkan pertumbuhan nilai hingga ratusan persen. Fenomena ini menarik perhatian karena terjadi bersamaan dengan musim pelaporan keuangan semester pertama tahun 2026, di mana sebagian besar emiten grup tersebut justru mencatatkan penurunan kinerja operasional.
MDIA Pimpin Kenaikan Tertinggi
Di antara seluruh emiten Bakrie, PT Inderdemia Capital Tbk (MDIA) mencatatkan kenaikan paling signifikan. Harga saham perusahaan melesat mencapai 252,11% dalam satu bulan terakhir, menyentuh level Rp 250 per lembar. Pada sesi perdagangan Kamis (6/8), pergerakan harga MDIA masih menunjukkan tren positif dengan kenaikan 15,74%.
Kenaikan drastis tersebut mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meminta penjelasan resmi dari manajemen perseroan. Melalui keterbukaan informasi, MDIA menegaskan bahwa tidak ada informasi material atau fakta baru yang dapat memengaruhi nilai efek maupun keputusan investasi para pemodal. Perusahaan juga menyatakan belum memiliki rencana aksi korporasi dalam waktu dekat yang berpotensi berdampak pada pencatatan sahamnya.
Perlu dicatat bahwa MDIA hingga saat ini belum melaporkan kinerja keuangan untuk kuartal kedua tahun berjalan. Selain MDIA, sejumlah saham lain dalam grup Bakrie juga menunjukkan kenaikan yang cukup berarti.
Performa Saham-Saham Lainnya
PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) mencatatkan kenaikan sebesar 100% dalam satu bulan. Di posisi berikutnya, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) naik 75,76%, diikuti PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) dengan kenaikan 69,57%, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebesar 65,38%.
Ahmad Faris Mu’tashim, Investment Specialist dari Korea Investment Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa pergerakan saham-saham Grup Bakrie didorong oleh berbagai sentimen yang berbeda-beda untuk masing-masing emiten.
Menurut dia, saham BNBR mendapat katalis dari aksi korporasi yang sedang dilakukan perseroan, yaitu right issue. Sedangkan BUMI dan BRMS memperoleh sentimen positif dari revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) sektor pertambangan serta kenaikan harga komoditas.
Lonjakan harga saham MDIA, menurut Ahmad, terjadi tanpa adanya katalis yang jelas. Ia menambahkan bahwa pergerakan saham dari grup Bakrie ini akan cenderung mixed mengikuti sentimen yang mengiringi masing-masing saham.
“Kami melihat pergerakan saham dari grup Bakrie ini akan cenderung mixed mengikuti sentimen yang mengiringi masing-masing saham,” kata Ahmad kepada Katadata.co.id, Kamis (6/8).
Momentum dan Target Harga
Meskipun demikian, Ahmad menilai bahwa reli saham-saham Grup Bakrie mulai kehilangan momentum. Hal itu terlihat dari pola pergerakan harga yang mulai membentuk long upper shadow, yang mengindikasikan tekanan jual mulai meningkat.
Sementara itu, secara teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan pergerakan saham Grup Bakrie hingga pekan depan masih berpeluang naik. Ia memberikan target harga BNBR di kisaran Rp 122-134 per saham, BUMI Rp 194-204, BRMS Rp 665-705, ENRG Rp 1.455-1.610, DEWA Rp 510-535, VKTR Rp 965-1.000 serta JGLE Rp 115-123.
“Untuk UNSP dan ELTY saya tidak berkomentar,” ujar Herditya.
Kinerja Fundamental vs Pergerakan Harga
Kenaikan harga saham tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kinerja fundamental. Dari enam emiten Grup Bakrie yang telah merilis laporan keuangan semester I 2026, separuh di antaranya mencatatkan penurunan laba atau pembengkakan rugi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
BUMI menjadi emiten dengan kinerja terbaik setelah membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 58,85 juta atau sekitar Rp 1,05 triliun, melonjak 188,4% secara tahunan. Sebaliknya, laba bersih BRMS turun 43,75% menjadi US$ 12,92 juta atau sekitar Rp 231,65 miliar. VKTR juga mencatat penurunan laba 76,32% menjadi Rp 1,12 miliar.
Di kelompok emiten yang masih merugi, ELTY membukukan rugi bersih Rp 18,05 miliar atau membengkak 129,06% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, rugi bersih JGLE menyusut 16,3% menjadi Rp 17,51 miliar.
FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Saham Grup Bakrie
Apa yang menyebabkan lonjakan harga saham Grup Bakrie? Lonjakan harga saham Grup Bakrie disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk right issue pada BNBR, revisi RKAB sektor pertambangan, kenaikan harga komoditas, serta sentimen pasar yang positif terhadap emiten-emiten tersebut.
Apakah kenaikan harga saham Grup Bakrie sejalan dengan kinerja fundamental? Tidak sepenuhnya. Dari enam emiten yang telah merilis laporan keuangan semester I 2026, separuh di antaranya mencatatkan penurunan laba atau pembengkakan rugi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berapa target harga saham BNBR dan BUMI menurut analis? Menurut analis MNC Sekuritas, target harga BNBR berada di kisaran Rp 122-134 per saham, sementara BUMI diproyeksikan di level Rp 194-204 per saham.
Apakah MDIA memiliki informasi material yang mempengaruhi kenaikan sahamnya? MDIA menegaskan bahwa tidak ada informasi material atau fakta baru yang dapat memengaruhi nilai efek maupun keputusan investasi para pemodal. Kenaikan saham MDIA terjadi tanpa katalis yang jelas.
(Sumber: data perdagangan Bursa Efek Indonesia per Kamis (6/8) dan laporan keuangan masing-masing emiten)
Penulis menggunakan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk menuliskan kinerja perusahaan.
