BMKG Prediksi El Nino Bertahan hingga Awal 2027, Waspadai Potensi Karhutla
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino akan bertahan hingga awal 2027 dengan intensitas yang diperkirakan melebihi kategori
BMKG Prediksi El Nino Bertahan hingga Awal 2027
Wartanaya.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino akan bertahan hingga awal 2027 dengan intensitas yang diperkirakan melebihi kategori kuat. Fenomena iklim global ini membawa dampak signifikan bagi Indonesia, mulai dari potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga risiko kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa per akhir Juni, indeks bulanan Nino 3.4 telah mencapai angka 1,56. Angka ini melampaui ambang batas kategori kuat untuk fenomena El Nino. Indeks Nino 3.4 sendiri merupakan anomali suhu air laut di bagian tengah Samudra Pasifik yang menjadi indikator utama kondisi iklim global tersebut.
“Meskipun El Nino terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya fokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia,” kata Ardhasena dalam keterangan resmi BMKG.
Dampak Iklim dan Kesiapsiagaan Nasional
Hasil pemantauan BMKG pertengahan Juli menunjukkan bahwa 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi ini diproyeksikan akan semakin meluas ke depan. Selain itu, suhu permukaan laut di Samudra Hindia tercatat berada di angka -0,387, yang menandakan peluang kemunculan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif secara signifikan.
Kombinasi El Nino dan IOD positif berpotensi memperparah dampak iklim di Indonesia. Dampaknya meliputi penurunan curah hujan yang signifikan, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta tekanan pada produksi pangan. BMKG juga mencatat peningkatan risiko kesehatan masyarakat akibat kondisi cuaca ekstrem.
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, BMKG telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca di berbagai wilayah dengan potensi kekeringan dan karhutla tinggi. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, dan Jawa Barat. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan operasi modifikasi, pemadaman titik api di darat menjadi tumpuan utama.
Para pengelola sektor kehutanan dan kebencanaan diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Modifikasi cuaca juga telah dilakukan untuk pengisian waduk di Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah. BMKG menjadwalkan operasi serupa di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa.
Kekeringan yang mengintai Indonesia berpotensi mengancam keberlangsungan aktivitas di sektor pertanian serta sumber daya air dan energi. BMKG merekomendasikan para pelaku usaha pertanian untuk menyusun strategi jadwal awal musim tanam dan memilih varietas tanaman yang tahan kondisi kering. Sementara itu, pengelola sektor sumber daya air dan energi disarankan untuk menghitung ketersediaan air baku dan menentukan volume air bendungan.
Di sisi lain, penurunan curah hujan juga selaras dengan penurunan kualitas udara, sehingga meningkatkan potensi risiko penyakit ISPA di tengah masyarakat. BMKG juga menyiapkan mekanisme respons cepat untuk mengantisipasi potensi perubahan sebaran penyakit DBD dan malaria, serta ancaman heat-stroke akibat cuaca panas ekstrem.
Para pelaku sektor perikanan dan tambak garam juga direkomendasikan untuk mengoptimalkan produksi garam, serta memaksimalkan fenomena upwelling untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan. Dengan langkah-langkah antisipatif ini, diharapkan dampak El Nino dapat diminimalisir hingga awal 2027.
