Skip to content
Startup

GoPay Melesat, Gojek Terdampak Komisi 8%: Begini Peta Baru Bisnis GoTo

Elizabeth Anderson - wartanaya.com 3 mins read

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatatkan pencapaian luar biasa dalam kuartal kedua tahun ini. GoPay Melesat Gojek Terdampak Komisi 8 menjadi narasi utama yang

GoPay Melesat, Gojek Terdampak Komisi 8%: Begini Peta Baru Bisnis GoTo

GoPay Melesat Gojek Terdampak Komisi 8: Transformasi Ekosistem Digital Indonesia

Wartanaya.com – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatatkan pencapaian luar biasa dalam kuartal kedua tahun ini. GoPay Melesat Gojek Terdampak Komisi 8 menjadi narasi utama yang menggambarkan pergeseran dinamika bisnis di dalam ekosistem perusahaan. Divisi Fintech yang dipimpin oleh GoPay berhasil melampaui kinerja bisnis On-demand Services yang selama ini menjadi domain utama Gojek. Pencapaian bersejarah ini menjadi katalis penting bagi Perseroan untuk mencetak laba bersih selama dua periode kuartal secara berturut-turut.

Secara spesifik, pada kuartal II tahun ini, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 252 miliar. Angka ini merupakan kelanjutan dari tren positif yang telah dimulai sejak kuartal pertama ketika perusahaan berhasil meraih laba bersih Rp 171 miliar. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi bisnis yang dilakukan GoTo mulai memberikan hasil yang signifikan bagi para pemegang saham.

“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp 1 triliun untuk pertama kalinya,” ujar Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo dalam keterangan pers, Rabu (29/7).

Akselerasi Pertumbuhan dan Nilai Transaksi

Pertumbuhan perusahaan juga menunjukkan tren yang semakin positif dan konsisten. Hal ini tercermin dari peningkatan Nilai Transaksi Bruto atau Gross Transaction Value (GTV) inti yang mencapai 83% secara tahunan atau year on year (yoy), sehingga menyentuh level Rp 164 triliun. Sementara itu, pendapatan bersih juga mengalami kenaikan sebesar 31% menjadi Rp 5,7 triliun. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen terhadap layanan digital GoTo semakin meningkat.

“Kini profitabilitas bisnis fintech melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” tambah Hans.

Bisnis GoPay mencakup berbagai layanan keuangan digital yang terus berkembang pesat. Di sisi lain, Hans juga menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah dalam menurunkan besaran komisi layanan pengantaran orang roda dua atau ojol dari 20% menjadi 8% memberikan dampak signifikan terhadap operasional bisnis. Kebijakan ini menjadi faktor kunci dalam GoPay Melesat Gojek Terdampak Komisi 8 yang sedang terjadi saat ini.

“Struktur komisi ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup,” jelas Hans. Penurunan komisi ini memang memberikan tantangan tersendiri bagi Gojek, namun perusahaan telah menyiapkan strategi untuk mengatasinya.

Dampak Kebijakan Komisi terhadap Operasional Gojek

Gojek memiliki beragam layanan yang menjadi tulang punggung bisnisnya. Di antaranya terdapat pengantaran orang roda dua atau ojol Goride, pengantaran orang roda empat GoRide, pengantaran barang melalui GoSend, serta pengantaran makanan GoFood. Secara khusus, GoRide menyumbang 7% dari pendapatan bersih GoTo dan menjadi salah satu layanan yang paling terdampak oleh perubahan kebijakan ini.

“Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil,” Hans menambahkan. “Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya.”

Oleh karena itu, GoTo Gojek Tokopedia memutuskan untuk tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun. Keputusan ini menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap kemampuan perusahaan dalam menghadapi tantangan baru.

“Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar.”

Pada periode April hingga Juni 2026, lini bisnis GoPay menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih agresif dibandingkan Gojek. Secara akumulatif selama enam bulan pertama tahun 2026, bisnis Gojek masih memimpin dalam angka absolut EBITDA, namun GoPay mencatatkan persentase pertumbuhan yang sangat tajam. Hal ini memperkuat posisi GoPay sebagai penggerak utama profitabilitas perusahaan ke depan.

Seiring dengan dinamika tersebut, manajemen GoTo melakukan penyesuaian terhadap pedoman kinerja setahun penuh 2026. Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menyatakan bahwa kekuatan ekosistem yang saling menopang memungkinkan perusahaan tetap mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan di kisaran Rp 3,2 triliun – Rp 3,4 triliun untuk tahun ini. Dengan demikian, GoPay Melesat Gojek Terdampak Komisi 8 bukan hanya sekadar tren, melainkan transformasi jangka panjang yang akan membentuk masa depan bisnis digital Indonesia.

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Join the discussion