Skip to content
Nasional

BGN Sebut Jumlah Penerima MBG Berkurang 6 Juta Jiwa pada 2027

Michael Moore - wartanaya.com 4 mins read

Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengonfirmasi bahwa jumlah penerima program makan bergizi gratis (MBG) diproyeksikan mengalami penurunan signifikan sebesar

BGN Sebut Jumlah Penerima MBG Berkurang 6 Juta Jiwa pada 2027

BGN: Penurunan Penerima Makan Bergizi Gratis Capai 6 Juta Jiwa di 2027

Wartanaya.com – Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengonfirmasi bahwa jumlah penerima program makan bergizi gratis (MBG) diproyeksikan mengalami penurunan signifikan sebesar enam juta orang pada tahun 2027. Penurunan ini merupakan hasil dari proses validasi data yang lebih ketat untuk mengatasi masalah duplikasi pencatatan dalam sistem pendataan nasional. Kepala BGN, Sudaryono, menegaskan bahwa langkah ini akan meningkatkan efektivitas penyaluran bantuan gizi kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

“Kurang lebih (pengurangannya) sekitar 6 juta orang,” kata Sudaryono saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kamis (6/8). Penjelasan ini memberikan kepastian bagi publik mengenai arah kebijakan program MBG ke depan yang akan lebih terfokus pada kualitas penerima manfaat.

Akar Masalah Data Ganda dalam Sistem Pendataan

Menurut Sudaryono, fenomena double data terjadi ketika satu individu tercatat sebagai penerima MBG sebanyak dua kali dalam sistem yang berbeda. Sebagai contoh, seorang anak yang telah terdaftar sebagai penerima berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di MTs, namun juga tercatat kembali karena statusnya sebagai santri pondok pesantren. Kondisi ini menyebabkan pembengkakan angka penerima tanpa penambahan kebutuhan riil.

“(Double data) ini bisa dipotong dan dirapikan. Maka hari ini kami rapat untuk memastikan semua sistem dari seluruh Kementerian agar tidak ada yang terdata dua kali,” ujarnya. Koordinasi antar-kementerian menjadi kunci utama dalam menyelesaikan masalah duplikasi data yang selama ini menghambat efisiensi program.

Realokasi Anggaran untuk Optimalisasi Program

Pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 101,1 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk Program MBG hingga akhir semester pertama tahun 2026. Dengan anggaran tersebut, program ini menjangkau 63,13 juta penerima manfaat. Angka ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memastikan kecukupan gizi bagi generasi muda dan kelompok rentan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa realisasi anggaran MBG merupakan bagian dari fungsi APBN sebagai agent of development atau pendorong pembangunan melalui percepatan pelaksanaan program-program prioritas pemerintah. Investasi dalam sektor gizi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sumber daya manusia jangka panjang.

“Sebagai agent of development, APBN diarahkan untuk mengakselerasi pelaksanaan program prioritas, termasuk Program Makan Bergizi Gratis yang telah merealisasikan anggaran sebesar Rp 101,1 triliun untuk 63,13 juta penerima manfaat,” kata Purbaya dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) III 2026, di Jakarta, Senin (3/8).

Perubahan Target dan Fokus pada Kualitas

Presiden Prabowo Subianto telah meniadakan target penerima manfaat Program MBG untuk tahun berjalan. Sebelumnya, kepala negara sempat menetapkan sasaran penerima MBG mencapai 82,9 juta jiwa pada akhir 2026. Keputusan ini diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program dan tantangan yang dihadapi dalam implementasi.

Pelaksana harian (Plh) Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Agustina Arumsari, menjelaskan bahwa Presiden telah memberikan arahan untuk memperbaiki tata kelola MBG terlebih dahulu dan mengedepankan kualitas. Langkah ini menunjukkan prioritas pemerintah dalam memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan dampak nyata bagi penerima manfaat.

“Presiden sudah memberikan arahan untuk memperbaiki tata kelola MBG dulu dan mengedepankan kualitas. Jadi, kami sudah tidak memiliki target penerima manfaat,” kata Agustina Arumsari dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (21/7).

Menurut Agustina, Prabowo telah memahami bahwa pembenahan Program MBG saat ini tidak mudah. Ia menilai tata kelola program saat ini tidak baik pasca terbongkarnya kasus dugaan korupsi pengelolaan MBG oleh Kejaksaan Agung (Kejagung), bulan lalu. Kasus tersebut menjadi momentum penting untuk melakukan reformasi sistemik dalam pengelolaan program nasional.

Dia menyampaikan tugas utama BGN saat ini adalah meningkatkan kualitas penyaluran MBG kepada para penerima manfaat eksisting. Secara khusus, Prabowo menginstruksikan untuk mengutamakan kualitas penyaluran MBG di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Fokus pada daerah 3T ini sejalan dengan agenda pemerataan pembangunan nasional.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Penurunan Penerima MBG

Apa penyebab utama penurunan jumlah penerima MBG? Penurunan ini disebabkan oleh identifikasi data ganda dalam sistem pencatatan nasional, di mana satu individu tercatat sebagai penerima sebanyak dua kali.

Apakah program MBG akan dihentikan? Tidak. Program MBG tetap berjalan dengan fokus pada perbaikan tata kelola dan peningkatan kualitas penyaluran kepada penerima manfaat yang sudah ada.

Berapa total anggaran yang dialokasikan untuk MBG? Pemerintah mengalokasikan Rp 101,1 triliun dari APBN untuk Program MBG hingga akhir semester pertama tahun 2026.

Siapa saja kelompok yang menjadi penerima MBG? Penerima MBG meliputi pelajar, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang tersebar di seluruh Indonesia.

Mengapa daerah 3T menjadi prioritas? Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) memiliki akses terbatas terhadap layanan gizi, sehingga menjadi fokus utama dalam penyaluran program MBG.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program makan bergizi gratis, pembaca dapat mengunjungi [katadata.co.id/berita/nasional](https://katadata.co.id/berita/nasional/6a74b01f62d29/bgn-sebut-jumlah-penerima-mbg-berkurang-6-juta-jiwa-pada-2027).

Join the discussion