Skip to content
Nasional

Solving Problems: Prabowo: Setelah 81 Tahun Merdeka, Mengapa RI Belum Bisa Bikin Mobil Sendiri?

Michael Moore - wartanaya.com 3 mins read

Solving Problems: Prabowo Tanya, Mengapa RI Belum Bisa Bikin Mobil Sendiri? Solving Problems - Di acara sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains Teknologi dan

Solving Problems: Prabowo: Setelah 81 Tahun Merdeka, Mengapa RI Belum Bisa Bikin Mobil Sendiri?

Solving Problems: Prabowo Tanya, Mengapa RI Belum Bisa Bikin Mobil Sendiri?

Solving Problems – Di acara sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains Teknologi dan Industri (KSTI) yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), mantan Presiden Prabowo Subianto mengusulkan pentingnya Solving Problems dalam memperkuat industri otomotif nasional. Dalam pidatonya, ia mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk menghasilkan mobil buatan sendiri setelah 81 tahun kemerdekaan. Pertanyaan ini ditujukan kepada para rektor dan akademisi sebagai penekanan pada tanggung jawab mereka dalam memecahkan tantangan bangsa.

Ketergantungan Pada Produk Luar Negeri

Prabowo menyoroti bahwa keberhasilan Solving Problems tidak bisa tercapai tanpa kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta. Ia menyebut ketergantungan impor komponen otomotif seperti gandum dan produk sawit yang masih kalah dari negara tetangga adalah bukti dari ketidakmampuan Indonesia dalam mengembangkan solusi lokal. “Mengapa, setelah 81 tahun kemerdekaan, Indonesia belum mampu menghasilkan mobil buatan sendiri? Saya berdiri di depan para rektor dan akademisi. Kalian yang memiliki gelar PhD, mengapa kita belum berhasil?” tanya Prabowo dalam sebuah

yang mengejutkan banyak pendengar.

Pertanyaan tersebut menyoroti kesenjangan antara ketersediaan sumber daya alam dan kemajuan teknologi. Prabowo menyatakan bahwa Solving Problems memerlukan inovasi berkelanjutan dan keterlibatan akademisi dalam membangun ekosistem industri yang mandiri. Ia mengingatkan bahwa pendidikan tinggi harus menjadi garda depan dalam menghadirkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan nasional.

Kemajuan Bangsa dan Peran Ilmu Pengetahuan

Dalam konteks Solving Problems, Prabowo menekankan bahwa kemajuan bangsa bergantung pada kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menilai kampus harus menjadi tempat pengembangan kreativitas dan penerapan penelitian untuk mendukung industri dalam negeri. “Kemajuan sebuah negara tidak bisa dicapai tanpa ilmu pengetahuan. Kita perlu mengintegrasikan penelitian ke dalam praktik industri,” tambahnya.

Prabowo mengkritik ketidaktepatan penggunaan teknologi nasional dalam industri otomotif. Ia menyebut bahwa Solving Problems tidak hanya tentang produksi, tetapi juga tentang efisiensi dan inovasi. Contohnya, mobil dinas Maung RI-1 yang diproduksi PT Pindad adalah langkah awal positif, meski masih mengalami hambatan teknis. “Desainnya Indonesia, dibuat di Indonesia. Tidak 100%. Tidak ada mobil di dunia yang 100% produknya dari satu negara. Tapi kalau 65–70%, itu sudah boleh kita klaim buatan Indonesia,” ujarnya dalam

yang menginspirasi para peserta forum.

Menurut Prabowo, Solving Problems dalam industri otomotif juga memerlukan kebijakan yang konsisten. Ia menekankan bahwa pemerintah harus menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan teknologi lokal, termasuk subsidi, insentif, dan investasi dalam riset. Tanpa dukungan ini, industri otomotif akan tetap bergantung pada impor, yang berdampak pada pengeluaran devisa dan ketergantungan ekonomi.

Partisipasi Peserta dalam Forum KSTI

Kegiatan KSTI kali ini dihadiri sekitar 2.600 peserta, terdiri dari 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi, 6 ketua lembaga pendidikan, 1.596 dosen, serta 300 peneliti dari BRIN. Partisipan juga melibatkan 635 mitra kolaborasi antara institusi pendidikan dan kementerian terkait, yang menunjukkan komitmen bersama dalam menyelesaikan masalah nasional melalui Solving Problems.

Prabowo meminta partisipan untuk terlibat aktif dalam meningkatkan kualitas industri otomotif. Ia menyampaikan bahwa Solving Problems adalah proses dinamis yang memerlukan partisipasi dari berbagai pihak, mulai dari peneliti hingga pengusaha. “Kita perlu menyelesaikan masalah yang ada, seperti ketergantungan impor dan produksi yang tidak efisien,” katanya. Hal ini menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi dan industri adalah kunci dalam mengembangkan solusi yang berkelanjutan.

Langkah-Langkah Konkret Menuju Solusi

Prabowo mengapresiasi upaya pemerintah dalam menyelesaikan masalah ketergantungan impor. Ia menilai progres seperti pengembangan komponen lokal dan pengurangan ketergantungan pada teknologi asing adalah langkah yang layak diakui. Namun, ia menekankan bahwa Solving Problems harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar seremonial.

Meski komponen dalam negeri belum mencapai 100%, Prabowo menyebut bahwa angka 65–70% sudah cukup untuk menunjukkan kemajuan. Ia berharap dengan Solving Problems yang terarah, Indonesia bisa menyelesaikan masalah tersebut dalam waktu dekat. “Kita harus berpikir kritis dan bersikap proaktif agar tidak tertinggal di tengah kemajuan global,” tambahnya.

Join the discussion