Special Plan: 5 Fakta IPO Afiliasi Grup Djarum, Bach Multi Global (BACH) Tawarkan Rp400–Rp600
Special Plan: IPO Bach Multi Global (BACH) Tawarkan Rp400–Rp600, 5 Fakta Menarik Special Plan - Dalam rangka meningkatkan kapitalisasi pasar, PT Bach Multi
Special Plan: IPO Bach Multi Global (BACH) Tawarkan Rp400–Rp600, 5 Fakta Menarik
Special Plan – Dalam rangka meningkatkan kapitalisasi pasar, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) akan menjalani proses Initial Public Offering (IPO) sebagai bagian dari Special Plan perusahaan. IPO ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Grup Djarum di sektor industri kecil dan menengah. Proses pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) direncanakan akan berlangsung pada 7 Juli 2026, dengan harga saham berkisar antara Rp400 hingga Rp600 per lembar.
Tinjauan Umum IPO BACH dan Perusahaan Tersangkut
Pada Special Plan, PT Bach Multi Global Tbk yang merupakan afiliasi dari Grup Djarum, akan menghimpun dana maksimal 615 juta saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham. Hal ini setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perusahaan setelah IPO. Emiten ini awalnya didirikan pada September 2006 dengan fokus pada genset, tetapi kini mengembangkan bisnis di dua sektor utama: distribusi dan sewa genset, serta infrastruktur telekomunikasi.
Pengelolaan Dana IPO BACH
Menurut prospektus, dana hasil IPO akan digunakan untuk membiayai sejumlah rencana pengembangan. Jika dana yang terkumpul tidak mencukupi, perseroan berencana mengandalkan sumber internal dan pinjaman dari pihak ketiga. Proforma modal menunjukkan bahwa sebagian dana akan dialokasikan untuk melunasi utang kepada PT Bank Permata Tbk, sementara sekitar Rp213,48 miliar digunakan sebagai modal kerja, khususnya untuk pembelian genset yang nantinya akan dijual atau disewakan kembali.
Sebelum IPO, PT Bach Multi Global memiliki modal dasar Rp640 miliar, terdiri dari 12,8 miliar lembar saham. Setelah penawaran umum, modal ditempatkan dan disetor penuh mencapai 3,46 miliar lembar, dengan nilai nominal total Rp173,47 miliar. Sebagai bagian dari Special Plan, perusahaan memperkenalkan anak usaha baru, PT Bach Multi Infrastruktu, yang bergerak di bidang konstruksi infrastruktur telekomunikasi. Ini memperlihatkan diversifikasi bisnis sebagai upaya meningkatkan stabilitas finansial.
Struktur Pemilikan dan Perubahan Pemegang Saham
Sebelum IPO, struktur pemilikan saham perusahaan terdiri dari beberapa pemegang. PT Bach Multi Sukses Investama menjadi pemegang saham dominan dengan kepemilikan 61,55%, atau setara 2,13 miliar lembar saham bernilai Rp106,77 miliar. Pemegang saham kedua adalah PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) dengan 30% saham, senilai Rp52,04 miliar. Sisanya terbagi di antara lima individu dengan kepemilikan kurang dari 3%.
Sebagai bagian dari Special Plan, GTP dan PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) telah menandatangani Perjanjian Opsi pada 7 Januari 2026. Perjanjian ini memberikan hak bagi GTP untuk membeli saham tertentu dari BMSI. Setelah transaksi, GTP akan menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan 51%, yang memperkuat peran strategisnya dalam pengelolaan bisnis. Harga pelaksanaan opsi akan ditentukan setelah fase bookbuilding.
Di 13 Maret 2026, GTP memutuskan untuk menggunakan hak opsi tersebut, sehingga meminta BMSI menjual 1.042.227.300 saham. Pada 18 Juni 2026, kedua pihak menandatangani perjanjian pengalihan hak suara, di mana BMSI mengalihkan 61,55% saham kepada GTP. Dengan demikian, pemilik manfaat akhir perusahaan menjadi Martin Basuki Hartono dan Victor Rachmat Hartono, tokoh utama generasi ketiga keluarga Hartono yang mengelola Grup Djarum.
“Dengan adanya Special Plan, perusahaan memperoleh kesempatan untuk meningkatkan akses ke pasar modal dan memperkuat fondasi bisnis di masa depan,” jelas proyeksi dalam dokumen IPO.
Dalam konteks ekosistem bisnis Grup Djarum, IPO ini diharapkan memberikan dampak positif pada pertumbuhan dan ekspansi usaha. Sebagai bagian dari strategi perusahaan, BACH menjadi salah satu dari lima anak usaha yang terlibat dalam Special Plan untuk meningkatkan kinerja finansial dan operasional. Pertumbuhan sektor telekomunikasi, yang merupakan bagian dari bisnis utama BACH, menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan IPO ini.
