JELI Respons Panic Selling seusai AB Jual 68 Juta Lot, Saham Sempat Anjlok 8%
JELI Respons Panic Selling seusai PT Niramas Utama Tbk (JELI) atau Inaco menghadapi tekanan jual yang signifikan dari para investor. Saham perusahaan tercatat
JELI Respons Panic Selling seusai Aksi Jual Besar-besaran
Wartanaya.com – JELI Respons Panic Selling seusai PT Niramas Utama Tbk (JELI) atau Inaco menghadapi tekanan jual yang signifikan dari para investor. Saham perusahaan tercatat anjlok hingga 8% pada perdagangan Rabu (29/7). Kejadian ini terjadi setelah sekuritas atau anggota bursa melakukan aksi jual massal sebanyak 68 juta lot saham. Reaksi pasar yang cepat terhadap informasi ini menciptakan situasi panic selling yang cukup dramatis di pasar modal Indonesia.
Volume Jual Melampaui Saham Beredar
Berdasarkan keterbukaan informasi resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Corporate Secretary Niramas Utama, Felicia Novianti Lukman, menjelaskan bahwa tekanan jual tersebut dipicu oleh munculnya penawaran jual mencapai 68 juta lot. Angka ini jauh melampaui total saham JELI yang tercatat sebanyak 12,66 juta lot. Bahkan, jika dibandingkan dengan saham beredar atau free float yang hanya sebesar 2,66 juta lot, volume jual tersebut menjadi sangat luar biasa. Kondisi ini tentu menciptakan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan di pasar.
“Sehubungan dengan kejadian tersebut, perseroan merasa dirugikan karena harga saham JELI menjadi tidak terkendali. Hal ini juga berdampak pada reputasi saham JELI,” kata Felicia, dikutip pada Jumat (31/7).
Ia juga menambahkan bahwa persepsi pasar yang negatif turut memicu tekanan jual lebih lanjut. Akibatnya, harga saham JELI bergerak tidak wajar dan tidak mencerminkan fundamental perusahaan. Peristiwa ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap volume transaksi yang tidak biasa, terutama ketika melibatkan saham dengan kapitalisasi pasar yang relatif kecil.
Klarifikasi BEI dan Dampaknya
Felicia menuturkan bahwa berdasarkan pertemuan dengan BEI pada 30 Juli 2026, pihak bursa telah melakukan klarifikasi menyeluruh. Tragedi ini bukan disebabkan oleh gangguan sistem BEI, serangan siber atau cyberattack, maupun gangguan teknis atau glitch pada sistem perdagangan bursa. Penelusuran awal BEI menunjukkan adanya kesalahan pada sistem salah satu sekuritas anggota bursa. Kesalahan tersebut mengakibatkan munculnya penawaran jual dalam jumlah yang jauh melebihi jumlah saham JELI yang tersedia.
Menurut Felicia, masalah yang ada di sistem sekuritas tersebut masih dalam proses penanganan. Pihak sekuritas terkait sedang bekerja keras untuk memperbaiki sistem dan memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Proses investigasi ini melibatkan berbagai pihak termasuk regulator dan teknologi informasi untuk mengidentifikasi akar masalah secara komprehensif.
JELI tetap berkomitmen menjalankan keterbukaan informasi sesuai prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Perusahaan juga menerapkan komunikasi yang transparan dengan investor, regulator, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Komitmen ini penting untuk membangun kepercayaan pasar dan memastikan bahwa informasi yang disampaikan akurat dan tepat waktu.
Perusahaan juga akan terus berfokus pada pengembangan usaha dan peningkatan kinerja untuk menjaga fundamental bisnis. Hal ini dilakukan di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah. Dengan strategi yang tepat, JELI berharap dapat menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan stakeholders lainnya.
“Kondisi tersebut tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha. Operasional dan fundamental perseroan tetap terjaga,” ucapnya dengan tegas. Pernyataan ini memberikan kepastian bagi investor bahwa perusahaan masih dalam kondisi sehat secara fundamental.
Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id untuk tetap update dengan perkembangan pasar modal Indonesia.
